{"id":141942,"date":"2025-10-06T11:07:40","date_gmt":"2025-10-06T03:07:40","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=141942"},"modified":"2025-10-06T11:07:40","modified_gmt":"2025-10-06T03:07:40","slug":"kunjungan-seremonial-janji-kosong-di-perbatasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kunjungan-seremonial-janji-kosong-di-perbatasan\/","title":{"rendered":"Kunjungan Seremonial, Janji Kosong di Perbatasan!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"530\"><strong>NUNUKAN<\/strong> \u2013 Kunjungan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya bersama anggota Komisi II DPR RI Deddy Sitorus ke Sebatik, Kabupaten Nunukan, Sabtu (04\/10\/2025), yang semestinya membawa harapan, justru meninggalkan kekecewaan mendalam di wilayah perbatasan.<br data-start=\"278\" data-end=\"281\" \/>Alih-alih menghadirkan solusi konkret terkait nasib Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik yang menelan dana lebih dari Rp200 miliar, kunjungan itu malah memicu kemarahan warga dan berujung pada penyegelan gerbang PLBN oleh masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"532\" data-end=\"838\">Fasilitas PLBN yang berdiri megah sejak diresmikan Presiden Jokowi pada Rabu (02\/10\/2024) itu hingga kini tak juga difungsikan. Bangunan yang digadang-gadang sebagai simbol kemegahan perbatasan Indonesia-Malaysia itu kini berubah menjadi monumen kemacetan birokrasi dan janji yang tak pernah ditepati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"840\" data-end=\"1038\">\u201cSudah berkali-kali pejabat datang, tapi hasilnya nihil. Kami hanya dijadikan latar belakang foto kunjungan,\u201d tegas Dedy Kamsidi, koordinator aksi demonstrasi warga Sebatik, Sabtu (04\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1040\" data-end=\"1281\">Kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Sejak peresmian, tidak ada kepastian kapan PLBN benar-benar beroperasi. Padahal, keberadaannya vital bagi aktivitas ekonomi dan lintas batas warga Sebatik yang selama ini masih bergantung pada Malaysia. \u201cKami akan segel PLBN sampai ada kepastian. Anak-anak perbatasan ingin suaranya didengar, bukan sekadar dijanjikan,\u201d ujar Isyak, perwakilan pemuda Sebatik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1446\" data-end=\"1696\">Nada serupa disampaikan oleh kalangan legislatif daerah. Anggota DPRD Nunukan Hamsing mengaku kecewa karena dialog dengan pejabat pusat saat kunjungan berlangsung terburu-buru, seolah-olah perbatasan hanya sekadar persinggahan, bukan prioritas. \u201cBaru saya Assalamualaikum, sudah dibilang singkat saja. Katanya, tolong jangan lama-lama, karena Wamen mau cepat-cepat kembali ke Jakarta,\u201d ujarnya kesal, Minggu (05\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1877\" data-end=\"2306\">Sementara Ketua Komisi I DPRD Nunukan Andi Mulyono menilai, mangkraknya PLBN Sebatik merupakan bentuk pemborosan anggaran negara. \u201cLebih dari Rp200 miliar uang rakyat habis, tapi sampai sekarang tidak dimanfaatkan. Ini jelas merugikan keuangan negara,\u201d tegasnya. Ia juga meminta Presiden Prabowo Subianto turun tangan dan memerintahkan audit serta penegakan hukum terhadap pihak yang terlibat dalam proyek tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2308\" data-end=\"2526\">Tak hanya warga dan wakil rakyat, wartawan lokal pun ikut menyuarakan kekecewaan. Ketua PWI Nunukan Taslee mengungkapkan kekecewaan karena awak media daerah tak dilibatkan dalam peliputan kegiatan Wamendagri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2528\" data-end=\"2898\">\u201cTidak ada rundown kunjungan Wamendagri yang dibagikan ke wartawan daerah. Kami tidak tahu kegiatan beliau di Sebatik. Padahal akses ke sini sulit, lewat laut dan darat,\u201d ujarnya. Ia menilai perlakuan yang diberikan kepada jurnalis lokal mencerminkan ketimpangan informasi yang ironis, mengingat pejabat datang membawa nama rakyat tapi justru menutup ruang publik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2900\" data-end=\"3094\">\u201cBeliau ke lapangan dalam rangka tugas negara, dibiayai negara, dan membawa harapan rakyat perbatasan. Seyogianya dialognya maksimal dan disertai kepastian kapan PLBN dioperasikan,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3096\" data-end=\"3333\">Menanggapi polemik itu, Deddy Sitorus menyebut persoalan PLBN Sebatik akan ditindaklanjuti melalui Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Namun, masyarakat Sebatik sudah terlalu sering mendengar janji serupa tanpa bukti nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3335\" data-end=\"3521\">Kini, gedung PLBN yang berdiri kokoh di tengah pulau perbatasan itu justru menjadi simbol politik pencitraan dan pembangunan setengah hati\u00a0megah di foto, tapi kosong dari fungsi. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3335\" data-end=\"3521\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NUNUKAN \u2013 Kunjungan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya bersama anggota Komisi II DPR RI Deddy Sitorus ke Sebatik, Kabupaten Nunukan, Sabtu (04\/10\/2025), yang semestinya membawa harapan, justru meninggalkan kekecewaan mendalam di wilayah perbatasan.Alih-alih menghadirkan solusi konkret terkait nasib Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik yang menelan dana lebih dari Rp200 miliar, kunjungan itu &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":141943,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[27,2248],"tags":[2500],"class_list":["post-141942","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-utara-kaltara","category-kabupaten-nunukan-provinsi-kalimantan-utara","tag-nunukan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141942"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141942\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":141944,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141942\/revisions\/141944"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/141943"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}