{"id":13993,"date":"2015-11-02T21:39:44","date_gmt":"2015-11-02T13:39:44","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.com\/?p=13993"},"modified":"2015-11-02T21:39:44","modified_gmt":"2015-11-02T13:39:44","slug":"anak-pedalaman-kotim-banyak-putus-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/anak-pedalaman-kotim-banyak-putus-sekolah\/","title":{"rendered":"Anak Pedalaman Kotim Banyak Putus Sekolah"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/perdagangananak181209-1resize.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-13994 size-full\" src=\"http:\/\/beritaborneo.com\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/perdagangananak181209-1resize.jpg\" alt=\"SAMBAS, 18\/12. TRAFFICKING. Tiga anak berlari melewati jalan utama menuju Pintu Lintas Batas Indonesia-Malaysia di Kecamatan Sajingan, Kabupaten Sambas, Kalbar, Kamis (17\/12). Adanya sejumlah permasalahan di daerah perbatasan selain keamanan adalah terjadinya praktek perdagangan manusia (trafficking) pada anak-anak. Hal tersebut dipicu oleh permasalahan keluarga di daerah perbatasan yaitu tidak menentunya penghasilan dan kemiskinan. FOTO ANTARA\/Jessica Wuysang\/pd\/09\" width=\"400\" height=\"596\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>KOTAWIRING TIMUR<\/strong> &#8211; Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Sutik menilai kesadaran masyarakat pedalaman daerah itu masih rendah untuk menyekolahkan anakny<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Saya katakan kesadarannya rendah karena pada umumnya anak di daerah pedalaman Kotawaringin Timur putus sekolah,&#8221; katanya di Sampit, Senin (2\/11).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dia mengatakan, sebagian besar para orang tua cukup puas anaknya tamat SD, setelah itu mereka membantu bekerja orang tua berladang atau berkebun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain kurang adanya dukung dari orang tua, alasan ekonomi juga menjadi faktor penyebab anak pedalaman putus sekolah bahkan tidak sekolah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menurut Sutik, pemerintah sudah berupaya menyiapkan infrastruktur pendidikan seperti gedung sekolah hingga ke pedalaman, namun sayangnya infrastruktur tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Saya ada menemukan sebuah sekolah di daerah pedalaman yang tidak digunakan sama sekali, bangunan itu dibiarkan kosong karena anak muridnya tidak ada,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berdasarkan keterangan warga yang ditemui, selain tidak adanya anak murid, sekolah tersebut juga tidak memiliki tenaga pengajar memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Penempatan tenaga pengajar di Kabupaten Kotawaringin Timur juga masih belum mereta, hal itu mengakibatkan sekolah pedalaman kekurangan tenaga pendidik, saya berharap pemerintah daerah dapat segera mengatasi permasalahan ini,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sutik mengatakan, masalah pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab bersama, pemerintah dan penyelenggara pendidikan itu sendiri, termasuk para orang tua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sumber daya manusia (SDM) yang rendah dapat menyebabkan kemiskinan, begitu juga dengan kemiskinan mengakibatkan mereka tidak dapat mengenyam pendidikan yang layak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Jadi, tugas pemerintah berupaya menyediakan infrastruktur bagi terselenggaranya pendidikan yang layak sebagai usaha meningkatkan kualitas SDM, dan ekonomi masyarakat di pedalaman,&#8221; ucapnya.\u00a0 [] ANT<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTAWIRING TIMUR &#8211; Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Sutik menilai kesadaran masyarakat pedalaman daerah itu masih rendah untuk menyekolahkan anakny &#8220;Saya katakan kesadarannya rendah karena pada umumnya anak di daerah pedalaman Kotawaringin Timur putus sekolah,&#8221; katanya di Sampit, Senin (2\/11). Dia mengatakan, sebagian besar para orang tua cukup puas anaknya tamat &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13994,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2259,2266],"tags":[4358,4359],"class_list":["post-13993","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah","tag-anak-sd","tag-komisi-iii-dprd"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13993","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13993"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13993\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13993"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13993"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13993"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}