{"id":148157,"date":"2025-11-06T11:07:15","date_gmt":"2025-11-06T03:07:15","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=148157"},"modified":"2025-11-06T11:07:15","modified_gmt":"2025-11-06T03:07:15","slug":"ramli-perkenalkan-anyaman-plastik-kresek-dari-balik-bui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/ramli-perkenalkan-anyaman-plastik-kresek-dari-balik-bui\/","title":{"rendered":"Ramli Perkenalkan Anyaman Plastik Kresek Dari Balik Bui !"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"133\" data-end=\"484\"><strong>SAMARINDA<\/strong> \u2013 Di balik tembok Lapas Kelas IIA Samarinda, kreativitas warga binaan terus menumbuhkan peluang ekonomi. Salah satunya Ramli, yang kini dikenal sebagai pengrajin anyaman berbahan plastik kresek bekas. Dari tangannya lahir produk bernilai jual seperti topi pantai, kopiah, anjat (tas tradisional), hingga tas wanita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"486\" data-end=\"602\">Ramli mengaku belajar keterampilan ini sejak Agustus 2025, melalui pelatihan yang diselenggarakan pihak lapas. \u201cAwalnya saya tidak punya keahlian di bidang ini. Tapi setelah ikut pelatihan, saya jadi tertarik dan terus belajar sampai bisa menghasilkan karya yang layak jual,\u201d ujar Ramli, Rabu (05\/11\/2025), saat ditemui di bengkel kerja Lapas Kelas IIA Samarinda, Jalan Jendral Sudirman No 15.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"889\" data-end=\"1151\">Proses pembuatan setiap produk berbeda-beda. Untuk satu tas wanita atau topi pantai, Ramli membutuhkan waktu sekitar tiga hari agar hasilnya rapi dan kuat. Dalam sebulan, ia mampu menyelesaikan sekitar 10 topi pantai, tergantung ketersediaan bahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1153\" data-end=\"1333\">\u201cDalam pembuatannya, hasil tergantung dari bahan. Selama 3 hari bisa selesai 1 buah tas atau topi. Kalau sebulan, khusus topi, dapat dihasilkan 10 buah topi pantai,\u201d jelas Ramli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1335\" data-end=\"1527\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-148239 aligncenter\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/photo_2025-11-06_07-33-29-2-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"408\" height=\"306\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/photo_2025-11-06_07-33-29-2-300x225.jpg 300w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/photo_2025-11-06_07-33-29-2-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/photo_2025-11-06_07-33-29-2-768x576.jpg 768w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/photo_2025-11-06_07-33-29-2.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 408px) 100vw, 408px\" \/>Pemasaran hasil kerajinan masih mengandalkan pengunjung lapas. Para tamu, baik keluarga warga binaan maupun pejabat yang datang, sering membeli produk anyaman tersebut sebagai oleh-oleh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1529\" data-end=\"1803\">\u201cKami belum bisa jual luas, tapi sudah banyak yang tertarik. Bahkan waktu Gubernur Kaltim datang, beliau juga membeli beberapa hasil karya kami. Harga mulai Rp50.000 untuk topi pantai, sedangkan tas wanita bervariasi sesuai ukuran dan tingkat kesulitan,\u201d tambah Ramli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1805\" data-end=\"2080\">Program keterampilan ini menjadi bagian dari upaya Lapas Kelas IIA Samarinda menyiapkan warga binaan memiliki kemampuan produktif setelah bebas. Pihak lapas berharap, keterampilan ini tak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga menjadi bekal ekonomi masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2082\" data-end=\"2304\">Ramli sendiri bersyukur mendapat kesempatan belajar di dalam lapas. Ia berharap karyanya semakin dikenal masyarakat luas dan menjadi contoh bahwa dari limbah plastik bisa lahir karya bernilai seni dan ekonomi tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2306\" data-end=\"2408\">\u201cSaya ingin terus berkarya dan membuktikan bahwa masa lalu bukan akhir dari segalanya,\u201d tutup Ramli. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Rasidah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SAMARINDA \u2013 Di balik tembok Lapas Kelas IIA Samarinda, kreativitas warga binaan terus menumbuhkan peluang ekonomi. Salah satunya Ramli, yang kini dikenal sebagai pengrajin anyaman berbahan plastik kresek bekas. Dari tangannya lahir produk bernilai jual seperti topi pantai, kopiah, anjat (tas tradisional), hingga tas wanita. Ramli mengaku belajar keterampilan ini sejak Agustus 2025, melalui pelatihan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":148238,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[13246],"class_list":["post-148157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-anyaman-plastik-kresek"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=148157"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148157\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":148240,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148157\/revisions\/148240"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/148238"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=148157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=148157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=148157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}