{"id":143127,"date":"2025-10-12T10:15:03","date_gmt":"2025-10-12T02:15:03","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=143127"},"modified":"2025-10-12T10:15:03","modified_gmt":"2025-10-12T02:15:03","slug":"kayu-hanyut-dibiarkan-penumpang-jadi-taruhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kayu-hanyut-dibiarkan-penumpang-jadi-taruhan\/","title":{"rendered":"Kayu Hanyut Dibiarkan, Penumpang Jadi Taruhan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"363\"><strong>TANA TIDUNG<\/strong> \u2013 Sungai Sesayap di Kabupaten Tana Tidung kembali menjadi sorotan. Aliran sungai yang menjadi nadi transportasi masyarakat Kalimantan Utara itu kini dipenuhi limbah kayu hanyut dan batang besar yang membahayakan keselamatan pelayaran. Namun, ironisnya, kondisi ini terus berulang tanpa penanganan serius dari pemerintah maupun lembaga berwenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"365\" data-end=\"598\">Bagi warga, situasi ini bukan sekadar keluhan, melainkan ancaman nyata. Salah satu penumpang speedboat, Erna, menuturkan ketakutannya saat menumpang dari Pelabuhan Keramat Tideng Pale menuju Tarakan pada Sabtu (11\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"365\" data-end=\"598\">\u201cKita takut juga kalau tiba-tiba kena kayu besar, karena kan bisa saja nabrak atau nyangkut di baling-baling speedboat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"761\" data-end=\"1033\">Meski khawatir, Erna tetap harus menempuh jalur air karena tak ada alternatif transportasi darat. Ketakutannya makin beralasan setelah insiden Senin (22\/09\/2025), ketika speedboat <em data-start=\"944\" data-end=\"963\">Malinau Express 8<\/em> menabrak batang kayu di perairan Sesayap dan nyaris menelan korban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"761\" data-end=\"1033\">\u201cBaru-baru ini kan ada speedboat yang kecelakaan karena kena kayu di sungai, itu bikin saya tambah takut apalagi kalau arus deras, kayu itu bisa datang tiba-tiba,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1214\" data-end=\"1434\">Kecelakaan bukan kali pertama. Warga pun berharap agar Sungai Sesayap tidak hanya dibersihkan \u201csekali dalam setahun\u201d, melainkan dijaga rutin agar tak lagi menjadi \u201ckuburan terapung\u201d bagi batang kayu dari hulu ke hilir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1436\" data-end=\"1636\">Namun, hingga kini, tindakan nyata pemerintah nyaris tak terlihat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tana Tidung, Mashuri, mengakui keterbatasan pihaknya dalam menangani limbah kayu di sungai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1436\" data-end=\"1636\">\u201cKalau di darat asal ada alat pasti kami kerjakan, tapi kalau posisinya di air kami agak susah. Pasti butuh alat berat, apalagi kalau kayu yang nancap di dasar sungai itu biasanya besar,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1840\" data-end=\"1975\">Ia juga menyebut tanggung jawab utama seharusnya berada pada Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V, bukan pemerintah kabupaten. \u201cPadahal kewenangan kami tidak sampai ke sana, kami boleh bersihkan tempat kami tapi untuk memerintah kabupaten lain kan tidak mungkin. BWS yang lebih berwenang di situ,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2162\" data-end=\"2440\">Mashuri menuturkan, tahun sebelumnya DLH Tana Tidung bersama sejumlah perusahaan sempat melakukan kerja bakti membersihkan sungai di Kecamatan Sesayap Hilir. Namun hasilnya tak seberapa. Arus deras, risiko tinggi, dan volume limbah yang terus datang membuat upaya itu sia-sia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2162\" data-end=\"2440\">\u201cTahun kemarin sempat kita kerja bakti bersihkan Sungai Sesayap di Kecamatan Sesayap Hilir dengan melibatkan perusahaan. Tapi ternyata itu pun kami tidak sanggup,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2621\" data-end=\"2688\">DLH kini berencana kembali menyurati BWS agar ada tindakan nyata. \u201cUntuk mencegah kecelakaan transportasi air kembali terjadi, kami akan surati lagi BWS agar segera ada tindak lanjutnya,\u201d kata Mashuri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2830\" data-end=\"3171\">Sungai Sesayap yang melintasi Tana Tidung, Malinau, dan Nunukan menjadi urat nadi bagi ribuan warga. Tapi tanpa kesigapan pemerintah, sungai ini justru menjadi ancaman yang mengintai setiap perahu dan penumpang yang melintas. Setiap batang kayu yang hanyut adalah simbol dari kelalaian pengawasan dan lemahnya koordinasi antarinstansi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3173\" data-end=\"3302\">Jika tak segera ditangani, kecelakaan seperti pada 22 September 2025 bukan hanya akan terulang\u00a0 tapi bisa berujung tragis. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3173\" data-end=\"3302\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TANA TIDUNG \u2013 Sungai Sesayap di Kabupaten Tana Tidung kembali menjadi sorotan. Aliran sungai yang menjadi nadi transportasi masyarakat Kalimantan Utara itu kini dipenuhi limbah kayu hanyut dan batang besar yang membahayakan keselamatan pelayaran. Namun, ironisnya, kondisi ini terus berulang tanpa penanganan serius dari pemerintah maupun lembaga berwenang. Bagi warga, situasi ini bukan sekadar keluhan, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":143128,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[27,2283],"tags":[9824],"class_list":["post-143127","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-utara-kaltara","category-kabupaten-tana-tidung-provinsi-kalimantan-utara","tag-tana-tidung"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143127","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=143127"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143127\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":143129,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143127\/revisions\/143129"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/143128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=143127"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=143127"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=143127"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}