{"id":142146,"date":"2025-10-07T15:19:09","date_gmt":"2025-10-07T07:19:09","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=142146"},"modified":"2025-10-07T15:19:09","modified_gmt":"2025-10-07T07:19:09","slug":"digitalisasi-gagal-pasien-pelosok-jadi-korban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/digitalisasi-gagal-pasien-pelosok-jadi-korban\/","title":{"rendered":"Digitalisasi Gagal, Pasien Pelosok Jadi Korban"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"218\" data-end=\"578\"><strong>BERAU<\/strong> \u2013 Direktur RSUD dr. Abdul Rivai, Joesram, Selasa (07\/10\/2025), mengakui bahwa pelayanan kesehatan di rumah sakit terbesar Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, belum berjalan maksimal. Masalah utama yang dihadapi adalah penerapan sistem teknologi informasi (IT) dan digitalisasi layanan kesehatan, yang hingga kini masih tersendat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"580\" data-end=\"1098\">Menurut Joesram, digitalisasi layanan kesehatan memang menjadi kebutuhan wajib, namun keterbatasan sumber daya manusia (SDM) IT yang mumpuni masih menjadi penghalang serius, khususnya di daerah terpencil. \u201cDi sistem IT dan digitalisasi, itu kan sesuatu yang baru dan wajib. Kelemahan kami juga ada pada mencari orang IT yang bagus, apalagi di luar daerah. Standar gaji mereka cukup tinggi, sehingga sulit untuk mendapatkan yang benar-benar bisa terjangkau,\u201d ungkap Joesram, Selasa (07\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1100\" data-end=\"1432\">Saat ini, RSUD dr. Abdul Rivai masih mengandalkan pihak ketiga untuk mengelola sistem IT. Namun, solusi ini belum optimal, dan menurut Joesram, penyelesaian setengah hati justru bisa menghabiskan anggaran tanpa hasil signifikan. \u201cKalau hanya parsial, justru bisa menghabiskan banyak anggaran tanpa hasil signifikan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1434\" data-end=\"1918\">Selain keterbatasan SDM, masalah lain muncul pada sinkronisasi sistem dengan BPJS Kesehatan. Menurut Joesram, proses integrasi atau bridging data antara rumah sakit dengan BPJS memakan waktu hingga setahun. \u201cIni yang menjadi salah satu penyebab pelayanan digital belum berjalan mulus, terutama soal kepastian antrian pasien,\u201d katanya. Lambannya proses ini kerap menimbulkan keluhan masyarakat, karena data pasien tidak langsung terbaca atau antrian tidak terkonfirmasi secara cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1920\" data-end=\"2527\">Pengakuan ini sekaligus menyoroti ketergantungan RSUD dr. Abdul Rivai pada pihak eksternal dan kurangnya persiapan internal, sehingga transformasi digital menjadi lamban dan tidak efektif. Meski menghadapi tantangan, Joesram menegaskan rumah sakit tetap berkomitmen memperbaiki layanan digital. \u201cKami akui masih ada kekurangan yang menjadi hambatan dalam pelayanan. Namun kami terus berbenah. Karena bagaimanapun, rumah sakit ini sudah menjadi tempat ribuan nyawa terselamatkan, sehingga peningkatan layanan, termasuk di bidang teknologi, menjadi prioritas kami ke depan,\u201d ujarnya, Selasa (07\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2529\" data-end=\"2809\">Kritik yang muncul dari fakta ini adalah bahwa pelayanan kesehatan publik tetap terhambat karena kurangnya SDM IT, sistem yang lamban, dan ketergantungan pada solusi sementara, padahal masyarakat membutuhkan kepastian dan efisiensi layanan setiap hari, bukan janji bertahap. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2529\" data-end=\"2809\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BERAU \u2013 Direktur RSUD dr. Abdul Rivai, Joesram, Selasa (07\/10\/2025), mengakui bahwa pelayanan kesehatan di rumah sakit terbesar Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, belum berjalan maksimal. Masalah utama yang dihadapi adalah penerapan sistem teknologi informasi (IT) dan digitalisasi layanan kesehatan, yang hingga kini masih tersendat. Menurut Joesram, digitalisasi layanan kesehatan memang menjadi kebutuhan wajib, namun &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":142147,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[478,26],"tags":[82],"class_list":["post-142146","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-berau","category-kalimantan-timur-kaltim","tag-berau"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142146","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=142146"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142146\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":142148,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142146\/revisions\/142148"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/142147"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=142146"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=142146"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=142146"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}