{"id":143006,"date":"2025-10-11T14:28:56","date_gmt":"2025-10-11T06:28:56","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=143006"},"modified":"2025-10-11T14:28:56","modified_gmt":"2025-10-11T06:28:56","slug":"program-mulia-risiko-nyata-dapur-mbg-belum-halal-higienis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/program-mulia-risiko-nyata-dapur-mbg-belum-halal-higienis\/","title":{"rendered":"Program Mulia, Risiko Nyata: Dapur MBG Belum Halal &#038; Higienis"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BONTANG<\/strong> \u2014 Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang, yang sejatinya bertujuan memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi seimbang, kini memicu kekhawatiran baru di kalangan orang tua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah utama yang mencuat adalah belum adanya sertifikat laik higienis sanitasi (SLHS) maupun sertifikat halal untuk seluruh dapur penyedia MBG. Dua dokumen tersebut menjadi syarat mutlak demi menjamin keamanan dan kelayakan makanan yang disajikan untuk anak-anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cProgramnya bagus, kami dukung. Tapi soal sertifikat layak itu harusnya wajib. Bahaya kalau tidak dipenuhi,\u201d ujar Maya Aqila Fina, salah satu orang tua murid, Jumat (10\/10\/2025). Maya menceritakan pengalamannya, ketika anak sekolahnya menemukan ulat di sayur MBG. \u201cAnak itu cuma makan ayam sama nasi, tapi besoknya malah sakit,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kejadian serupa membuat guru-guru lebih waspada. Darmawati, salah satu guru SMA swasta di Bontang, mengatakan mereka rutin mengingatkan siswa agar memeriksa makanan sebelum disantap. \u201cKalau makanannya tidak layak, lebih baik jangan dimakan. Tapi Alhamdulillah, sejauh ini masih aman,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Aspianur, membenarkan bahwa belum ada dapur MBG yang mengajukan sertifikasi. Penerbitan SLHS memang berada di bawah kewenangan DPMPTSP, tetapi membutuhkan rekomendasi teknis dari Dinas Kesehatan. \u201cSesuai hasil rapat, kami akan segera turun langsung meninjau lima SPPG tersebut,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rahmat Fadly, orang tua lainnya, menegaskan pentingnya sertifikat halal dan higienis. \u201cIni wajib, apalagi kita mayoritas muslim. Dapur MBG banyak orangnya, dan tidak semua juru masaknya muslim. Jadi kepastian halal itu penting,\u201d tegasnya. Rahmat juga meminta agar sebelum dapur beroperasi penuh, dilakukan simulasi proses pengolahan dan distribusi makanan agar kendala bisa diketahui lebih awal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agustina, warga lain, menyoroti seleksi penyedia dapur MBG yang dinilainya kurang ketat. \u201cMasa program pemerintah tapi pakai dapur yang belum bersertifikat. Kesannya asal pilih, yang penting kenal. Takutnya yang masak belum terbiasa masak dalam jumlah besar. Bisa berantakan jadinya,\u201d keluhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sertifikat halal dan SLHS bukan sekadar formalitas. Keduanya menjamin anak-anak menerima makanan yang aman, bersih, dan sesuai syariat. \u201cIni bukan soal birokrasi. Ini soal tanggung jawab dan kepercayaan. Kami cuma ingin anak-anak makan dengan aman dan tenang,\u201d tutup Rahmat. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONTANG \u2014 Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang, yang sejatinya bertujuan memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi seimbang, kini memicu kekhawatiran baru di kalangan orang tua. Masalah utama yang mencuat adalah belum adanya sertifikat laik higienis sanitasi (SLHS) maupun sertifikat halal untuk seluruh dapur penyedia MBG. Dua dokumen tersebut menjadi syarat mutlak demi &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":143007,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[475,17,26],"tags":[],"class_list":["post-143006","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-bontang","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143006","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=143006"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143006\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":143008,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143006\/revisions\/143008"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/143007"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=143006"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=143006"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=143006"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}