{"id":144713,"date":"2025-10-19T09:16:15","date_gmt":"2025-10-19T01:16:15","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=144713"},"modified":"2025-10-19T09:16:15","modified_gmt":"2025-10-19T01:16:15","slug":"menu-sudah-bergizi-tapi-prosesnya-bikin-sakit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/menu-sudah-bergizi-tapi-prosesnya-bikin-sakit\/","title":{"rendered":"Menu Sudah Bergizi, Tapi Prosesnya Bikin Sakit!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><b>BANJAR <\/b>\u2014 Insiden keracunan massal yang menimpa 134 siswa di Kabupaten Banjar masih menyisakan kekhawatiran publik. Namun, di tengah sorotan tajam terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dr. Taufik Rahmadi, dokter spesialis gizi RSUD Ratu Zalecha, menegaskan bahwa program tersebut tetap penting dan seharusnya tidak disalahkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMBG adalah program yang baik dan perlu diteruskan, tapi harus dijalankan dengan disiplin, perencanaan matang, serta pengawasan ketat,\u201d ujar dr. Taufik, Sabtu (18\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, penyebab utama keracunan bukan berasal dari menu makanan, melainkan dari tahapan pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi yang diduga tidak sesuai standar keamanan pangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">dr. Taufik menjelaskan, menu yang disajikan oleh SPPG Tungkaran saat insiden terjadi sebenarnya sudah memenuhi unsur gizi seimbang, yakni nasi kuning, ayam suwir, stik tempe, dan buah melon.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDari sisi gizi, itu sudah ideal. Ada karbohidrat, protein, dan vitamin,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, ia menegaskan bahwa proses produksi dan distribusi makanan sering kali menjadi titik rawan yang memicu kasus keracunan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau makanan sudah dimasak lebih dari empat jam dan berada di suhu 5\u201360 derajat, risiko kontaminasi meningkat tajam,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">dr. Taufik memberi peringatan keras agar pihak sekolah dan orang tua lebih aktif mengawasi makanan yang diterima anak-anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cGuru boleh menolak paket makanan bila tercium bau tak sedap, lauk berlendir, atau nasi terasa asam,\u201d ujarnya memberi contoh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga menganjurkan dibuatnya checklist sederhana di setiap sekolah untuk memeriksa kondisi makanan sebelum dibagikan kepada siswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSelama gizi seimbang dan prinsip kebersihan dijaga, orang tua tak perlu panik. Tapi kewaspadaan tetap harus diutamakan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kasus ini diharapkan menjadi evaluasi besar bagi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh wilayah. Pemerintah dan penyedia makanan diminta meningkatkan standar higienitas, memperhatikan rantai suhu, serta memastikan petugas dapur mendapat pelatihan keamanan pangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan pengawasan yang lebih ketat, program MBG diyakini tetap dapat menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak Indonesia, tanpa menimbulkan risiko kesehatan di kemudian hari. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANJAR \u2014 Insiden keracunan massal yang menimpa 134 siswa di Kabupaten Banjar masih menyisakan kekhawatiran publik. Namun, di tengah sorotan tajam terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dr. Taufik Rahmadi, dokter spesialis gizi RSUD Ratu Zalecha, menegaskan bahwa program tersebut tetap penting dan seharusnya tidak disalahkan. \u201cMBG adalah program yang baik dan perlu diteruskan, tapi &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":144714,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2997,2276],"tags":[],"class_list":["post-144713","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-banjar-provinsi-kalimantan-selatan","category-kalimantan-selatan-kalsel"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144713","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144713"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144713\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":144715,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144713\/revisions\/144715"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144714"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144713"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144713"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144713"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}