{"id":147534,"date":"2025-11-03T11:58:37","date_gmt":"2025-11-03T03:58:37","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=147534"},"modified":"2025-11-03T11:58:37","modified_gmt":"2025-11-03T03:58:37","slug":"miris-37-ibu-rumah-tangga-di-kalbar-jadi-pengedar-narkoba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/miris-37-ibu-rumah-tangga-di-kalbar-jadi-pengedar-narkoba\/","title":{"rendered":"Miris! 37 Ibu Rumah Tangga di Kalbar Jadi Pengedar Narkoba"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"333\"><strong>PONTIANAK<\/strong> \u2014 Fakta mengejutkan datang dari Kalimantan Barat. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, sebanyak 37 ibu rumah tangga (IRT) diciduk polisi karena terlibat dalam jaringan peredaran narkoba. Angka ini membuat publik terkejut, sebab sosok yang seharusnya menjadi penjaga rumah justru terjerumus ke dunia gelap narkotika.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"335\" data-end=\"644\">Direktur Reserse Narkoba Polda Kalbar, Kombes Pol Deddy Supriadi, membenarkan data tersebut saat konferensi pers di Mapolda Kalbar, Minggu (02\/11\/2025). \u201cSelama Januari sampai Oktober 2025, ada sebanyak 37 orang dalam 37 kasus,\u201d ujarnya. Deddy menegaskan, kasus terbanyak ditemukan di wilayah Kota Pontianak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"646\" data-end=\"955\">Ia juga mengingatkan keras agar para ibu rumah tangga menjauh dari jeratan narkoba. \u201cSebagai IRT yang merupakan pelindung anak dan keluarga, sebaiknya menggunakan waktu dan keterampilan ke arah yang lebih positif daripada mengedarkan narkoba yang akan merusak tumbuh kembang anak dan keluarga,\u201d tegas Deddy.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"957\" data-end=\"1424\">Fenomena ini tak hanya mengejutkan aparat, tetapi juga menjadi sorotan kalangan akademisi. Dosen Hukum Pidana Universitas Tanjungpura, Mega Fitri Hertini, menjelaskan bahwa keterlibatan IRT dalam kasus narkoba dipicu oleh berbagai faktor sosial dan ekonomi. \u201cDesakan kebutuhan hidup seperti kesulitan ekonomi, penghasilan suami yang rendah, atau status single parent tanpa pekerjaan tetap mendorong sebagian IRT mengambil jalan pintas,\u201d katanya, Minggu (02\/11\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1426\" data-end=\"1691\">Mega juga menyoroti pengaruh pasangan dan sindikat narkoba. \u201cBanyak IRT yang terlibat karena suami mereka adalah pengedar atau bandar narkoba. Istri sering dipaksa atau dimanfaatkan untuk menjadi kurir karena dianggap lebih aman dari kecurigaan aparat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1693\" data-end=\"1909\">Selain itu, sindikat juga kerap menjadikan kelembutan dan kepercayaan diri rendah para IRT sebagai celah untuk manipulasi. \u201cSindikat narkoba sering memanfaatkan IRT karena dianggap tidak mencurigakan,\u201d tambah Mega.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1911\" data-end=\"2126\">Ia menegaskan, masih banyak IRT yang belum memahami bahwa tindak pidana narkotika adalah <em data-start=\"2000\" data-end=\"2021\">extraordinary crime<\/em> atau kejahatan luar biasa dengan ancaman hukuman sangat berat, bahkan bisa berujung pada hukuman mati. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1911\" data-end=\"2126\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PONTIANAK \u2014 Fakta mengejutkan datang dari Kalimantan Barat. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, sebanyak 37 ibu rumah tangga (IRT) diciduk polisi karena terlibat dalam jaringan peredaran narkoba. Angka ini membuat publik terkejut, sebab sosok yang seharusnya menjadi penjaga rumah justru terjerumus ke dunia gelap narkotika. Direktur Reserse Narkoba Polda Kalbar, Kombes Pol Deddy Supriadi, membenarkan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":147535,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2273,36],"tags":[329],"class_list":["post-147534","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kota-pontianak-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-pontianak"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147534","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147534"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147534\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":147536,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147534\/revisions\/147536"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/147535"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147534"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147534"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147534"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}