{"id":145649,"date":"2025-10-23T10:02:20","date_gmt":"2025-10-23T02:02:20","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=145649"},"modified":"2025-10-23T10:02:20","modified_gmt":"2025-10-23T02:02:20","slug":"pesta-syahwat-gratis-di-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pesta-syahwat-gratis-di-surabaya\/","title":{"rendered":"Pesta Syahwat Gratis di Surabaya!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"387\"><strong>JAWA TIMUR<\/strong> \u2013 Skandal pesta seks bertajuk <em data-start=\"43\" data-end=\"58\">Siwalan Party<\/em> di Surabaya kembali menyeruak, kali ini membuka sisi lain yang lebih mengkhawatirkan: ada pendana utama di balik pesta yang diikuti 34 pria tersebut. Ironisnya, semua peserta disebut tidak mengeluarkan sepeser pun biaya sebuah ironi di tengah persoalan moral, hukum, dan degradasi sosial yang menggerogoti generasi muda urban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"389\" data-end=\"755\">Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto menjelaskan, pesta tersebut dibiayai penuh oleh MR alias A, teman dari RK alias A alias DS, yang berperan sebagai admin utama acara. \u201cDari hasil pemeriksaan terhadap para tersangka yang pertama kegiatan party seks ini gratis. Jadi tidak ada pungutan biaya sepersenpun,\u201d ujarnya, Rabu (22\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"757\" data-end=\"1243\">Polisi menyebut motif pesta itu bukan sekadar pertemuan sosial, tetapi untuk mencari kesenangan dan sensasi seksual. \u201cSaudara MR alias A menyetujui. Kemudian memberikan dana sebesar kurang lebih Rp 1.780.000,\u201d ungkap Edy. Dana tersebut digunakan untuk menyewa dua kamar hotel ber-<em data-start=\"1037\" data-end=\"1054\">connecting door<\/em> di kawasan Ngagel, Surabaya. Tak berhenti di situ, MR juga menyerahkan uang tambahan sebesar Rp 435.000 untuk membeli obat perangsang yang dijadikan <em data-start=\"1204\" data-end=\"1215\">doorprize<\/em> alias hadiah dalam acara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1245\" data-end=\"1543\">Kasus ini seolah menampar wajah moral kota besar yang kerap bersembunyi di balik slogan religius dan modernitas. Fenomena pesta seks \u201cgratis\u201d ini menggambarkan bahwa kerusakan moral bukan hanya soal perilaku individu, tapi juga kegagalan sistem pengawasan sosial dan lemahnya pendidikan karakter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1545\" data-end=\"1906\">Dalam ruang-ruang tertutup, nilai-nilai moral dikalahkan oleh hasrat yang dibungkus \u201ckebebasan pribadi\u201d. Sementara di ruang publik, pemerintah dan lembaga sosial seolah sibuk menutup mata, alih-alih memperkuat edukasi dan pengawasan. Ketika pesta seks bisa terselenggara dengan sponsor pribadi, jelas ini bukan lagi soal orientasi, tapi soal kehilangan batas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1908\" data-end=\"2269\">Pertanyaan yang menggantung: bagaimana pesta sebesar ini bisa berlangsung tanpa terendus aparat sejak awal? Mengapa deteksi dini terhadap perilaku menyimpang sosial seolah tidak berfungsi di tengah kota sebesar Surabaya? Kasus ini tak sekadar menjadi tontonan berita, melainkan alarm keras tentang kemerosotan nilai di tengah masyarakat yang semakin permisif. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1908\" data-end=\"2269\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAWA TIMUR \u2013 Skandal pesta seks bertajuk Siwalan Party di Surabaya kembali menyeruak, kali ini membuka sisi lain yang lebih mengkhawatirkan: ada pendana utama di balik pesta yang diikuti 34 pria tersebut. Ironisnya, semua peserta disebut tidak mengeluarkan sepeser pun biaya sebuah ironi di tengah persoalan moral, hukum, dan degradasi sosial yang menggerogoti generasi muda &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":145654,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,9290,35],"tags":[8186],"class_list":["post-145649","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-jawa-timur","category-berita-nasional","tag-jawa-timur"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145649","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=145649"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145649\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":145655,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145649\/revisions\/145655"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/145654"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=145649"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=145649"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=145649"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}