{"id":144209,"date":"2025-10-17T11:39:12","date_gmt":"2025-10-17T03:39:12","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=144209"},"modified":"2025-10-17T11:39:12","modified_gmt":"2025-10-17T03:39:12","slug":"sorgum-kutim-tumbuh-tapi-tak-terjual","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sorgum-kutim-tumbuh-tapi-tak-terjual\/","title":{"rendered":"Sorgum Kutim Tumbuh, tapi Tak Terjual"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"92\" data-end=\"387\"><strong>KUTAI TIMUR<\/strong> &#8211; Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengembangkan sorgum sebagai sumber pangan alternatif ternyata belum menunjukkan hasil menggembirakan. Program yang mulai dijalankan sejak 2022 itu kini mandek, setelah hasil panen petani tak terserap pasar dan tanpa dukungan industri pengolahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"389\" data-end=\"777\">Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menjelaskan, penanaman sorgum sempat dilakukan di dua kecamatan, yakni Bengalon dan Rantau Pulung. Program ini merupakan tindak lanjut dari gerakan nasional Kementerian Pertanian yang mendorong daerah memperkuat ketahanan pangan melalui diversifikasi karbohidrat pascakonflik Rusia\u2013Ukraina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"779\" data-end=\"974\">\u201cPemerintah pusat waktu itu menyerukan \u2018ayo tanam sorgum\u2019 secara masif. Nah, Kutai Timur sempat mencoba tanam sorgum. Tapi saat panen, tidak ada yang beli,\u201d ungkap Dyah, Kamis (16\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"976\" data-end=\"1212\">Menurut Dyah, semangat petani sempat tinggi di awal pelaksanaan program. Bahkan, Bupati Kutim ketika itu ikut hadir dalam tanam perdana. Namun, antusiasme tersebut perlahan memudar karena janji pembelian hasil panen tidak terealisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1214\" data-end=\"1349\">\u201cAwalnya ada pihak yang janji mau beli hasil panen. Tapi ternyata cuma sekali saja. Setelah itu tidak ada lagi pembeli,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1351\" data-end=\"1606\">Selain persoalan pasar, Dyah juga menyoroti tantangan dari sisi konsumsi masyarakat. Menurutnya, minat masyarakat untuk mengonsumsi sorgum masih sangat rendah, padahal tanaman ini bisa menjadi pengganti nasi atau jagung dengan kandungan gizi tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1608\" data-end=\"1750\">\u201cPadahal kalau dari sisi lahan dan kesuburan, Kutim sangat mendukung. Tanah kita bagus, apa saja bisa tumbuh termasuk sorgum,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1752\" data-end=\"1996\">DTPHP menilai, dengan dukungan pasar dan investor, sorgum tetap berpotensi dikembangkan kembali di masa mendatang. Namun, diperlukan strategi menyeluruh agar rantai produksi hingga distribusi tidak berhenti di tengah jalan seperti sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1998\" data-end=\"2298\">Sementara itu, Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menilai sorgum memiliki nilai ekonomi cukup menarik karena bisa dipanen tiga kali setahun dan menghasilkan gula coklat alami. Namun, ia mengakui bahwa tanpa sarana pendukung seperti pabrik pengolahan, pengembangan sorgum sulit berjalan optimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2300\" data-end=\"2500\">\u201cPotensinya luar biasa, tapi sarana penunjangnya belum ada di Kutim. Kalau di Jawa, orang tanam sorgum karena ada pabriknya. Kalau di sini belum ada, ya orang bingung mau jual ke mana,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2502\" data-end=\"2623\">Mahyunadi menambahkan, sebelum mengembangkan sorgum secara luas, pemerintah perlu melakukan kajian ekonomi yang matang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2625\" data-end=\"2825\">\u201cKalau hasilnya lebih kecil dari sawit, ya petani pasti tidak tertarik. Tapi kalau memang menjanjikan, baru kita carikan investor dan dukungan agar bisa dikembangkan bersama petani,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2827\" data-end=\"3022\">Kisah mandeknya program sorgum di Kutim menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal menanam, tetapi juga memastikan ada pasar, industri, dan konsumsi yang menopang keberlanjutannya. []\n<p data-start=\"2827\" data-end=\"3022\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI TIMUR &#8211; Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengembangkan sorgum sebagai sumber pangan alternatif ternyata belum menunjukkan hasil menggembirakan. Program yang mulai dijalankan sejak 2022 itu kini mandek, setelah hasil panen petani tak terserap pasar dan tanpa dukungan industri pengolahan. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menjelaskan, penanaman sorgum &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":144211,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,480],"tags":[846],"class_list":["post-144209","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-timur","tag-kutai-timur"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144209","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144209"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144209\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":144213,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144209\/revisions\/144213"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144211"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144209"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144209"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144209"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}