{"id":141635,"date":"2025-10-04T17:05:49","date_gmt":"2025-10-04T09:05:49","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=141635"},"modified":"2025-10-04T17:05:49","modified_gmt":"2025-10-04T09:05:49","slug":"kubu-raya-tersentak-bayi-ditinggal-di-kebun-kelapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kubu-raya-tersentak-bayi-ditinggal-di-kebun-kelapa\/","title":{"rendered":"Kubu Raya Tersentak, Bayi Ditinggal di Kebun Kelapa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"48\" data-end=\"337\"><strong>KUBU RAYA<\/strong> &#8211; Bayi laki-laki malang ditemukan di kebun kelapa, ditinggalkan begitu saja tanpa belas kasihan oleh orang tuanya. Saat ditemukan, tubuh mungil itu dipenuhi luka akibat gigitan serangga dan hewan kecil bukti nyata bahwa kejamnya dunia bisa dimulai bahkan sejak seseorang baru saja lahir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"339\" data-end=\"651\">Bayi itu kini dirawat di RSUD Tuanku Besar Syarif Idrus (TBSI) Kubu Raya setelah diselamatkan oleh warga yang sedang mencari rumput di sekitar lokasi. Ironisnya, di tengah derasnya kampanye soal \u201ckasih ibu sepanjang masa\u201d dan \u201cperlindungan anak\u201d, masih ada orang tua yang tega membuang darah dagingnya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"653\" data-end=\"1025\">Direktur RSUD TBSI Kubu Raya, dr. Asep Ahmad, membenarkan bahwa bayi tersebut dibawa oleh petugas kepolisian bersama warga usai ditemukan dalam kondisi mengenaskan. \u201cBayi datang diantar petugas kepolisian dan warga yang pertama menemukan, pasca tiba bayi tersebut langsung dibersihkan oleh sejumlah perawat yang bertugas pada saat itu,\u201d ujarnya, Sabtu (04\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1027\" data-end=\"1288\">Menurut dr. Asep, saat pertama kali diperiksa, bayi menunjukkan luka di beberapa bagian tubuhnya. \u201cKondisi bayi sudah dibersihkan dan tampak beberapa luka diduga akibat gigitan serangga dan hewan kecil pada wajah, badan serta tangan dan kaki bayi,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1290\" data-end=\"1550\">Bayi tersebut kini menjalani perawatan intensif.<br data-start=\"1338\" data-end=\"1341\" \/>\u201cPasien diletakkan dalam inkubator, diberikan infus cairan, pemberian salep luka dan pelembap khusus. Karena bayi ini diletakkan di luar, kami langsung memberikan infus dan perawatan khusus,\u201d tutur dr. Asep.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1552\" data-end=\"1704\">Saat ini, kondisi bayi mulai membaik meski masih terdapat luka di jari tangan dan kaki. \u201cTidak ada demam atau gejala lain pada saat ini,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1706\" data-end=\"2062\">Namun di balik kabar medis yang menenangkan, ada ironi sosial yang mengiris nurani. Di negeri yang bangga dengan nilai kekeluargaan dan budaya gotong royong, mengapa masih ada bayi yang harus menunggu nasib di kebun kelapa? Di mana letak nurani para pelaku? Dan di mana sistem sosial yang seharusnya melindungi mereka sebelum tragedi seperti ini terjadi?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2064\" data-end=\"2399\">Setiap kali ada bayi dibuang, publik hanya marah sementara. Setelah itu, sepi lagi\u00a0 hingga bayi berikutnya ditemukan di tempat lain. Padahal, akar masalahnya tak pernah selesai: kemiskinan, ketidaktahuan, dan lemahnya penegakan hukum bagi penelantaran anak. Jika negara terus membiarkan, kasus seperti ini hanya akan terus berulang. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2064\" data-end=\"2399\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUBU RAYA &#8211; Bayi laki-laki malang ditemukan di kebun kelapa, ditinggalkan begitu saja tanpa belas kasihan oleh orang tuanya. Saat ditemukan, tubuh mungil itu dipenuhi luka akibat gigitan serangga dan hewan kecil bukti nyata bahwa kejamnya dunia bisa dimulai bahkan sejak seseorang baru saja lahir. Bayi itu kini dirawat di RSUD Tuanku Besar Syarif Idrus &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":141636,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2273,32],"tags":[3189],"class_list":["post-141635","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kabupaten-kubu-raya-sungai-raya-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-kubu-raya"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141635","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141635"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141635\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":141637,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141635\/revisions\/141637"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/141636"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}