{"id":145501,"date":"2025-10-22T13:50:42","date_gmt":"2025-10-22T05:50:42","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=145501"},"modified":"2025-10-22T14:07:17","modified_gmt":"2025-10-22T06:07:17","slug":"baru-30-ribu-siswa-di-balikpapan-terima-program-makan-bergizi-gratis-dari-target-150-ribu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/baru-30-ribu-siswa-di-balikpapan-terima-program-makan-bergizi-gratis-dari-target-150-ribu\/","title":{"rendered":"Baru 30 Ribu Siswa di Balikpapan Terima Program Makan Bergizi Gratis dari Target 150 Ribu"},"content":{"rendered":"<p>BALIKPAPAN \u2014 Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Balikpapan masih jauh dari target. Hingga Oktober 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan mencatat baru sekitar 30 ribu siswa yang menerima manfaat dari program tersebut, dari total sasaran 150 ribu siswa di berbagai jenjang pendidikan.<\/p>\n<p>Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik, mengatakan capaian tersebut baru sekitar 20 persen dari target keseluruhan.<\/p>\n<p>\u201cBaru sekitar 30 ribuan siswa yang terlayani dari total 150 ribuan yang seharusnya menerima,\u201d ujar Irfan kepada wartawan, Selasa (21\/10\/2025).<\/p>\n<p><strong>Cakupan Masih Terbatas<\/strong><\/p>\n<p>Irfan menjelaskan, keterbatasan pelaksanaan program MBG disebabkan oleh jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum memadai. Saat ini, baru sebagian kecil SPPG yang beroperasi penuh, terutama di wilayah Balikpapan Selatan dan Balikpapan Kota.<\/p>\n<p>\u201cKita berharap pihak yang memiliki kewenangan, dalam hal ini BGN, bisa segera memberikan izin bagi SPPG lain untuk beroperasi. Sudah banyak yang mendaftar dan siap melayani,\u201d kata Irfan.<\/p>\n<p>Data Disdikbud menunjukkan, penerima terbanyak berasal dari jenjang SD, disusul PAUD dan SMP. Namun, wilayah lain seperti Balikpapan Timur, Tengah, Barat, dan Utara belum sepenuhnya tersentuh layanan MBG.<\/p>\n<p><strong>Kendala Teknis dan Koordinasi<\/strong><\/p>\n<p>Selain persoalan izin, hambatan teknis seperti kesiapan dapur dan distribusi makanan juga menjadi kendala. Irfan menegaskan, setiap SPPG wajib memenuhi standar kebersihan, gizi, dan ketepatan waktu distribusi sebelum diperbolehkan menyalurkan makanan ke sekolah.<\/p>\n<p>\u201cProgram ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, tapi harus memenuhi standar gizi dan keamanan pangan. Jadi proses verifikasinya memang ketat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Untuk memastikan hal tersebut, Disdikbud rutin berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pengelola SPPG agar pelaksanaan di lapangan sesuai pedoman pemerintah pusat.<\/p>\n<p><strong>Target Ditingkatkan<\/strong><\/p>\n<p>Pemerintah Kota Balikpapan menargetkan cakupan penerima MBG meningkat dua kali lipat hingga akhir 2025. Dengan demikian, jumlah penerima diharapkan bisa mencapai 60 ribu siswa.<\/p>\n<p>\u201cKami optimistis, dengan penambahan SPPG baru dan dukungan lintas sektor, target peningkatan penerima bisa tercapai,\u201d kata Irfan.<\/p>\n<p>Namun, Irfan mengakui bahwa untuk mencapai target penuh 150 ribu siswa dibutuhkan waktu, anggaran, dan kesiapan teknis yang lebih matang.<\/p>\n<p>Program Makan Bergizi Gratis merupakan kebijakan nasional yang bertujuan memperkuat gizi peserta didik sekaligus menekan angka stunting. Balikpapan menjadi salah satu kota di Kalimantan Timur yang mulai melaksanakan program ini sejak awal 2025.<\/p>\n<p>Dengan capaian baru 20 persen, pemerintah daerah dihadapkan pada tantangan besar untuk memastikan setiap anak sekolah mendapat akses makanan bergizi secara merata.<\/p>\n<p>Penyunting Irwanto Sianturi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BALIKPAPAN \u2014 Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Balikpapan masih jauh dari target. Hingga Oktober 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan mencatat baru sekitar 30 ribu siswa yang menerima manfaat dari program tersebut, dari total sasaran 150 ribu siswa di berbagai jenjang pendidikan. Kepala Disdikbud Balikpapan, Irfan Taufik, mengatakan capaian tersebut baru &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":35,"featured_media":145512,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[467],"tags":[],"class_list":["post-145501","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-balikpapan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145501","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=145501"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145501\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":145505,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145501\/revisions\/145505"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/145512"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=145501"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=145501"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=145501"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}