{"id":149696,"date":"2025-10-16T15:52:13","date_gmt":"2025-10-16T07:52:13","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=149696"},"modified":"2025-11-13T15:53:32","modified_gmt":"2025-11-13T07:53:32","slug":"inovasi-limbah-amplang-jadi-pakan-ikan-dan-pupuk-cair","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/inovasi-limbah-amplang-jadi-pakan-ikan-dan-pupuk-cair\/","title":{"rendered":"Inovasi Limbah Amplang Jadi Pakan Ikan dan Pupuk Cair"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUTAI KARTANEGARA<\/strong><b>\u00a0&#8211; <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kecamatan Sangasanga, yang tampil memukau dalam ajang Penilaian Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dalam lomba yang digelar pada Rabu (15\/10\/2025) di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar.\u00a0 Kelurahan Sari Jaya mengusung dua inovasi unggulan berbasis kearifan lokal: pengolahan limbah amplang menjadi pakan ikan dan pupuk cair organik, serta alat pengaduk amplang karya warga.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kelurahan Sari Jaya mengikuti Penilaian TTG Kukar dengan menampilkan inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat. Inovasi ini berfokus pada pengelolaan limbah produksi amplang makanan khas berbahan dasar ikan, yang selama ini terbuang percuma. Limbah berupa kepala dan tulang ikan kini diolah menjadi pakan ikan dan pupuk cair organik yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, alat pengaduk amplang hasil karya warga bernama Mardi juga menjadi sorotan. Alat ini telah dikembangkan sejak tiga tahun lalu dan terbukti membantu pelaku UMKM dalam proses produksi amplang secara lebih efisien.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Inisiatif ini digagas oleh Lurah Sari Jaya, Agusdina Fitriani, bersama Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek), Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK RT, dan masyarakat setempat. Ketua Posyantek, Pak Terimo, menjadi tokoh penting dalam mendorong agar inovasi pakan ikan dari limbah amplang diikutsertakan dalam lomba TTG. Sementara itu, Mardi, warga kreatif Kelurahan Sari Jaya, menjadi pencipta alat pengaduk amplang yang kini menjadi andalan UMKM lokal.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Lurah Agusdina Fitriani, inovasi ini lahir dari keresahan masyarakat terhadap limbah produksi amplang yang tidak dimanfaatkan. Keinginan kuat untuk mengelola limbah secara produktif mendorong lahirnya ide pengolahan menjadi pakan ikan dan pupuk cair. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, produk ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami ingin kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi warga,\u201d ujar Agusdina.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Persiapan menuju lomba TTG dilakukan secara mendadak. Namun, berkat kerja sama yang solid antara Posyantek, KWT, PKK RT, dan masyarakat, ide inovatif ini berhasil diwujudkan. Prosesnya dimulai dengan koordinasi antar kelompok masyarakat untuk mencari ide terbaik. Usulan dari Ketua Posyantek, Pak Terimo, menjadi titik awal pengembangan produk pakan ikan dari limbah amplang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Warga dilibatkan dalam setiap tahapan, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, hingga pengemasan produk. Semangat swadaya menjadi kunci keberhasilan, meski belum ada dukungan dana khusus dari kelurahan. Pihak kelurahan memberikan pendampingan dan motivasi agar inovasi lokal tetap tumbuh dan berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, alat pengaduk amplang karya Mardi menjadi solusi atas tantangan produksi manual yang memakan waktu dan tenaga. Dengan alat ini, proses pengadukan menjadi lebih cepat, efisien, dan hasilnya lebih merata.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penggerak Swadaya Masyarakat Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Ekonomi Desa DPMD Kukar, Ahmad Irji\u2019i, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap semangat peserta TTG tahun ini. Menurutnya, masing-masing peserta menunjukkan ciri khas dan kreativitas yang luar biasa.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDPMD sangat antusias melihat inovasi masyarakat Kukar. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut agar semakin banyak inovasi yang lahir dari desa dan kelurahan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,\u201d tuturnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Agusdina Fitriani berharap ajang TTG ini menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi inovasi masyarakat Kelurahan Sari Jaya. Ia optimis bahwa kelurahan yang dipimpinnya akan terus berkembang menjadi pusat kreativitas dan inspirasi bagi wilayah lain di Kukar.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSemoga ke depan Kelurahan Sari Jaya semakin kreatif, inovatif, dan menjadi inspirasi bagi kelurahan lain di Kukar,\u201d pungkasnya. [] ADVERTORIAL<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA\u00a0&#8211; Kecamatan Sangasanga, yang tampil memukau dalam ajang Penilaian Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dalam lomba yang digelar pada Rabu (15\/10\/2025) di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar.\u00a0 Kelurahan Sari Jaya mengusung dua inovasi unggulan berbasis kearifan lokal: pengolahan limbah amplang menjadi pakan ikan dan pupuk cair organik, serta &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":149697,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,9431],"tags":[],"class_list":["post-149696","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dpmd-kukar"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149696","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=149696"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149696\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":149699,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149696\/revisions\/149699"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/149697"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=149696"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=149696"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=149696"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}