{"id":146808,"date":"2025-10-30T10:36:01","date_gmt":"2025-10-30T02:36:01","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=146808"},"modified":"2025-10-30T10:36:01","modified_gmt":"2025-10-30T02:36:01","slug":"hari-keempat-dua-jasad-nelayan-ditemukan-di-perairan-berau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/hari-keempat-dua-jasad-nelayan-ditemukan-di-perairan-berau\/","title":{"rendered":"Hari Keempat, Dua Jasad Nelayan Ditemukan di Perairan Berau"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BERAU<\/strong> \u2013 Upaya pencarian korban kapal nelayan KMN Mina Maritim 148 yang tenggelam di perairan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mulai membuahkan hasil. Setelah empat hari bekerja tanpa henti di tengah cuaca ekstrem, tim SAR berhasil menemukan dua jasad nelayan yang sebelumnya dilaporkan hilang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, menjelaskan, kedua korban ditemukan pada Rabu (29\/10\/2025) di lokasi yang sama, namun dalam waktu yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJadi ini operasi hari keempat ya, korban pertama ditemukan pada 76 jam dan korban kedua ditemukan pada 86 jam di titik yang sama,\u201d ungkap Nofian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Korban pertama ditemukan sekitar pukul 09.00 Wita, sementara jasad kedua ditemukan menjelang malam, sekitar 19.40 Wita. Berdasarkan pemeriksaan awal, salah satu jasad yang ditemukan teridentifikasi sebagai juragan kapal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYang pertama belum bisa diidentifikasi karena ada kerusakan wajah, pembengkakan badan dan patahan tulang, yang jelas ada pembusukan lebih cepat, yang kedua ini teridentifikasi juragan kapal,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nofian menuturkan, pencarian sebenarnya dibatasi hingga pukul 17.00 Wita, namun tim tetap melanjutkan penyelaman untuk memeriksa jaring nelayan di dasar laut. Dari proses itu, kemungkinan besar jasad kedua terlepas dari lilitan jaring kapal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJadi kapalnya tenggelam, kita diving ke dasar karena ada jaring tangkap terlilit (milik kapal) di situ, itu cukup besar panjangnya dari dasar sampai permukaan sekitar 700 meter lebar 15 meter, mungkin saat diperiksa jasad kedua itu lepas dari jaring dan naik ke permukaan,\u201d paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kecelakaan tragis ini terjadi pada Minggu 27 Oktober 2025 subuh. Dari 14 nelayan di kapal, 8 orang berhasil selamat, 2 ditemukan meninggal dunia, dan 4 lainnya masih dalam pencarian. Kondisi laut yang berombak besar menjadi tantangan utama bagi tim gabungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJadi cuaca itu angin cukup kencang dan ombak juga, yang delapan ini berhasil selamat karena berenang dan bertahan sampai matahari terbit. Sebenarnya semua bisa berenang, tapi karena faktor umur, kelelahan, tersangkut jaring itu juga jadi yang lain tidak bisa bertahan,\u201d terang Nofian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, proses pencarian hingga kini masih berlanjut meski dihadang kondisi cuaca buruk.<br data-start=\"2883\" data-end=\"2886\" \/>\u201cHingga hari ini kami melakukan pencarian terhadap korban lainnya juga terkendala oleh cuaca yang buruk,\u201d pungkasnya. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BERAU \u2013 Upaya pencarian korban kapal nelayan KMN Mina Maritim 148 yang tenggelam di perairan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mulai membuahkan hasil. Setelah empat hari bekerja tanpa henti di tengah cuaca ekstrem, tim SAR berhasil menemukan dua jasad nelayan yang sebelumnya dilaporkan hilang. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, menjelaskan, kedua &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":146809,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[478,17,26],"tags":[],"class_list":["post-146808","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-berau","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146808","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=146808"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146808\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":146810,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146808\/revisions\/146810"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/146809"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=146808"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=146808"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=146808"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}