{"id":154105,"date":"2025-12-03T10:32:40","date_gmt":"2025-12-03T02:32:40","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=154105"},"modified":"2025-12-03T10:32:40","modified_gmt":"2025-12-03T02:32:40","slug":"4-petani-tewas-5-luka-luka-tersambar-petir-di-serang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/4-petani-tewas-5-luka-luka-tersambar-petir-di-serang\/","title":{"rendered":"4 Petani Tewas, 5 Luka-luka Tersambar Petir di Serang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"165\" data-end=\"516\"><strong>BANTEN<\/strong> &#8211; Malapetaka menimpa sembilan petani di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (02\/12\/2025) sore. Saat hujan lebat disertai petir mengguyur, mereka tersambar petir saat berteduh di sebuah gubuk di tengah sawah. Akibat kejadian itu, empat orang meninggal dunia, sedangkan lima lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"518\" data-end=\"945\">Wali Kota Serang, Budi Rustandi, langsung meninjau korban yang dirawat di RS Drajat dan RSUD Kota Serang, sekaligus melayat ke keluarga korban yang meninggal. \u201cDi RS Drajat ada tiga korban, satu tidak tertolong. Satu lagi sudah pulang dan berada di masjid. Di RSUD Kota Serang ada lima korban, tiga di antaranya meninggal, dua sedang dirawat. Ternyata total korbannya sembilan orang,\u201d ujar Budi, Rabu (03\/12\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"947\" data-end=\"1242\">Menurut Budi, salah satu korban sempat menolak dibawa ke rumah sakit. Ia bersama pihak kepolisian dan lurah setempat akan membujuk korban agar segera mendapat perawatan. \u201cInsyaAllah, Pak Lurah, Pak Erwin, warga, dan Kapolsek akan membantu membujuk agar korban dibawa ke rumah sakit,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1244\" data-end=\"1583\">Budi pun mengimbau masyarakat Kota Serang untuk lebih waspada terhadap cuaca ekstrem yang kerap terjadi di awal Desember. \u201cKalau cuaca sedang tidak baik, lebih baik tetap di rumah. Di bulan Desember ini, banyak sekali kejadian bencana. Kita berharap Kota Serang tetap aman dan selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1585\" data-end=\"1861\">Peristiwa ini menambah daftar panjang musibah akibat cuaca ekstrem yang melanda Banten. Petir yang menyambar secara mendadak kerap menimbulkan korban jiwa, terutama di daerah persawahan atau lapangan terbuka yang menjadi tempat berteduh sementara warga saat hujan deras.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1863\" data-end=\"2087\">Warga setempat pun diingatkan untuk selalu waspada dan mengutamakan keselamatan. Para petani diimbau tidak berteduh di gubuk atau tempat terbuka selama hujan lebat disertai petir, dan segera mencari perlindungan yang aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2089\" data-end=\"2244\">Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa bencana alam bisa datang tanpa peringatan, dan kesadaran serta tindakan cepat dapat menyelamatkan nyawa. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2089\" data-end=\"2244\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANTEN &#8211; Malapetaka menimpa sembilan petani di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (02\/12\/2025) sore. Saat hujan lebat disertai petir mengguyur, mereka tersambar petir saat berteduh di sebuah gubuk di tengah sawah. Akibat kejadian itu, empat orang meninggal dunia, sedangkan lima lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit. Wali Kota Serang, Budi Rustandi, langsung meninjau &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":154106,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[7994,17,35],"tags":[],"class_list":["post-154105","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-banten","category-headlines","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=154105"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154105\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":154107,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154105\/revisions\/154107"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/154106"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=154105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=154105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=154105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}