{"id":147563,"date":"2025-11-03T15:05:02","date_gmt":"2025-11-03T07:05:02","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=147563"},"modified":"2025-11-03T15:05:02","modified_gmt":"2025-11-03T07:05:02","slug":"sindiran-pedas-warga-kotim-ubah-jalan-rusak-jadi-kebun-sawit-viral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sindiran-pedas-warga-kotim-ubah-jalan-rusak-jadi-kebun-sawit-viral\/","title":{"rendered":"Sindiran Pedas! Warga Kotim Ubah Jalan Rusak Jadi Kebun Sawit Viral!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"343\"><strong>KOTAWARINGIN TIMUR<\/strong>\u00a0\u2013 Jalan rusak parah di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu aksi protes kreatif warga. Frustrasi karena jalan tak kunjung diperbaiki selama lebih dari satu dekade, warga menanam pohon sawit di tengah jalan berlumpur sebagai sindiran keras kepada pemerintah desa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"345\" data-end=\"728\">Aksi ini terjadi di Jalan Garuda, simpang empat Padat Karya RT 2 RW 1, pada Minggu, 3 November 2025, dan langsung viral di media sosial. Dalam video yang beredar, terlihat warga menanam bibit sawit di kubangan besar, disaksikan puluhan orang lainnya. Banyak netizen membanjiri kolom komentar dengan dukungan, menyebut aksi warga sebagai bentuk \u201cprotes elegan tapi menusuk.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"730\" data-end=\"1017\">Menurut salah satu warga berinisial I, aksi tersebut adalah puncak dari kekecewaan warga yang merasa diabaikan pemerintah desa. \u201cKami sudah sering meminta tolong pembakal, tapi tidak ditanggapi. Akhirnya kami tanam sawit sebagai bentuk protes,\u201d ujarnya, Senin, (03\/11\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1019\" data-end=\"1311\">Ia menjelaskan, jalan itu merupakan akses utama bagi masyarakat, termasuk pelajar dan pekerja yang melintas setiap hari. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lautan lumpur. \u201cBanyak anak sekolah lewat sini, mobil juga sering lewat. Tapi karena rusak berat, sudah susah dilalui,\u201d keluhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1313\" data-end=\"1599\">Lebih parah lagi, kata I, wilayah ulu desa tempat mereka tinggal kerap terabaikan, sementara kawasan hilir justru terus mendapat proyek pengaspalan. \u201cYang di hilir sudah diaspal, bahkan mau ada pengaspalan lagi. Tapi kami di ulu ini tidak pernah diperhatikan,\u201d ujarnya kecewa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1601\" data-end=\"1789\">Warga juga menyoroti buruknya drainase, yang membuat jalan tergenang saat air pasang. \u201cKalau sudah pasang laut, air naik, anak-anak sampai nangis karena tidak bisa lewat,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1791\" data-end=\"1961\">Meski videonya sudah viral, hingga kini warga belum menerima tanggapan resmi dari pemerintah desa. \u201cKadang ada yang datang lihat, tapi belum ada langkah nyata,\u201d kata I.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1963\" data-end=\"2169\">Aksi tanam sawit itu menjadi simbol perlawanan warga terhadap abainya kebijakan publik. Mereka berharap, suara melalui tanah berlumpur itu akhirnya bisa membuka mata pejabat yang selama ini tutup telinga. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1963\" data-end=\"2169\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTAWARINGIN TIMUR\u00a0\u2013 Jalan rusak parah di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu aksi protes kreatif warga. Frustrasi karena jalan tak kunjung diperbaiki selama lebih dari satu dekade, warga menanam pohon sawit di tengah jalan berlumpur sebagai sindiran keras kepada pemerintah desa. Aksi ini terjadi di Jalan Garuda, simpang empat &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":147565,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2259,2266],"tags":[8824],"class_list":["post-147563","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah","tag-kotawaringin-timur"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147563","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147563"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147563\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":147566,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147563\/revisions\/147566"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/147565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147563"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147563"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147563"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}