{"id":147400,"date":"2025-11-02T11:08:53","date_gmt":"2025-11-02T03:08:53","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=147400"},"modified":"2025-11-02T11:08:53","modified_gmt":"2025-11-02T03:08:53","slug":"viral-warga-jemaras-perbaiki-jalan-provinsi-yang-telan-korban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/viral-warga-jemaras-perbaiki-jalan-provinsi-yang-telan-korban\/","title":{"rendered":"Viral! Warga Jemaras Perbaiki Jalan Provinsi yang Telan Korban"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"388\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"24\">KOTAWARINGIN TIMUR \u2013<\/strong> Warga Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memilih turun tangan sendiri memperbaiki jalan berlubang di ruas Jalan Tjilik Riwut kilometer 38. Aksi gotong royong ini menjadi viral karena dilakukan tanpa bantuan pemerintah, demi keselamatan pengguna jalan yang setiap hari melintasi jalur utama penghubung antar kabupaten tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"390\" data-end=\"772\">Jalan provinsi itu kini rusak parah dan telah menelan banyak korban. Warga setempat, Tommy Aldianto, menyebut sedikitnya sudah terjadi lima kecelakaan dalam sebulan terakhir di titik tersebut. \u201cKerusakan ini sudah lebih dari sebulan. Sudah ada lima korban pengendara motor yang jatuh. Salah satu lubang cukup berbahaya karena letaknya agak menikung,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"774\" data-end=\"1060\">Kondisi jalan yang berlubang dan tidak rata membuat pengendara harus ekstra hati-hati, terutama di malam hari. Banyak pengendara kehilangan kendali karena lubang yang tertutup air hujan tampak seperti jalan biasa. Warga pun khawatir jika dibiarkan, jumlah korban akan terus bertambah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1062\" data-end=\"1426\">Warga Desa Jemaras akhirnya berinisiatif memperbaiki jalan dengan bahan seadanya. Dibantu relawan Ikatan Remaja Masjid (IRM) Jemaras, mereka menambal tujuh titik lubang menggunakan campuran semen, koral, dan bahan pengeras agar cepat kering. \u201cKalau pakai semen biasa, lama keringnya. Jadi kami campur dengan zat pengeras supaya bisa cepat dilewati,\u201d jelas Tommy.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1428\" data-end=\"1647\">Langkah swadaya ini dilakukan semata-mata karena keprihatinan terhadap kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah. \u201cKalau kita nunggu pihak provinsi, bisa-bisa makin banyak korban berjatuhan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1649\" data-end=\"2017\">Selain itu, Tommy juga mendesak agar pemerintah provinsi menurunkan tim pemantau lapangan yang rutin memeriksa kondisi jalan. Menurutnya, survei rutin penting agar kerusakan segera diketahui dan diperbaiki sebelum menimbulkan korban. \u201cHarusnya ada tim khusus dari provinsi yang rutin survei jalan. Jadi bisa tahu mana yang rusak parah dan cepat ditangani,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2019\" data-end=\"2366\">Kepala Desa Jemaras, Moju Betti Suheru, mengungkapkan bahwa warga sebelumnya sudah berupaya menambal lubang menggunakan tanah. Namun, cara itu tidak bertahan lama karena cepat terkikis air hujan. \u201cKemarin sudah pernah ditambal pakai tanah, tapi cepat rusak lagi karena hujan. Kami berharap pemerintah provinsi bisa segera memperbaiki,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2368\" data-end=\"2712\">Aksi gotong royong warga Jemaras ini mendapat banyak perhatian di media sosial. Banyak warganet memuji semangat kebersamaan masyarakat yang tidak tinggal diam melihat kondisi jalan yang membahayakan. Namun di sisi lain, publik juga menyoroti lambannya respon pemerintah terhadap infrastruktur vital yang menjadi urat nadi perekonomian daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2714\" data-end=\"2951\">Meski jalan kini sedikit lebih aman setelah ditambal, warga berharap perbaikan permanen segera dilakukan. Mereka menilai keselamatan pengguna jalan seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah, bukan sekadar janji yang terus tertunda. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2714\" data-end=\"2951\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTAWARINGIN TIMUR \u2013 Warga Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memilih turun tangan sendiri memperbaiki jalan berlubang di ruas Jalan Tjilik Riwut kilometer 38. Aksi gotong royong ini menjadi viral karena dilakukan tanpa bantuan pemerintah, demi keselamatan pengguna jalan yang setiap hari melintasi jalur utama penghubung antar kabupaten tersebut. Jalan provinsi itu kini &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":147401,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2259,2266],"tags":[8824],"class_list":["post-147400","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah","tag-kotawaringin-timur"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147400","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147400"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147400\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":147402,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147400\/revisions\/147402"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/147401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}