{"id":144387,"date":"2025-10-17T10:44:51","date_gmt":"2025-10-17T02:44:51","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=144387"},"modified":"2025-10-18T10:59:01","modified_gmt":"2025-10-18T02:59:01","slug":"kacang-pedas-manis-khodijah-eksis-sejak-2007","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kacang-pedas-manis-khodijah-eksis-sejak-2007\/","title":{"rendered":"Kacang Sambal Pedas Manis \u201cKhodijah\u201d Eksis Sejak 2007"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"91\" data-end=\"449\"><strong>SAMARINDA<\/strong> \u2013 Di tengah maraknya produk modern dan camilan kekinian, usaha rumahan kacang sambal pedas manis \u201cKhodijah\u201d milik Muhammad Faurani tetap bertahan dan berkembang sejak dirintis pada tahun 2007\u20132008. Produk ini menjadi salah satu camilan khas Samarinda yang digemari karena cita rasanya yang unik perpaduan pedas, manis, dan gurih bawang putih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"451\" data-end=\"825\">Berawal dari dapur rumah di Komplek Pendawa, Jalan Pemuda II, Samarinda, Faurani menekuni usaha ini secara mandiri. Ia terinspirasi dari tradisi keluarganya di Martapura, Kalimantan Selatan, daerah yang dikenal sebagai penghasil camilan tradisional. Dari sanalah ia belajar membuat kacang sambal, lalu mengembangkan cita rasa khas yang kemudian diberi nama \u201cKhodijah\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"827\" data-end=\"1044\">\u201cAwalnya saya coba-coba sendiri, sempat gagal beberapa kali. Tapi karena terus belajar dan mencoba, akhirnya bisa jalan perlahan sampai sekarang,\u201d tutur Faurani saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (16\/10\/2025).<\/p>\n<figure id=\"attachment_144467\" aria-describedby=\"caption-attachment-144467\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-144467 size-medium\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/photo_2025-10-17_22-10-25-3-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/photo_2025-10-17_22-10-25-3-300x225.jpg 300w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/photo_2025-10-17_22-10-25-3-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/photo_2025-10-17_22-10-25-3-768x576.jpg 768w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/photo_2025-10-17_22-10-25-3.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-144467\" class=\"wp-caption-text\">Muhammad Faurani, Pemilik Usaha Kacang Sambal Pedas Manis Khodijah<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1046\" data-end=\"1355\">Kacang \u201cKhodijah\u201d dikenal karena rasa manis pedas yang seimbang dan aroma bawang putih yang kuat. Dalam satu kemasan berisi 20 bungkus kecil, produk ini dulu dijual Rp15.000. Kini, seiring kenaikan harga bahan baku, harga naik menjadi Rp16.000, sementara di toko-toko mencapai Rp17.000\u2013Rp18.000 per bungkus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1357\" data-end=\"1600\">Meski produksinya masih berskala kecil, kacang \u201cKhodijah\u201d sudah dipasarkan di beberapa toko sekitar Jalan Pemuda dan Pasar Segiri. Sistem distribusi masih sederhana dan manual, di mana Faurani sendiri yang mengantar langsung pesanan ke toko.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1602\" data-end=\"1772\">\u201cKami tidak produksi tiap hari, karena menyesuaikan dengan permintaan. Biasanya setelah stok habis baru kami buat lagi. Kami juga antar langsung ke toko-toko,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1774\" data-end=\"1979\">Faurani berharap, usahanya dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas. Ia juga berharap permintaan semakin meningkat agar usaha rumahan ini mampu memberikan penghasilan berkelanjutan bagi keluarganya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1981\" data-end=\"2156\">\u201cMudah-mudahan makin banyak peminatnya. Alhamdulillah sejauh ini diterima baik oleh masyarakat. Saya berharap bisa menambah pemasukan keluarga,\u201d kata Faurani penuh semangat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2158\" data-end=\"2540\">Ketekunan dan komitmen menjaga cita rasa tradisional membuat kacang \u201cKhodijah\u201d tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga simbol keteguhan pelaku usaha kecil untuk bertahan di tengah persaingan industri kuliner modern. Dengan resep turun-temurun dan dedikasi tinggi, Muhammad Faurani menunjukkan bahwa usaha kecil berbasis tradisi masih mampu bersaing dan tetap digemari masyarakat. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Di tengah maraknya produk modern dan camilan kekinian, usaha rumahan kacang sambal pedas manis \u201cKhodijah\u201d milik Muhammad Faurani tetap bertahan dan berkembang sejak dirintis pada tahun 2007\u20132008. Produk ini menjadi salah satu camilan khas Samarinda yang digemari karena cita rasanya yang unik perpaduan pedas, manis, dan gurih bawang putih. Berawal dari dapur rumah &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":144466,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[12436],"class_list":["post-144387","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-kacang-sambal-pedas-manis-khodijah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144387"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144387\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":144473,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144387\/revisions\/144473"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}