{"id":146981,"date":"2025-10-31T08:55:23","date_gmt":"2025-10-31T00:55:23","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=146981"},"modified":"2025-10-31T08:55:23","modified_gmt":"2025-10-31T00:55:23","slug":"us10-miliar-uang-kotor-diburu-aparat-brasil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/us10-miliar-uang-kotor-diburu-aparat-brasil\/","title":{"rendered":"US$10 Miliar Uang Kotor Diburu Aparat Brasil"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SAO PAULO <\/strong>\u2013 Setelah operasi brutal di Rio de Janeiro yang menewaskan 132 orang, pemerintah Brasil kini membuka babak baru dalam perang melawan kejahatan terorganisir. Kali ini, serangan tidak lagi diarahkan ke markas geng bersenjata, melainkan ke jantung keuangan para mafia narkoba.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada Kamis (30\/10\/2025), aparat melancarkan operasi besar di negara bagian Sao Paulo untuk membongkar praktik pencucian uang jaringan First Capital Command (PCC), salah satu kelompok kriminal paling berpengaruh di Brasil. Menurut laporan AFP, kelompok ini diduga telah mencuci uang hampir US$10 miliar (sekitar Rp160 triliun) sejak 2020 hingga 2024, dengan menyamarkan transaksi melalui bisnis bahan bakar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Operasi di Sao Paulo ini dilakukan hanya dua hari setelah kepolisian Rio de Janeiro melakukan razia berdarah terhadap geng rival, Comando Vermelho (Komando Merah), yang berujung pada 132 korban tewas. Kedua kelompok tersebut diketahui menguasai perdagangan kokain lintas Amerika Latin hingga Eropa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Petugas dikerahkan ke Campinas, tenggara Kota Sao Paulo, untuk mengeksekusi sembilan surat penangkapan dan sebelas surat penggeledahan. Targetnya, menurut kantor kejaksaan, adalah \u201cpengusaha, influencer, dan pengedar narkoba\u201d yang diduga berperan dalam jaringan pencucian uang PCC.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain melakukan penangkapan, otoritas Brasil juga menyita sejumlah properti dan membekukan rekening bank milik tersangka. Pemerintah menilai operasi ini sebagai langkah strategis untuk memotong aliran dana yang menopang bisnis narkoba nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Media lokal melaporkan empat orang ditangkap dan satu tersangka tewas dalam aksi tersebut. Namun, otoritas belum memberikan konfirmasi resmi mengenai jumlah korban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Presiden Luiz In\u00e1cio Lula da Silva menyambut operasi ini dengan seruan tegas melawan kejahatan terorganisir. \u201cKita tidak dapat menerima bahwa kejahatan terorganisir terus menghancurkan keluarga, menindas penduduk, dan menyebarkan narkoba serta kekerasan di seluruh kota,\u201d tulis Lula melalui akun X resminya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga untuk menyerang akar finansial perdagangan narkoba tanpa mengorbankan warga sipil. Lula juga mencontohkan operasi sebelumnya terhadap PCC yang menargetkan sektor keuangan tanpa menimbulkan korban jiwa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah ini menandai perubahan strategi besar Brasil: dari perang senjata menuju perang finansial \u2014 menghantam sumber daya ekonomi para mafia yang selama ini kebal hukum. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAO PAULO \u2013 Setelah operasi brutal di Rio de Janeiro yang menewaskan 132 orang, pemerintah Brasil kini membuka babak baru dalam perang melawan kejahatan terorganisir. Kali ini, serangan tidak lagi diarahkan ke markas geng bersenjata, melainkan ke jantung keuangan para mafia narkoba. Pada Kamis (30\/10\/2025), aparat melancarkan operasi besar di negara bagian Sao Paulo untuk &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":146982,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[],"class_list":["post-146981","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146981","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=146981"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146981\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":146983,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146981\/revisions\/146983"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/146982"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=146981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=146981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=146981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}