{"id":147972,"date":"2025-11-05T18:34:16","date_gmt":"2025-11-05T10:34:16","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=147972"},"modified":"2025-11-05T18:34:16","modified_gmt":"2025-11-05T10:34:16","slug":"bpbd-balikpapan-perketat-siaga-hadapi-musim-hujan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/bpbd-balikpapan-perketat-siaga-hadapi-musim-hujan\/","title":{"rendered":"BPBD Balikpapan Perketat Siaga Hadapi Musim Hujan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BALIKPAPAN <\/strong>\u2014 Cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan memperketat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam. Ancaman banjir, tanah longsor, serta angin kencang kini menjadi perhatian utama menjelang puncak musim hujan di kota minyak tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala BPBD Balikpapan Usman Ali mengatakan bahwa perubahan pola cuaca dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan risiko bencana di kawasan padat penduduk maupun daerah berbukit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cCurah hujan yang tinggi dalam waktu singkat berpotensi menyebabkan genangan dan longsor. Karena itu, kami terus memantau kondisi bersama BMKG agar bisa mengambil langkah cepat,\u201d ujarnya, Rabu (05\/11\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiagakan lebih dari 90 personel yang bekerja bergantian selama 24 jam penuh. Sejumlah posko siaga bencana juga disebar di titik-titik rawan untuk mempercepat koordinasi dan evakuasi jika diperlukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Usman menjelaskan bahwa banjir masih menjadi bencana paling sering terjadi setiap tahun di Balikpapan. \u201cKetika curah hujan tinggi turun serentak di wilayah hulu dan hilir, genangan sulit dihindari. Begitu pula kawasan perbukitan, rawan longsor dan bisa mengancam keselamatan warga,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, BPBD terus memperkuat sarana dan prasarana penanggulangan bencana, termasuk penyediaan perahu karet, alat evakuasi, serta transportasi darurat. Namun demikian, kebutuhan terhadap penambahan armada dan peningkatan kemampuan personel masih menjadi prioritas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSebagian peralatan masih layak, tapi kami perlu dukungan lebih untuk mempercepat respons di lapangan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain memperkuat internal, BPBD juga menjalin kolaborasi dengan TNI, Polri, relawan, dan masyarakat. Menurut Usman, kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada instansi pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif warga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMasyarakat harus tahu bagaimana bertindak saat bencana terjadi. Edukasi dan kesiapan di tingkat lingkungan bisa menyelamatkan banyak nyawa,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai langkah lanjutan, BPBD bekerja sama dengan BMKG memperkuat sistem peringatan dini agar informasi cuaca ekstrem dapat diterima warga lebih cepat dan akurat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami berkomitmen memperbaiki sistem deteksi dan alur koordinasi supaya respon terhadap bencana lebih tanggap dan efisien,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upaya kesiapsiagaan tersebut diharapkan mampu meminimalkan dampak bencana, terutama di kawasan padat penduduk dan daerah perbukitan yang kerap menjadi langganan genangan saat musim hujan tiba. []\n<p>Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BALIKPAPAN \u2014 Cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan memperketat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam. Ancaman banjir, tanah longsor, serta angin kencang kini menjadi perhatian utama menjelang puncak musim hujan di kota minyak tersebut. Kepala BPBD Balikpapan Usman Ali mengatakan bahwa perubahan pola cuaca dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":55,"featured_media":148114,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[467,17,26],"tags":[],"class_list":["post-147972","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-balikpapan","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147972","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/55"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147972"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147972\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":148116,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147972\/revisions\/148116"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/148114"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147972"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147972"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147972"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}