{"id":145386,"date":"2025-10-21T23:46:13","date_gmt":"2025-10-21T15:46:13","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=145386"},"modified":"2025-10-21T23:46:13","modified_gmt":"2025-10-21T15:46:13","slug":"jembatan-gantung-jadi-semak-kades-lempar-ke-dprd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/jembatan-gantung-jadi-semak-kades-lempar-ke-dprd\/","title":{"rendered":"Jembatan Gantung Jadi Semak, Kades Lempar ke DPRD"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KAPUAS HULU<\/strong> \u2013 Kondisi jembatan gantung di Sungai Darak, Desa Nanga Nyabau, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, menuai sorotan publik setelah unggahan warga viral di media sosial. Foto-foto yang menampilkan jembatan tampak kusam, ditumbuhi semak, dan seolah tak terpakai, menimbulkan anggapan proyek tersebut mangkrak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, Kepala Desa Nanga Nyabau, Paulus, membantah keras tudingan itu. Ia menegaskan bahwa jembatan gantung tersebut bukan proyek gagal, melainkan sudah selesai dibangun sesuai perencanaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cProyek jembatan gantung yang dikerjakan dari tahun 2020\u20132023, bukan berasal dari dana desa, namun berasal dari dana pokok pikiran DPRD Kapuas Hulu,\u201d ujar Paulus kepada wartawan, Selasa, 21 Oktober 2025.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, pihak desa tidak memiliki kewenangan teknis dalam pengerjaan proyek tersebut. \u201cPastinya ada pengawas, konsultan, dan lainnya. Mana kita tahu soal teknis pembangunan itu,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paulus menegaskan, tudingan bahwa proyek tersebut mangkrak tidak berdasar. Ia menyebut pembangunan jembatan dilakukan melalui tiga tahap sejak 2020 hingga 2023, dan semuanya rampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, ia tak menampik bahwa kondisi jembatan kini kurang terawat. \u201cSelama pembangunan jembatan gantung itu selesai, memang kurang terawat dan terlihat kumuh karena ditumbuhi rumput liar,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski tampilannya memprihatinkan, Paulus menilai proyek itu tetap bermanfaat bagi masyarakat. \u201cTetapi kita sebenarnya bersyukur adanya bantuan pembangunan jembatan gantung tersebut, karena jika mengandalkan dana desa tidak mampu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jembatan Sungai Darak ini berfungsi penting sebagai penghubung antarwilayah \u2014 menghubungkan Dusun Dipanimpan Bolong dengan Dusun Nanga Nyabau, sekaligus mengakses Desa Benua Tengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adapun rincian pembangunan jembatan gantung di Desa Nanga Nyabau sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2238\" data-end=\"2325\">Tahap pertama (2020), pagu dana Rp109 juta, dikerjakan oleh CV Pelapis Seven.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2328\" data-end=\"2417\">Tahap kedua (2022), pagu dana Rp179 juta, dikerjakan oleh CV Karunia Reformasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2420\" data-end=\"2505\">Tahap ketiga (2023), pagu dana Rp149 juta, dikerjakan oleh CV Febrian Jaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Publik kini menantikan langkah pemerintah daerah dan pihak DPRD untuk memastikan fasilitas publik tersebut tidak hanya selesai dibangun di atas kertas, tetapi juga berfungsi optimal bagi masyarakat. []\n<p>Fajar Hidayat<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KAPUAS HULU \u2013 Kondisi jembatan gantung di Sungai Darak, Desa Nanga Nyabau, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, menuai sorotan publik setelah unggahan warga viral di media sosial. Foto-foto yang menampilkan jembatan tampak kusam, ditumbuhi semak, dan seolah tak terpakai, menimbulkan anggapan proyek tersebut mangkrak. Namun, Kepala Desa Nanga Nyabau, Paulus, membantah keras tudingan itu. &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":73,"featured_media":145387,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2273,28],"tags":[12573,12574],"class_list":["post-145386","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kabupaten-kapuas-hulu-putussibau-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-jembatan-gantung-nanga-nyabau","tag-proyek-pokir-dprd-kapuas-hulu"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145386","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/73"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=145386"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145386\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":145388,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145386\/revisions\/145388"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/145387"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=145386"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=145386"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=145386"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}