{"id":155055,"date":"2025-12-09T13:45:22","date_gmt":"2025-12-09T05:45:22","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=155055"},"modified":"2025-12-09T13:45:22","modified_gmt":"2025-12-09T05:45:22","slug":"ribuan-pelajar-kapuas-main-kecapi-rekor-muri-terpecah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/ribuan-pelajar-kapuas-main-kecapi-rekor-muri-terpecah\/","title":{"rendered":"Ribuan Pelajar Kapuas Main Kecapi, Rekor MURI Terpecah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KAPUAS <\/strong>\u2013 Upaya Pemerintah Kabupaten Kapuas dalam memperkuat identitas budaya lokal kembali memperoleh pengakuan berskala nasional. Senin (08\/12\/2025), daerah ini berhasil menorehkan rekor baru Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui pagelaran bermain kecapi sambil bersenandung karungut oleh peserta didik terbanyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Rumah Betang Sei Pasah, sebuah lokasi yang memiliki nilai historis dan budaya bagi masyarakat setempat. Ribuan pelajar dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kapuas tampak memadati area tersebut sejak sore hari. Dengan mengenakan pakaian bernuansa budaya Dayak, para peserta duduk berbaris sambil memegang kecapi tradisional yang telah disiapkan panitia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat aba-aba dimulai, suara kecapi berpadu dengan lantunan syair karungut menggema serempak, menciptakan suasana yang merefleksikan kekayaan budaya Kalimantan Tengah. Pelibatan pelajar dalam jumlah besar ini sekaligus menjadi simbol regenerasi budaya yang tetap dijaga melalui jalur pendidikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sambutannya, Bupati Kapuas Wiyatno menegaskan bahwa pencapaian ini bukan semata-mata soal angka. \u201cRekor ini bukan hanya tentang jumlah peserta, tetapi bagaimana generasi muda kita mencintai dan melestarikan budaya daerah,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga menambahkan pentingnya penguatan karakter melalui kesenian. \u201cBudaya adalah jati diri, dan kegiatan seperti ini menjadi cara kita menanamkan kebanggaan kepada anak-anak sejak dini,\u201d ujar Wiyatno.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas, Suwarno Muriyat, menjelaskan bahwa seluruh peserta telah menjalani proses latihan dalam beberapa minggu terakhir. \u201cAnak-anak sudah berlatih cukup lama, dan hari ini kita melihat hasilnya sangat membanggakan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apresiasi datang pula dari Plt Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Leonard S. Ampung. Ia menilai capaian ini merupakan bukti bahwa edukasi budaya dapat dilakukan secara masif dan terstruktur. \u201cKabupaten Kapuas berhasil mencatatkan partisipasi peserta didik terbanyak dalam kegiatan bermain kecapi sambil bersenandung karungut,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rekor tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian seremonial, tetapi juga pemantik semangat pelajar untuk memahami nilai-nilai budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan nasional. Pemerintah daerah menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan program pelestarian seni yang melibatkan generasi muda. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KAPUAS \u2013 Upaya Pemerintah Kabupaten Kapuas dalam memperkuat identitas budaya lokal kembali memperoleh pengakuan berskala nasional. Senin (08\/12\/2025), daerah ini berhasil menorehkan rekor baru Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui pagelaran bermain kecapi sambil bersenandung karungut oleh peserta didik terbanyak. Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Rumah Betang Sei Pasah, sebuah lokasi yang memiliki nilai historis &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":155056,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2259,9195],"tags":[],"class_list":["post-155055","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-tengah","category-kapuas"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155055","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=155055"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155055\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":155057,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155055\/revisions\/155057"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/155056"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=155055"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=155055"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=155055"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}