{"id":142642,"date":"2025-10-10T15:31:14","date_gmt":"2025-10-10T07:31:14","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=142642"},"modified":"2025-10-10T15:31:14","modified_gmt":"2025-10-10T07:31:14","slug":"warga-panik-buaya-santai-di-permukiman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/warga-panik-buaya-santai-di-permukiman\/","title":{"rendered":"Warga Panik, Buaya Santai di Permukiman"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"460\"><strong>KOTAWARINGIN TIMUR<\/strong> \u2013 Kepanikan melanda warga Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), setelah seekor buaya berukuran sekitar tiga meter muncul di permukiman warga, Kamis (09\/10\/2025) malam. Namun, di balik kejadian itu tersimpan persoalan serius yang selama ini diabaikan: semakin dekatnya habitat satwa liar dengan pemukiman akibat rusaknya ekosistem sungai dan minimnya upaya mitigasi dari pemerintah daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"462\" data-end=\"716\">Video berdurasi 43 detik yang beredar luas di media sosial memperlihatkan buaya besar berdiam di pinggir jalan tepat di depan rumah warga. Hewan buas itu tidak bergerak lama, sementara suara warga yang panik dan heran terdengar jelas dalam rekaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"718\" data-end=\"970\">\u201cBuaya di muka rumah, dari tadi. Makanya kami jauh-jauh sini,\u201d terdengar suara seorang perempuan dalam video tersebut. Belakangan diketahui, perempuan itu adalah Rusmawati atau akrab disapa Acil Irus, warga RT 03, RW 01, Desa Bapinang Hulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"972\" data-end=\"1185\">Saat dikonfirmasi, Rusmawati membenarkan bahwa rekaman itu dibuat oleh dirinya sendiri. \u201cBuayanya diam di jalan depan rumah, dari jam delapan sampai jam sembilan malam baru pergi,\u201d ujarnya, Jumat (10\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1187\" data-end=\"1495\">Ia menuturkan, buaya baru meninggalkan lokasi setelah ramai warga berdatangan dan menyalakan lampu. Namun yang mengejutkan, kemunculan buaya bukanlah hal baru bagi warga. \u201cKalau muncul atau terlihat hampir tiap hari, tapi yang naik ke darat baru kali ini. Kalau di hilirnya memang sering naik,\u201d bebernya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1497\" data-end=\"1833\">Fenomena ini menunjukkan bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar di daerah pesisir Kotim semakin meningkat. Aktivitas tambak, perluasan lahan, serta menurunnya kualitas habitat alami di bantaran sungai diduga menjadi pemicu buaya kehilangan ruang hidupnya. Sayangnya, kondisi tersebut belum direspons cepat oleh pihak berwenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1835\" data-end=\"1988\">\u201cKalau di desa kami belum pernah (ada yang diserang), tapi kalau di Desa Pulau Hanaut sudah beberapa kali ada kejadian warga diserang,\u201d kata Rusmawati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1990\" data-end=\"2249\">Meski warga bersyukur belum ada korban, rasa cemas kian meningkat. Apalagi anak-anak kerap bermain di sekitar tepi sungai. \u201cMudah-mudahan ada solusi dari pemerintah untuk daerah kami. Soalnya buaya sering muncul, ada yang besar, ada yang kecil,\u201d harapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2251\" data-end=\"2627\">Sayangnya, hingga kini belum ada langkah nyata dari instansi terkait, termasuk BKSDA maupun pemerintah daerah, untuk memasang rambu peringatan, melakukan patroli rutin, atau relokasi buaya yang sering terlihat. Padahal, kasus serupa telah beberapa kali terjadi di Kotim, dan hampir selalu berakhir dengan kekhawatiran warga yang dibiarkan tanpa perlindungan berarti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2629\" data-end=\"2843\">Sementara itu, sebagian warga berpendapat bahwa kemunculan buaya justru menjadi peringatan bagi pemerintah agar segera memperbaiki tata kelola kawasan pesisir dan tidak hanya menunggu korban jatuh baru bertindak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2845\" data-end=\"3202\">Kejadian di Bapinang Hulu ini menjadi cermin lemahnya sistem mitigasi konflik satwa di daerah-daerah pesisir Kalimantan. Ketika buaya mulai naik ke darat dan bersantai di depan rumah warga, itu bukan lagi sekadar kisah unik untuk diviralkan, melainkan sinyal bahaya bahwa keseimbangan alam telah terganggu dan pemerintah tampak masih gagap menanganinya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2845\" data-end=\"3202\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTAWARINGIN TIMUR \u2013 Kepanikan melanda warga Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), setelah seekor buaya berukuran sekitar tiga meter muncul di permukiman warga, Kamis (09\/10\/2025) malam. Namun, di balik kejadian itu tersimpan persoalan serius yang selama ini diabaikan: semakin dekatnya habitat satwa liar dengan pemukiman akibat rusaknya ekosistem sungai dan minimnya &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":142645,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2259,2266],"tags":[8824],"class_list":["post-142642","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah","tag-kotawaringin-timur"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142642","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=142642"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142642\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":142646,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142642\/revisions\/142646"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/142645"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=142642"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=142642"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=142642"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}