{"id":147030,"date":"2025-10-31T11:35:47","date_gmt":"2025-10-31T03:35:47","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=147030"},"modified":"2025-10-31T11:35:47","modified_gmt":"2025-10-31T03:35:47","slug":"akses-tertutup-tetangga-perang-tembok-di-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/akses-tertutup-tetangga-perang-tembok-di-surabaya\/","title":{"rendered":"Akses Tertutup, Tetangga Perang Tembok di Surabaya!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SURABAYA<\/strong> \u2014 Perseteruan antartetangga di Jalan Asem Jajar Gang III, Kelurahan Tembok Dukuh, Surabaya, kembali menjadi sorotan publik. Konflik lama soal lahan warisan kini berujung pada tindakan ekstrem: penembokan jalan gang selebar satu meter hingga kini tersisa hanya 50 sentimeter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aksi itu dilakukan oleh Siti Holilah (48) pada 12 Oktober 2025. Ia menutup sebagian akses jalan menggunakan tembok cor di tengah jalur umum. Akibatnya, warga yang tinggal di sisi gang mengeluh kesulitan keluar masuk rumah. Salah satunya Fauzizah Minarni (48), yang mewakili enam keluarga terdampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAkses lebih sulit, kalau orang badannya besar harus miring. Kendaraan ga bisa masuk, sebelumnya bisa masuk semua,\u201d ujar Minarni saat ditemui, Kamis (30\/10\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konflik ini berawal dari sengketa jual beli tanah warisan antara keluarga pemilik asli dan beberapa pihak pembeli berbeda. Holilah mengaku membeli tanah itu dari Yanto, salah satu ahli waris, pada 2009 dan mulai membangun rumah pada 2011. Sejak itu, gesekan dengan tetangga mulai muncul.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya sudah dari awal dibikin jalan enggak ada konflik apa-apa. Cuma, kenapa kok saya waktu bangun mau ambil dari batas-batas disuruh geser. Saya udah buat jalan akses saya supaya bisa dipakai orang banyak. Tapi waktu saya bikin pintu samping disetop sampai tukang saya itu enggak bisa bekerja,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketegangan makin memuncak ketika Holilah mempertanyakan kepemilikan lahan yang kini dijadikan jalan. Ia merasa sebagian jalan merupakan bagian dari tanahnya yang dulu dia relakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSuruh fasum saja. Gak mau saya. Nanti kalau difasum nanti mentang-mentang, karena enggak punya aturan, kalau lewat juga enggak punya aturan memang anak-anak yang di sini,\u201d katanya tegas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, pihak Minarni bersikeras agar tembok segera dibongkar agar akses warga bisa kembali normal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAku bersikekeh berlima, setengah meter yang ditembok itu jadi jalan,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kasus seperti ini bukan yang pertama di Surabaya. Beberapa tahun terakhir, penembokan jalan akibat konflik warga kerap terjadi, namun belum ada penyelesaian sistematis dari aparat atau pemerintah setempat. Warga berharap ada langkah tegas dan mediasi permanen agar kasus serupa tak terus berulang di tengah padatnya permukiman kota. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA \u2014 Perseteruan antartetangga di Jalan Asem Jajar Gang III, Kelurahan Tembok Dukuh, Surabaya, kembali menjadi sorotan publik. Konflik lama soal lahan warisan kini berujung pada tindakan ekstrem: penembokan jalan gang selebar satu meter hingga kini tersisa hanya 50 sentimeter. Aksi itu dilakukan oleh Siti Holilah (48) pada 12 Oktober 2025. Ia menutup sebagian akses &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":147031,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,9290,35],"tags":[],"class_list":["post-147030","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-jawa-timur","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147030","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147030"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147030\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":147032,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147030\/revisions\/147032"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/147031"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147030"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147030"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147030"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}