{"id":142360,"date":"2025-10-09T11:30:21","date_gmt":"2025-10-09T03:30:21","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=142360"},"modified":"2025-10-09T11:30:21","modified_gmt":"2025-10-09T03:30:21","slug":"karhutla-langganan-solusi-nihil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/karhutla-langganan-solusi-nihil\/","title":{"rendered":"Karhutla Langganan, Solusi Nihil"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"125\" data-end=\"351\"><strong>BANJARBARU<\/strong> &#8211; Hujan sudah turun, tapi bukan berarti bencana ikut reda. Warga di kawasan Pengayuan, Kecamatan Liang Anggang, justru kembali dihadapkan pada kenyataan pahit: tanah mereka tetap terbakar meski langit sudah basah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"353\" data-end=\"554\">Rabu (08\/10\/2025) sore, kepulan asap kembali menggulung kawasan Jalan Ahmad Yani, Kilometer 25. Api melahap semak belukar dan merayap cepat, membuat warga terpaksa kembali menghirup udara bercampur jelaga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"556\" data-end=\"831\">Kejadian ini bukan hal baru. Warga bahkan sudah bisa menebak kapan bencana akan datang. \u201cDi sini kalau kemarau sering terbakar, tapi saat musim hujan justru kebanjiran,\u201d kata Mukti, warga Pengayuan yang terdengar lelah dengan rutinitas bencana yang seolah tak ada ujungnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"833\" data-end=\"1061\">Ironisnya, kebakaran lahan kali ini terjadi hanya sehari setelah insiden serupa di Kelurahan Landasan Ulin Selatan, RT 2, Selasa (07\/10\/2025). Api saat itu nyaris menjilat rumah warga sebelum akhirnya bisa dikendalikan tim gabungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1063\" data-end=\"1383\">Ketua Pengayuan Rescue, Hendra, menyebut kondisi lahan rawa di sana memang belum sepenuhnya pulih dari musim kemarau panjang. \u201cKondisinya belum benar-benar basah. Lahan rawa masih kering sisa musim kemarau kemarin. Jadi meskipun hujan turun, kalau sehari saja panas terik, besar kemungkinan titik api muncul,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1385\" data-end=\"1659\">Namun yang lebih mengkhawatirkan, pola kebakaran berulang ini tidak hanya soal cuaca. Tidak ada upaya serius dari pihak berwenang untuk menekan potensi karhutla sejak dini. Patroli minim, kanal air banyak yang tersumbat, dan lahan gambut dibiarkan kering tanpa pengawasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1661\" data-end=\"1841\">Ketika titik api muncul di siang hari, petugas baru bergerak setelah asap menebal. \u201cKebanyakan muncul di tengah rawa, tapi angin kencang bikin api cepat merembet,\u201d terang Hendra.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1843\" data-end=\"2097\">Upaya pemadaman selalu berujung ke cerita lama: kerja keras relawan melawan api hingga malam hari tanpa peralatan memadai. Tim gabungan dari Pengayuan Rescue, BPBD Banjarbaru, Manggala Agni, dan relawan lain harus berjibaku dengan sumber daya terbatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2099\" data-end=\"2372\">Meski warga berkali-kali meminta langkah pencegahan, yang datang selalu setelah bencana terjadi. Hujan seolah hanya jadi alasan untuk menunda tanggung jawab. Di Pengayuan, kebakaran sudah seperti ritual tahunan\u00a0 dan sayangnya, belum ada yang benar-benar belajar darinya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2099\" data-end=\"2372\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANJARBARU &#8211; Hujan sudah turun, tapi bukan berarti bencana ikut reda. Warga di kawasan Pengayuan, Kecamatan Liang Anggang, justru kembali dihadapkan pada kenyataan pahit: tanah mereka tetap terbakar meski langit sudah basah. Rabu (08\/10\/2025) sore, kepulan asap kembali menggulung kawasan Jalan Ahmad Yani, Kilometer 25. Api melahap semak belukar dan merayap cepat, membuat warga terpaksa &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":142361,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2279,2276],"tags":[7846],"class_list":["post-142360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-banjarbaru-provinsi-kalimantan-selatan","category-kalimantan-selatan-kalsel","tag-banjarbaru"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=142360"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142360\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":142362,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142360\/revisions\/142362"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/142361"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=142360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=142360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=142360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}