{"id":147672,"date":"2025-11-04T08:41:12","date_gmt":"2025-11-04T00:41:12","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=147672"},"modified":"2025-11-04T08:41:12","modified_gmt":"2025-11-04T00:41:12","slug":"petaka-di-dolakha-3-tewas-4-hilang-disapu-longsor-salju","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/petaka-di-dolakha-3-tewas-4-hilang-disapu-longsor-salju\/","title":{"rendered":"Petaka di Dolakha: 3 Tewas, 4 Hilang Disapu Longsor Salju"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"373\"><strong>KATHMANDU<\/strong>\u00a0\u2014 Langit kelabu dan badai salju menggulung kawasan pegunungan Himalaya timur pada Senin pagi, menelan base camp pendakian di puncak Yalung Ri dalam tragedi mematikan. Sedikitnya tiga pendaki tewas, sementara empat lainnya, termasuk warga asing, masih hilang di antara lapisan salju tebal yang menutup jalur penyelamatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"375\" data-end=\"907\">\u201cLongsoran salju menghantam sekelompok yang berjumlah 12 orang di puncak Yalung Ri pada Senin pagi waktu setempat,\u201d ungkap pejabat senior kepolisian distrik Dolakha, Gyan Kumar Mahato, seperti dikutip AFP, Selasa (04\/11\/2025). Dari tiga korban jiwa, dua merupakan warga Nepal dan satu orang warga negara asing. \u201cCuaca buruk di distrik Dolakha menunda upaya penyelamatan, tetapi sebuah helikopter kini telah mendarat di lokasi kejadian dan operasi pencarian dan penyelamatan akan dilakukan Selasa pagi,\u201d ujarnya menambahkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"909\" data-end=\"1194\">Tragedi ini menambah daftar panjang korban di pegunungan Nepal, negeri dengan 10 puncak tertinggi di dunia, termasuk Gunung Everest. Setiap tahun, ratusan pendaki dan petualang dari seluruh dunia datang untuk menaklukkan medan Himalaya, namun kali ini alam menunjukkan amarahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1196\" data-end=\"1563\">Musim gugur sebenarnya bukan waktu favorit bagi para pendaki. Hari-hari yang pendek, suhu menusuk, dan jalur bersalju menjadikan perjalanan ke puncak lebih berisiko. Siklon Montha yang baru melanda kawasan itu minggu lalu memperburuk situasi\u2014memicu hujan lebat dan salju ekstrem, membuat banyak wisatawan dan pendaki terjebak di rute-rute pendakian populer.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1565\" data-end=\"1902\">Kondisi cuaca yang tidak bersahabat juga membuat helikopter penyelamat kesulitan menjangkau lokasi. Tim penyelamat darat berusaha keras membuka jalur salju yang menumpuk hingga beberapa meter. \u201cOperasi pencarian akan difokuskan di area kemungkinan korban hilang tertimbun di sekitar lereng,\u201d ungkap petugas lokal kepada media setempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1904\" data-end=\"2084\">Dalam insiden terpisah, dua pendaki asal Italia juga dilaporkan hilang di puncak terpencil di Nepal bagian barat, memperlihatkan betapa ganasnya musim pendakian kali ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2086\" data-end=\"2473\">Nepal memang surganya pendaki, tapi setiap tahun gunung-gunungnya juga menelan korban. Di balik keindahan salju abadi, Himalaya menyimpan bahaya yang bisa datang tiba-tiba satu hembusan angin, satu getaran kecil, dan dinding salju bisa runtuh seketika. Kini, tim penyelamat berpacu dengan waktu, berharap badai segera reda agar nyawa para pendaki yang hilang masih bisa diselamatkan. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2086\" data-end=\"2473\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KATHMANDU\u00a0\u2014 Langit kelabu dan badai salju menggulung kawasan pegunungan Himalaya timur pada Senin pagi, menelan base camp pendakian di puncak Yalung Ri dalam tragedi mematikan. Sedikitnya tiga pendaki tewas, sementara empat lainnya, termasuk warga asing, masih hilang di antara lapisan salju tebal yang menutup jalur penyelamatan. \u201cLongsoran salju menghantam sekelompok yang berjumlah 12 orang di &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":147673,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2254],"tags":[12330],"class_list":["post-147672","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-berita-internasional","tag-kathmandu"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147672","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147672"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147672\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":147674,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147672\/revisions\/147674"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/147673"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147672"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147672"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147672"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}