{"id":148894,"date":"2025-11-10T08:10:46","date_gmt":"2025-11-10T00:10:46","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=148894"},"modified":"2025-11-10T01:38:14","modified_gmt":"2025-11-09T17:38:14","slug":"wabup-mahyunadi-soroti-fenomena-pemuda-gemulai-di-kutai-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wabup-mahyunadi-soroti-fenomena-pemuda-gemulai-di-kutai-timur\/","title":{"rendered":"Wabup Mahyunadi Soroti Fenomena Pemuda \u201cGemulai\u201d di Kutai Timur"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"338\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"17\">KUTAI TIMUR &#8211;<\/strong> Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menyampaikan perhatian khusus terhadap munculnya fenomena di kalangan pemuda atau pelajar yang menunjukkan perilaku \u201cgemulai\u201d. Hal itu ia ungkapkan usai menghadiri Festival Pemuda Kreatif Kutai Timur 2025 di kawasan perkantoran Bukit Pelangi, Sangatta Utara, Minggu malam (09\/11\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"340\" data-end=\"605\">Dalam kesempatan itu, Mahyunadi mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim akan mencermati fenomena sosial tersebut dengan langkah yang bersifat pembinaan. \u201cAda potensi kita akan mendata. Bukan hanya mendata, bahkan mensosialisasikan ke sekolah-sekolahan,\u201d ujar Mahyunadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"607\" data-end=\"965\">Menurutnya, upaya pendataan dan sosialisasi ini bukan ditujukan untuk menghakimi, melainkan untuk memberikan arahan yang tepat bagi para pelajar agar tumbuh dengan karakter kuat dan berjiwa kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa generasi muda Kutim harus memiliki keberanian dan keteguhan dalam menghadapi tantangan zaman. \u201cYang salah arah itu kita akan lihat. Pemuda harus gagah berani, bukan berarti yang gemulai itu tidak bagus\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"967\" data-end=\"1562\">Mahyunadi menilai pembentukan karakter merupakan hal mendasar dalam pembangunan sumber daya manusia di Kutim. Dalam pandangannya, sifat \u201cgemulai\u201d pada pemuda perlu diimbangi dengan pembinaan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan percaya diri. Untuk memperjelas pesannya, ia menyampaikan perumpamaan tentang mitos seekor kucing yang memiliki sifat menyimpang akibat faktor genetik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"967\" data-end=\"1562\">\u201cTahu tidak Kenapa kucing belang tiga itu dibunuh sama bapaknya? Mitosnya karena dia mau jadi raja. Mana ada orang tua yang tidak suka anaknya jadi raja. Tapi kucing yang laki belang tiga itu, mempunyai kesalahan gen. Jadi dia cenderung kewanitaan. Karena yang bersolek itu hanya wanita, belang tiga itu hanya betina. Jadi kalau laki-laki bersolek, kucing saja bunuh anaknya gitu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1564\" data-end=\"1961\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Mahyunadi berharap langkah pembinaan melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah dapat memperkuat nilai moral dan karakter pemuda Kutim. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan orang tua dalam memastikan generasi muda Kutai Timur tumbuh menjadi individu yang berintegritas, bermental kuat, dan memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun lingkungannya.[]\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1564\" data-end=\"1961\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Admin05<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI TIMUR &#8211; Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menyampaikan perhatian khusus terhadap munculnya fenomena di kalangan pemuda atau pelajar yang menunjukkan perilaku \u201cgemulai\u201d. Hal itu ia ungkapkan usai menghadiri Festival Pemuda Kreatif Kutai Timur 2025 di kawasan perkantoran Bukit Pelangi, Sangatta Utara, Minggu malam (09\/11\/2025). Dalam kesempatan itu, Mahyunadi mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":148896,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,480],"tags":[13385,13384],"class_list":["post-148894","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-timur","tag-pemuda-gemulai","tag-wabup-mahyunadi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148894","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=148894"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148894\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":148900,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148894\/revisions\/148900"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/148896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=148894"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=148894"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=148894"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}