{"id":144941,"date":"2025-10-20T08:49:50","date_gmt":"2025-10-20T00:49:50","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=144941"},"modified":"2025-10-20T08:49:50","modified_gmt":"2025-10-20T00:49:50","slug":"perampokan-empat-menit-sejarah-louvre-ternoda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/perampokan-empat-menit-sejarah-louvre-ternoda\/","title":{"rendered":"Perampokan Empat Menit, Sejarah Louvre Ternoda"},"content":{"rendered":"<p class=\"sr-only\" style=\"text-align: justify;\"><strong>PARIS<\/strong> \u2014 Empat menit. Itulah waktu yang dibutuhkan sekelompok pencuri untuk mempermalukan sistem keamanan Museum Louvre, salah satu ikon kebanggaan Prancis sekaligus simbol peradaban Eropa. Dalam hitungan singkat, delapan artefak bersejarah raib, meninggalkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin pusat seni dan sejarah dunia bisa dijebol semudah itu?<\/p>\n<div class=\"text-base my-auto mx-auto pb-10 [--thread-content-margin:--spacing(4)] thread-sm:[--thread-content-margin:--spacing(6)] thread-lg:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)\">\n<div class=\"[--thread-content-max-width:40rem] thread-lg:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 group\/turn-messages focus-visible:outline-hidden relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn\" tabindex=\"-1\">\n<div class=\"flex max-w-full flex-col grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-1\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"a7910214-5f6e-43fc-a150-12835156489b\" data-message-model-slug=\"gpt-5\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[1px]\">\n<div class=\"markdown prose dark:prose-invert w-full break-words light markdown-new-styling\">\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"361\" data-end=\"704\">Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, bahkan tak kuasa menutupi rasa takjub bercampur malu. \u201cKami datang segera, beberapa menit setelah menerima informasi perampokan ini. Sejujurnya, operasi ini berlangsung hampir empat menit sangat cepat. Harus kami akui bahwa mereka profesional,\u201d ujarnya kepada Al Jazeera, Senin (20\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"706\" data-end=\"1002\">Insiden terjadi Minggu pagi (19\/10\/2025) waktu setempat. Empat orang bersenjata dan bertopeng itu berhasil menembus pertahanan Louvre, mencuri delapan artefak bernilai sejarah tak ternilai, sebelum meninggalkan mahkota Permaisuri Eugenie, istri Napoleon III, yang terjatuh saat pelarian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1004\" data-end=\"1426\">Kementerian Dalam Negeri Prancis mengakui kehilangan ini bukan sekadar perkara nilai materi. \u201cDi luar nilai pasarnya, barang-barang ini memiliki warisan dan nilai sejarah yang tak ternilai,\u201d bunyi pernyataan resmi mereka. Namun pernyataan itu tak cukup menenangkan publik yang kini mempertanyakan: bagaimana museum dengan sistem keamanan tercanggih di dunia bisa kebobolan seperti toko perhiasan kecil di pinggiran kota?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1428\" data-end=\"1863\">Jaksa Agung Paris, Laure Beccau, menyebut aksi ini sebagai \u201cperampokan besar\u201d. Para pelaku disebut menggunakan gerinda sudut untuk memotong kaca pelindung artefak dan melarikan diri dengan skuter setelah mengancam penjaga. Mereka bahkan memanfaatkan truk bertangga elektrik untuk memanjat jendela museum cara yang terlihat sederhana, namun justru mempermalukan reputasi keamanan Louvre yang selama ini diagungkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1865\" data-end=\"2259\">\u201cGeng kriminal terorganisasi dapat memiliki dua tujuan: memenuhi perintah yang diberikan kepada mereka, atau mendapatkan permata untuk tujuan pencucian uang,\u201d kata Beccau kepada AFP. Dugaan keterlibatan jaringan kejahatan internasional pun menguat, menandakan perampokan ini bukan sekadar aksi spontan, melainkan operasi terencana yang memanfaatkan kelemahan dalam protokol pengamanan negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2261\" data-end=\"2583\">Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, bahkan menyebut kejadian ini sebagai \u201cpencurian permata tak ternilai\u201d dan menegaskan bahwa 60 penyidik khusus telah dikerahkan. Tapi bagi publik, tanggapan cepat itu terasa sebagai bentuk panik setelah kebobolan fatal yang terjadi tepat di jantung kebudayaan Prancis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2585\" data-end=\"2833\">Alarm museum memang berbunyi saat perampokan berlangsung, namun penyelidikan mengindikasikan adanya kemungkinan kelalaian petugas. Beberapa sumber di internal keamanan menyebut alarm \u201ctidak segera ditindaklanjuti\u201d karena dianggap gangguan teknis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2835\" data-end=\"3054\">Kekacauan ini memperlihatkan ironi besar: Prancis bisa menjaga lukisan Mona Lisa selama berabad-abad dari ancaman perang dan teror, tetapi gagal mempertahankan artefak dari empat orang bertopeng dalam empat menit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3056\" data-end=\"3344\">Perampokan di Louvre bukan sekadar kehilangan benda berharga, melainkan tamparan bagi reputasi keamanan dan simbol kebudayaan Eropa. Dalam dunia yang semakin canggih, para pencuri rupanya selalu satu langkah lebih maju dan kali ini, mereka menertawakan sejarah dari balik topeng mereka. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3056\" data-end=\"3344\">Admin03<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PARIS \u2014 Empat menit. Itulah waktu yang dibutuhkan sekelompok pencuri untuk mempermalukan sistem keamanan Museum Louvre, salah satu ikon kebanggaan Prancis sekaligus simbol peradaban Eropa. Dalam hitungan singkat, delapan artefak bersejarah raib, meninggalkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin pusat seni dan sejarah dunia bisa dijebol semudah itu? Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, bahkan tak kuasa menutupi &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":144942,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2254],"tags":[9896],"class_list":["post-144941","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-internasional","tag-paris"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144941","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144941"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144941\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":144943,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144941\/revisions\/144943"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144942"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144941"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144941"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144941"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}