{"id":143818,"date":"2025-10-16T09:35:27","date_gmt":"2025-10-16T01:35:27","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=143818"},"modified":"2025-10-16T09:35:27","modified_gmt":"2025-10-16T01:35:27","slug":"mencari-cacing-mendapat-celaka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/mencari-cacing-mendapat-celaka\/","title":{"rendered":"Mencari Cacing, Mendapat Celaka"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"360\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"15\">YOGYAKARTA<\/strong> \u2014 Di tengah kisah pilu kehidupan warga pedesaan, insiden yang menimpa Kartilah (65) di Ngawis, Karangmojo, Gunungkidul, menjadi potret getir dari lemahnya perhatian terhadap keselamatan warga lanjut usia di daerah. Nenek itu terjatuh dan terjebak di dalam septic tank sedalam tiga meter ketika hendak memanen cacing pada Minggu (12\/10\/2025) siang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"362\" data-end=\"762\">Kepala UPT Damkarmat Gunungkidul, Handoko, menjelaskan, \u201cLalu korban melewati septic tank yang tutupnya sudah lapuk dan saat diinjak malah tercebur ke dalam septic tank,\u201d kata Handoko pada Rabu (15\/10\/2025). Ia menambahkan, posisi korban bahkan sempat tertimpa beton penutup yang ambrol bersamaan. \u201cSaat tercebur posisi korban juga tertimpa beton penutup septic tank,\u201d ujarnya pada 15 Oktober 2025.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"764\" data-end=\"1205\">Beruntung, petugas Damkarmat segera tiba di lokasi dan melakukan evakuasi. \u201cSampai di lokasi korban langsung dievakuasi dan kondisinya selamat meski mengalami luka-luka lecet,\u201d tutur Handoko. Namun di balik kisah \u201ckeberuntungan\u201d itu, ada pertanyaan yang patut diajukan: mengapa seorang lansia harus bekerja sendirian di lingkungan yang tak aman, dengan infrastruktur rumah tangga yang lapuk dan tak pernah diperiksa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1207\" data-end=\"1619\">Tragedi yang nyaris merenggut nyawa ini mengungkap realitas getir di banyak desa: sanitasi rumah warga sering luput dari perhatian, sementara warga lanjut usia dibiarkan menghadapi risiko tanpa perlindungan yang layak. Banyak septic tank di pedesaan dibangun seadanya tanpa pengawasan teknis, bahkan tanpa penutup beton yang aman. Ketika usia bangunan melewati puluhan tahun, keruntuhan tinggal menunggu waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1621\" data-end=\"1930\">Fenomena ini semestinya menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Bukan sekadar untuk memperbaiki satu septic tank yang lapuk, melainkan untuk mengevaluasi sistem keselamatan rumah tangga di wilayah pedesaan terutama bagi warga lanjut usia yang kerap hidup sendiri dan tetap bekerja keras demi bertahan hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1932\" data-end=\"2248\">Nenek Kartilah memang selamat, tapi peristiwa ini menelanjangi kelalaian sistemik. Di tengah geliat pembangunan dan program kesejahteraan sosial yang digembar-gemborkan, fakta bahwa seorang nenek harus mencari cacing untuk dijual, lalu hampir tewas karena infrastruktur rapuh, adalah ironi yang tak bisa diabaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2250\" data-end=\"2519\">Keselamatan warga, terutama lansia, tidak seharusnya bergantung pada keberuntungan. Ketika struktur sederhana seperti penutup septic tank saja tak aman, maka pertanyaannya bukan lagi \u201cmengapa dia terjatuh\u201d, melainkan \u201cmengapa tak ada yang memastikan itu tak terjadi?\u201d []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2250\" data-end=\"2519\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYAKARTA \u2014 Di tengah kisah pilu kehidupan warga pedesaan, insiden yang menimpa Kartilah (65) di Ngawis, Karangmojo, Gunungkidul, menjadi potret getir dari lemahnya perhatian terhadap keselamatan warga lanjut usia di daerah. Nenek itu terjatuh dan terjebak di dalam septic tank sedalam tiga meter ketika hendak memanen cacing pada Minggu (12\/10\/2025) siang. Kepala UPT Damkarmat Gunungkidul, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":143819,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,35,9320],"tags":[8664],"class_list":["post-143818","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-nasional","category-yogyakarta","tag-yogyakarta"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143818","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=143818"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143818\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":143820,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143818\/revisions\/143820"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/143819"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=143818"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=143818"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=143818"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}