{"id":141730,"date":"2025-10-05T10:14:47","date_gmt":"2025-10-05T02:14:47","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=141730"},"modified":"2025-10-05T10:14:47","modified_gmt":"2025-10-05T02:14:47","slug":"demokrasi-georgia-di-ujung-tanduk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/demokrasi-georgia-di-ujung-tanduk\/","title":{"rendered":"Demokrasi Georgia di Ujung Tanduk"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>TBILISI <\/strong>\u2014 Panggung politik Georgia kembali berguncang. Pemilu lokal yang digelar Sabtu (04\/10\/2025) bukan sekadar pertarungan suara, melainkan ujian bagi nasib demokrasi di negara Kaukasus itu. Di tengah pengawasan dunia internasional, partai penguasa Georgian Dream (GDP) berhasil mempertahankan dominasinya, namun kemenangan itu dibayangi oleh gelombang protes besar dan tudingan represi terhadap oposisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aksi massa yang diikuti puluhan ribu warga pecah di Alun-Alun Kemerdekaan Tbilisi, menuntut penyelamatan demokrasi dan menyerukan pengakhiran kekuasaan GDP yang telah bercokol sejak 2012. Para demonstran mengibarkan bendera Georgia dan Uni Eropa, menegaskan keinginan mereka agar negara itu tetap berpijak pada nilai-nilai demokratis Eropa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSiapa pun yang peduli dengan nasib Georgia harus turun ke jalan hari ini,\u201d seru Natela Gvakharia, 77 tahun, kepada AFP. \u201cKami di sini untuk melindungi demokrasi kami, yang sedang dihancurkan oleh Impian Georgia.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aksi yang disebut sebagai \u2018majelis nasional\u2019 itu berujung bentrok setelah massa mencoba memaksa masuk ke Istana Kepresidenan Georgia. Aparat menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kerumunan. Kementerian Dalam Negeri Georgia menyebut demonstrasi itu \u201cmelampaui norma yang ditetapkan oleh hukum.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, peringatan keras pemerintah tak menyurutkan perlawanan rakyat. \u201cKekuasaan harus kembali ke tangan rakyat,\u201d orasi Paata Burchuladze, mantan bintang opera yang kini menjadi ikon perlawanan, sambil menyebut pemerintahan saat ini \u201ctidak sah\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, Perdana Menteri Irakli Kobakhidze menegaskan bahwa setiap upaya \u2018revolusi\u2019 akan digagalkan. Ia menuduh penyelenggara aksi terlibat dalam \u201cradikalisme\u201d dan memperingatkan bahwa \u201cbanyak orang mungkin akan dipenjara.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski GDP mengklaim kemenangan telak dengan menguasai lebih dari 80 persen suara di hampir seluruh kotamadya, hasil itu justru memperdalam krisis kepercayaan publik. Uni Eropa bahkan menilai proses politik Georgia sebagai \u201cterjebak dalam stagnasi\u201d, menyusul laporan penangkapan terhadap sekitar 60 jurnalis, aktivis, dan tokoh oposisi selama setahun terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti dilaporkan Amnesty International, pemilu kali ini \u201cberlangsung di tengah pembalasan politik yang parah terhadap tokoh-tokoh oposisi dan masyarakat sipil.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi banyak warga Georgia, pemilu lokal bukan lagi tentang siapa yang menang, melainkan tentang apakah demokrasi di negeri itu masih punya masa depan. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TBILISI \u2014 Panggung politik Georgia kembali berguncang. Pemilu lokal yang digelar Sabtu (04\/10\/2025) bukan sekadar pertarungan suara, melainkan ujian bagi nasib demokrasi di negara Kaukasus itu. Di tengah pengawasan dunia internasional, partai penguasa Georgian Dream (GDP) berhasil mempertahankan dominasinya, namun kemenangan itu dibayangi oleh gelombang protes besar dan tudingan represi terhadap oposisi. Aksi massa yang &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":141731,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[7,2254],"tags":[],"class_list":["post-141730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-breaking-news","category-berita-internasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141730"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":141732,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141730\/revisions\/141732"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/141731"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}