{"id":146167,"date":"2025-10-25T16:32:10","date_gmt":"2025-10-25T08:32:10","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=146167"},"modified":"2025-10-25T16:32:10","modified_gmt":"2025-10-25T08:32:10","slug":"kakek-75-tahun-tewas-jalan-nasional-dinilai-berbahaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kakek-75-tahun-tewas-jalan-nasional-dinilai-berbahaya\/","title":{"rendered":"Kakek 75 Tahun Tewas, Jalan Nasional Dinilai Berbahaya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KLATEN<\/strong> \u2014 Jalan Jogja\u2013Solo di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kembali menelan korban jiwa. Seorang kakek berusia 75 tahun, SG, warga Desa Joton, Kecamatan Jogonalan, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan maut saat mengendarai sepeda motor Yamaha Vega bernomor polisi AD 5029 SJ, Sabtu (25\/10\/2025) pagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBetul korban inisial SG. Sesampainya di rumah sakit dinyatakan meninggal dunia,\u201d ujar Kanit Gakkum Sat Lantas Polres Klaten, Iptu Alif Akbar Lukman Hakim, kepada detikJateng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB di ruas utama penghubung dua kota besar tersebut. Polisi masih mendalami penyebab pasti kecelakaan yang merenggut nyawa kakek tersebut. \u201cIni masih pendalaman kronologis dan penyebabnya, masih pemeriksaan,\u201d lanjut Alif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang saksi mata, Asih, yang melintas di lokasi kejadian, menuturkan bahwa ia melihat sepeda motor korban berada di lajur kanan. \u201cPastinya bagaimana tidak tahu. Pas saya lewat pemotor itu dari timur (Klaten) ke arah Jogja di lajur kanan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut dugaan Asih, korban kemungkinan menyenggol pembatas jalan hingga oleng dan jatuh ke arah pembatas beton. \u201cKemungkinan oleng dan jatuh ambruk ke pembatas. Pemotor tersebut setengah badan jatuh sampai di seberang pembatas (di lajur Yogyakarta arah ke Klaten),\u201d katanya. Ia menambahkan, \u201cKarena jarak kendaraan dari Yogyakarta ke Klaten tidak mungkin bisa menghindar, kemungkinan dengan truk.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Forum Relawan Kecamatan Prambanan (Forkap), Resmiyanto, mengonfirmasi bahwa korban tidak sendirian. \u201cSatu luka ringan, kemungkinan motor jatuh ditampani kendaraan lain,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tragedi ini memunculkan keprihatinan atas tingginya risiko di jalan nasional yang kerap dilalui kendaraan berat dengan kecepatan tinggi. Minimnya fasilitas pelindung bagi pengendara, terutama lanjut usia, menjadi sorotan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terpisah, Kepala Desa Joton, Aris Gunawan, membenarkan korban adalah warganya. \u201cAkan dimakamkan jam 16.00 WIB. Secara jelas saya belum tahu kronologinya, karena tadi pas saya keluar ndak bisa merapat TKP,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kematian SG menambah daftar panjang korban di jalan nasional Jogja\u2013Solo. Jalur ini disebut warga berbahaya karena sempit, minim rambu peringatan, dan sering menjadi tempat tabrakan fatal, terutama bagi pengendara motor yang tidak memiliki tenaga atau refleks cukup cepat. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KLATEN \u2014 Jalan Jogja\u2013Solo di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kembali menelan korban jiwa. Seorang kakek berusia 75 tahun, SG, warga Desa Joton, Kecamatan Jogonalan, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan maut saat mengendarai sepeda motor Yamaha Vega bernomor polisi AD 5029 SJ, Sabtu (25\/10\/2025) pagi. \u201cBetul korban inisial SG. Sesampainya di rumah sakit dinyatakan meninggal dunia,\u201d &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":146168,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,9331,35],"tags":[],"class_list":["post-146167","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-jawa-tengah","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146167","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=146167"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146167\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":146169,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146167\/revisions\/146169"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/146168"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=146167"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=146167"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=146167"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}