{"id":153543,"date":"2025-11-30T13:44:53","date_gmt":"2025-11-30T05:44:53","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=153543"},"modified":"2025-11-30T13:44:53","modified_gmt":"2025-11-30T05:44:53","slug":"pagar-sekolah-nyaris-runtuh-akibat-hujan-deras","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pagar-sekolah-nyaris-runtuh-akibat-hujan-deras\/","title":{"rendered":"Pagar Sekolah Nyaris Runtuh Akibat Hujan Deras"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>NUNUKAN<\/strong> \u2013 Kekhawatiran warga kembali mencuat setelah pagar SMP Negeri 1 Nunukan tampak semakin kritis kondisinya pascahujan deras yang mengguyur wilayah tersebut beberapa pekan terakhir. Struktur pagar yang berada tepat di depan permukiman warga itu menunjukkan kerusakan signifikan: retak memanjang, posisi miring, serta pondasi yang perlahan turun akibat pergerakan tanah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pantauan di lapangan memperlihatkan perubahan kondisi pagar terjadi cukup cepat. Warga sekitar mengaku waswas karena kerusakan kian parah dan dapat runtuh sewaktu-waktu. Beberapa di antara mereka bahkan berinisiatif memasang tanda peringatan sederhana untuk menghindari kendaraan melintas terlalu dekat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Desakan warga akhirnya sampai ke DPRD Nunukan. Sekretaris Komisi I, Muhammad Mansur, turun langsung ke lokasi untuk melihat kerusakan pada Sabtu (29\/11\/25). Ia menyebut kondisi pagar sudah berada pada tahap darurat dan tidak dapat dibiarkan berlarut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLongsor pagar sekolah makin parah. Kalau tidak segera diperbaiki, kerusakannya bisa melebar dan bisa memakan korban karena posisinya dekat rumah warga dan jalan yang sering dilalui,\u201d kata Mansur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, percepatan perbaikan harus segera dilakukan karena risiko keselamatan semakin besar jika kerusakan dibiarkan tanpa penanganan cepat. \u201cPerlu percepatan perbaikan, jangan sampai nanti ada korban. Ini kondisi yang darurat dan sangat berbahaya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan bahwa infrastruktur pendidikan tidak hanya menyangkut bangunan sekolah, tetapi juga keamanan lingkungan sekitar yang turut memengaruhi kenyamanan belajar siswa. Kerusakan pagar, kata Mansur, dapat berimbas pada aktivitas pembelajaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIntinya, pagar SMP Negeri 1 Nunukan perlu segera diperbaiki. Di sekitar pagar ada rumah warga, kalau ditunda kerusakannya makin besar dan biaya perbaikan bisa lebih mahal,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mansur mendorong agar pemerintah daerah mempertimbangkan penggunaan anggaran darurat agar perbaikan tidak menunggu waktu terlalu lama. \u201cKalau bisa pakai biaya tanggap darurat. Kalau ditunggu APBD, kerusakannya makin besar dan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pihak sekolah yang enggan disebut namanya mengakui bahwa penurunan struktur pagar sudah terjadi sejak lama dan kini kondisinya makin rentan. \u201cKondisi pagar sudah lama rusak dan butuh perbaikan. Kalau dibiarkan, makin bahaya bagi siswa, warga, dan pengguna jalan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Warga berharap penanganan segera dilakukan mengingat musim hujan diprediksi semakin intens. Hingga kini, pagar hanya diberi penanda seadanya sambil menunggu langkah resmi dari pemerintah daerah terkait perbaikan infrastruktur sekolah tersebut. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NUNUKAN \u2013 Kekhawatiran warga kembali mencuat setelah pagar SMP Negeri 1 Nunukan tampak semakin kritis kondisinya pascahujan deras yang mengguyur wilayah tersebut beberapa pekan terakhir. Struktur pagar yang berada tepat di depan permukiman warga itu menunjukkan kerusakan signifikan: retak memanjang, posisi miring, serta pondasi yang perlahan turun akibat pergerakan tanah. Pantauan di lapangan memperlihatkan perubahan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":153544,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,27,2248],"tags":[],"class_list":["post-153543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-utara-kaltara","category-kabupaten-nunukan-provinsi-kalimantan-utara"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/153543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=153543"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/153543\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":153545,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/153543\/revisions\/153545"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/153544"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=153543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=153543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=153543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}