{"id":153994,"date":"2025-12-02T16:18:16","date_gmt":"2025-12-02T08:18:16","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=153994"},"modified":"2025-12-02T16:18:16","modified_gmt":"2025-12-02T08:18:16","slug":"embung-maratua-terhenti-butuh-tambahan-rp15-miliar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/embung-maratua-terhenti-butuh-tambahan-rp15-miliar\/","title":{"rendered":"Embung Maratua Terhenti, Butuh Tambahan Rp15 Miliar"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"309\"><strong>BERAU<\/strong> \u2014 Harapan warga Pulau Maratua untuk segera menikmati manfaat embung yang dibangun pemerintah masih harus tertunda. Proyek yang digadang-gadang menjadi solusi krisis air bersih itu dipastikan belum dapat difungsikan dalam waktu dekat, karena masih membutuhkan tambahan anggaran cukup besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"311\" data-end=\"569\">Embung yang berlokasi di Kecamatan Maratua tersebut ternyata harus diselesaikan secara bertahap, menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Berau, Hendra Pranata, menegaskan bahwa proyek tersebut bukanlah proyek mangkrak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"571\" data-end=\"745\">\u201cJadi itu bukan proyek mangkrak. Karena proses pembangunannya bertahap. Tidak bisa dilakukan dalam satu tahun anggaran,\u201d paparnya, Senin (01\/12\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"747\" data-end=\"1028\">Menurut Hendra, pembangunan embung di wilayah kepulauan memerlukan proses panjang mulai dari perencanaan, pengukuran konstruksi, hingga teknis pemanfaatan. DPUPR Berau memperkirakan total anggaran yang dibutuhkan untuk menyempurnakan fasilitas itu mencapai sekitar Rp15 miliar. \u201cKalau sampai jadi, embungnya itu butuh anggaran sekira Rp15 miliar,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1110\" data-end=\"1299\">Jika pembangunan rampung, embung tersebut digadang menjadi pusat penampungan air baku. Namun, agar air layak dikonsumsi warga, masih diperlukan instalasi pengolahan air bersih tambahan. \u201cKalau untuk air bersih, butuh instalasi pengolahan tambahan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1374\" data-end=\"1525\">Hendra kembali menegaskan bahwa tidak ada kontrak pembangunan yang terbengkalai karena seluruh pekerjaan tahap pertama telah selesai sesuai perjanjian. \u201cMangkrak itu kalau kontraknya ada tapi tidak dikerjakan. Ini kontraknya sudah selesai. Jadi bukan mangkrak,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1648\" data-end=\"1832\">Meski begitu, nasib kelanjutan proyek ini masih bergantung pada ketersediaan anggaran tahun 2026. Kondisi defisit anggaran membuat pembangunan tahap selanjutnya belum dapat dipastikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1834\" data-end=\"1936\">\u201cAnggaran lagi dipotong-potong. Kita belum tahu tahun depan dapat alokasi lagi atau tidak,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1938\" data-end=\"2056\">Ia juga memastikan bahwa konstruksi embung tetap aman dan tidak akan rusak hanya karena menunggu lanjutan pembangunan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2058\" data-end=\"2180\">\u201cKalau dirusak ya rusak, kalau tidak ya tidak rusak. Jadi bukan karena menunggu anggaran lalu otomatis rusak,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2058\" data-end=\"2180\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BERAU \u2014 Harapan warga Pulau Maratua untuk segera menikmati manfaat embung yang dibangun pemerintah masih harus tertunda. Proyek yang digadang-gadang menjadi solusi krisis air bersih itu dipastikan belum dapat difungsikan dalam waktu dekat, karena masih membutuhkan tambahan anggaran cukup besar. Embung yang berlokasi di Kecamatan Maratua tersebut ternyata harus diselesaikan secara bertahap, menyesuaikan kemampuan keuangan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":153995,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[478,17,26],"tags":[],"class_list":["post-153994","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-berau","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/153994","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=153994"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/153994\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":153997,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/153994\/revisions\/153997"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/153995"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=153994"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=153994"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=153994"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}