{"id":144225,"date":"2025-10-17T11:52:34","date_gmt":"2025-10-17T03:52:34","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=144225"},"modified":"2025-10-17T11:52:34","modified_gmt":"2025-10-17T03:52:34","slug":"kelompok-tani-tarakan-optimis-hasilkan-10-ton-per-hektare","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kelompok-tani-tarakan-optimis-hasilkan-10-ton-per-hektare\/","title":{"rendered":"Kelompok Tani Tarakan Optimis Hasilkan 10 Ton Per Hektare"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"284\" data-end=\"471\"><strong>TARAKAN<\/strong> \u2013 Dua kelompok tani di Tarakan memulai proses cetak sawah setelah Kementerian Pertanian Republik Indonesia menyetujui pembukaan lahan seluas 202 hektare di wilayah tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"473\" data-end=\"704\">Kelompok Tani Nusantara Subur dan Siaboi, yang berlokasi di Kecamatan Tarakan Utara, kini tengah membuka lahan dan menyiapkan diri untuk penanaman bibit padi. Targetnya, dalam tiga bulan ke depan, lahan siap ditanami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"706\" data-end=\"912\">Ketua Kelompok Tani Nusantara Subur, Salman, menjelaskan bahwa dari total lahan 202 hektare, kelompoknya menggarap 72 hektare, sementara sisanya 130 hektare menjadi tanggung jawab Tani Siaboi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"914\" data-end=\"1212\">\u201cLahan yang kita garap kemungkinan dapat menghasilkan sampai 10 ton padi per hektare, atau sekitar 100 karung. Satu karung beratnya kurang lebih 90 kilogram dalam bentuk padi. Kalau sudah dijemur, digiling, menjadi beras, beratnya tentu akan berkurang,\u201d terang Salman, Jumat (17\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1214\" data-end=\"1489\">Namun, Tarakan belum memiliki penggilingan padi skala besar, sehingga sulit memperkirakan berapa persen beras yang susut dari berat padi kering. Meski begitu, lahan 72 hektare yang digarap memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan lokal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1491\" data-end=\"1789\">\u201cPemilihan lahan untuk cetak sawah ini sudah melalui pemetaan dan kajian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tarakan, dengan melibatkan Universitas Mulawarman. Pendampingan juga akan diberikan, termasuk penelitian sampel tanah yang menunjukkan hasilnya cocok untuk padi,\u201d tambah Salman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1791\" data-end=\"2028\">Saat ini, kelompoknya dibantu 60 anggota dalam proses buka lahan. Menurut Salman, budidaya padi lebih menjanjikan dibandingkan tanaman buah, karena bisa dipanen beberapa kali dalam setahun, tergantung jenis padi dan sistem irigasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2030\" data-end=\"2152\">\u201cPadi bisa panen tiga kali setahun, sementara buah hanya sekali. Jadi lebih menjanjikan kalau ditekuni,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2154\" data-end=\"2326\">Program cetak sawah ini diharapkan menjadi awal pengembangan pertanian padi di Tarakan, yang selama ini terbatas oleh ketersediaan lahan dan infrastruktur pengolahan. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2154\" data-end=\"2326\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TARAKAN \u2013 Dua kelompok tani di Tarakan memulai proses cetak sawah setelah Kementerian Pertanian Republik Indonesia menyetujui pembukaan lahan seluas 202 hektare di wilayah tersebut. Kelompok Tani Nusantara Subur dan Siaboi, yang berlokasi di Kecamatan Tarakan Utara, kini tengah membuka lahan dan menyiapkan diri untuk penanaman bibit padi. Targetnya, dalam tiga bulan ke depan, lahan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":144226,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[27,2257],"tags":[2717],"class_list":["post-144225","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-utara-kaltara","category-kota-tarakan-kalimantan-utara","tag-tarakan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144225","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144225"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144225\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":144227,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144225\/revisions\/144227"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144226"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144225"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144225"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144225"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}