{"id":144815,"date":"2025-10-18T16:15:52","date_gmt":"2025-10-18T08:15:52","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=144815"},"modified":"2025-10-19T16:26:55","modified_gmt":"2025-10-19T08:26:55","slug":"umkm-kacang-sambal-khodijah-bertahan-di-era-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/umkm-kacang-sambal-khodijah-bertahan-di-era-modern\/","title":{"rendered":"UMKM Kacang Sambal \u201cKhodijah\u201d Bertahan di Era Modern"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SAMARINDA<\/strong> \u2013 Ketika tren camilan modern dan produk pabrikan semakin mendominasi pasar, usaha rumahan kacang sambal pedas manis \u201cKhodijah\u201d milik Muhammad Faurani justru menunjukkan ketangguhan usaha kecil dalam menjaga cita rasa tradisional. Dengan racikan bumbu pedas gurih dan aroma bawang putih yang khas, produk lokal ini tetap menjadi favorit di kalangan masyarakat Samarinda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-144817 alignright\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/6314125589467564918-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"331\" height=\"248\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/6314125589467564918-300x225.jpg 300w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/6314125589467564918-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/6314125589467564918-768x576.jpg 768w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/6314125589467564918.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 331px) 100vw, 331px\" \/>Ditemui di rumahnya di Jalan Pemuda RT 12 No. 32, Komplek Pandawa, Samarinda, pada Jumat (17\/10\/2025), Faurani mengisahkan perjalanan panjang usahanya yang dimulai sejak 2007. Inspirasi datang dari tradisi keluarganya di Martapura, Kalimantan Selatan, yang akrab dengan olahan sambal dan camilan rumahan. \u201cDi kampung saya banyak yang buat kacang sambal seperti ini. Saya belajar dari keluarga, lalu coba bikin sendiri di Samarinda,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengaku tidak langsung berhasil. \u201cDulu sering gagal, kadang gosong, kadang rasanya enggak pas. Tapi saya terus belajar sampai bisa,\u201d tambahnya. Berkat ketekunan dan dukungan pelanggan, produknya kini tersebar di berbagai toko di Jalan Ahmad Yani, Abul Hasan, dan Segiri. \u201cBanyak teman yang menyarankan agar produk saya masuk ke toko-toko besar. Alhamdulillah, akhirnya bisa diterima,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kelezatan kacang sambal \u201cKhodijah\u201d terletak pada bumbu alami dan bahan segar yang diolah tanpa pengawet. \u201cKami enggak pakai bahan pengawet, semua masih alami. Jadi rasa pedasnya khas dan tahan lama,\u201d jelasnya. Produk ini dijual seharga Rp16.000 per pak berisi 20 bungkus kecil, menyesuaikan dengan kenaikan harga bahan baku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Produksi dilakukan berdasarkan pesanan agar kualitas tetap terjaga. \u201cSaya buat sesuai permintaan saja. Kalau stok di toko mulai habis, baru saya kirim lagi. Jadi semua baru dan tetap segar,\u201d katanya. Ia juga menegaskan prinsip kejujuran dalam usahanya. \u201cSaya enggak pernah pakai bahan sisa, semua kacang dan bumbu harus fresh. Itu prinsip sejak dulu,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski belum aktif memanfaatkan media sosial, promosi dari mulut ke mulut sudah cukup menjaga permintaan. Faurani berharap ke depan, kacang sambal \u201cKhodijah\u201d dapat dikenal sebagai oleh-oleh khas Samarinda. \u201cMudah-mudahan bisa makin banyak peminatnya dan jadi kebanggaan daerah,\u201d ujarnya optimistis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Usaha rumahan seperti milik Faurani menjadi bukti bahwa UMKM tetap menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Dengan dukungan pemerintah dan kesadaran masyarakat untuk mencintai produk lokal, cita rasa khas Kalimantan Timur seperti kacang sambal \u201cKhodijah\u201d berpeluang menembus pasar yang lebih luas. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: Muhammad Ihsan | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Ketika tren camilan modern dan produk pabrikan semakin mendominasi pasar, usaha rumahan kacang sambal pedas manis \u201cKhodijah\u201d milik Muhammad Faurani justru menunjukkan ketangguhan usaha kecil dalam menjaga cita rasa tradisional. Dengan racikan bumbu pedas gurih dan aroma bawang putih yang khas, produk lokal ini tetap menjadi favorit di kalangan masyarakat Samarinda. Ditemui di &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":144816,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,37,1],"tags":[],"class_list":["post-144815","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","category-serba-serbi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144815"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144815\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":144818,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144815\/revisions\/144818"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144816"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}