{"id":144149,"date":"2025-10-17T09:51:05","date_gmt":"2025-10-17T01:51:05","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=144149"},"modified":"2025-10-17T09:51:05","modified_gmt":"2025-10-17T01:51:05","slug":"mbg-berlendir-di-banjarbaru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/mbg-berlendir-di-banjarbaru\/","title":{"rendered":"MBG Berlendir di Banjarbaru"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"333\"><strong>BANJARBARU<\/strong> \u2013 Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi wujud kepedulian terhadap kesehatan anak sekolah, justru kembali menimbulkan tanda tanya besar soal pengawasan dan tanggung jawab pemerintah daerah. Kamis (16\/10\/2025), makanan MBG untuk 544 murid SDN 1 Loktabat Utara diduga basi sebelum sempat dibagikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"335\" data-end=\"686\">Kepala Sekolah Muhammad Muhransyah mengatakan, menu yang disiapkan terdiri atas mi kuning, telur rebus, stik tempe, dan buah lengkeng. Namun, saat diperiksa di ruang transit, sejumlah makanan sudah berbau dan berlendir. \u201cDi ruang transit, petugas MBG di sekolah menemukan adanya makanan yang terindikasi basi karena berbau dan berlendir,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"688\" data-end=\"991\">Akhirnya, makanan itu tidak dibagikan kepada murid. \u201cHanya buah yang dibagikan kepada anak-anak,\u201d kata Muhransyah. Ia mengakui kejadian serupa pernah terjadi. \u201cPernah beberapa kali. Seperti hanya sayur atau kuah yang basi. Tidak separah saat ini. Hari ini minya basi, telurnya berlendir,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"993\" data-end=\"1325\">Orangtua murid, Tati, turut membenarkan temuan tersebut. \u201cKedapatan ada makanan yang basi. Kami tidak mengada-ada,\u201d ujarnya. Menurutnya, anak-anak bahkan takut menyentuh makanan itu. \u201cDari baunya saja sudah tidak layak dimakan,\u201d katanya. Ia berharap dapur MBG memperhatikan jeda waktu antara memasak dan pendistribusian makanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1327\" data-end=\"1850\">Kasus ini menambah deretan kegagalan pengawasan program MBG di Banjar. Sebelumnya, 134 siswa di Martapura keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG dari SPPG Tungkaran. Hasil laboratorium menunjukkan air dan bahan makanan di dapur tersebut mengandung bakteri berbahaya, termasuk <em data-start=\"1606\" data-end=\"1624\">Escherichia coli<\/em> dengan kadar 265 per 100 mililiter jauh melampaui ambang batas nol. Plt Kepala Dinkes Banjar, Noripansyah, menegaskan, \u201cAngka bakterinya di atas ambang batas. Airnya mengandung E. coli dan bahan makanannya tidak layak.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1852\" data-end=\"2308\">Akibat peristiwa itu, dapur SPPG Tungkaran ditutup sementara. Namun, kasus berulang di sekolah lain menunjukkan lemahnya sistem kontrol. Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Kalimantan Selatan menilai pengawasan program MBG masih jauh dari kata layak. \u201cKami ingin memastikan seluruh proses pelayanan berjalan sesuai prinsip akuntabilitas,\u201d ujar Kepala Perwakilan Ombudsman Kalsel, Hadi Rahman, usai meninjau RSUD Ratu Zalecha dan sejumlah dapur MBG.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2310\" data-end=\"2509\">Hadi menyoroti fakta bahwa 16 dapur SPPG di Kabupaten Banjar belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). \u201cTanpa SLHS, pengawasan terhadap keamanan pangan menjadi lemah,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2511\" data-end=\"2901\">Ombudsman memberikan empat catatan penting kepada pemerintah daerah: mempercepat sertifikasi keamanan pangan dan halal, membuat pedoman penanganan insiden darurat, memperkuat koordinasi lintas instansi, serta memastikan MBG benar-benar aman bagi anak-anak. \u201cMBG adalah program yang mulia, tapi tanpa pengawasan dan koordinasi yang kuat, potensi maladministrasi bisa muncul,\u201d tegas Hadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2903\" data-end=\"3000\">Pertanyaan besarnya kini: berapa lama lagi anak-anak harus jadi korban sistem yang ceroboh? []\n<p data-start=\"2903\" data-end=\"3000\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANJARBARU \u2013 Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi wujud kepedulian terhadap kesehatan anak sekolah, justru kembali menimbulkan tanda tanya besar soal pengawasan dan tanggung jawab pemerintah daerah. Kamis (16\/10\/2025), makanan MBG untuk 544 murid SDN 1 Loktabat Utara diduga basi sebelum sempat dibagikan. Kepala Sekolah Muhammad Muhransyah mengatakan, menu yang disiapkan terdiri atas &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":144150,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2279,2276],"tags":[7846],"class_list":["post-144149","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-banjarbaru-provinsi-kalimantan-selatan","category-kalimantan-selatan-kalsel","tag-banjarbaru"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144149","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144149"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144149\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":144151,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144149\/revisions\/144151"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144150"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144149"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144149"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144149"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}