{"id":158128,"date":"2025-12-29T15:18:59","date_gmt":"2025-12-29T07:18:59","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=158128"},"modified":"2025-12-29T15:18:59","modified_gmt":"2025-12-29T07:18:59","slug":"niat-antar-penumpang-tukang-ojek-disayat-begal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/niat-antar-penumpang-tukang-ojek-disayat-begal\/","title":{"rendered":"Niat Antar Penumpang, Tukang Ojek Disayat Begal"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"473\" data-end=\"764\"><strong>BANTEN<\/strong> \u2013 Kejahatan jalanan kembali menimpa pekerja transportasi informal. Satuan Reserse Kriminal Polres Pandeglang menangkap seorang pria bernama Nuryana (21) yang diduga melakukan pembegalan terhadap seorang tukang ojek pangkalan. Aksi brutal itu dilakukan demi menguasai harta korban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"766\" data-end=\"1034\">Kapolres Pandeglang AKBP Dhyno Indra Setyadi menjelaskan, peristiwa terjadi pada Sabtu (27\/12\/2025) sekitar pukul 01.00 WIB di Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur. Kejadian bermula ketika pelaku bertemu korban di Terminal Labuan dan meminta jasa ojek menuju wilayah Sumur. \u201cPelaku meminta korban untuk mengantarkannya ke daerah Sumur,\u201d ujar AKBP Dhyno Indra Setyadi, Senin (29\/12\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1169\" data-end=\"1345\">Di tengah perjalanan, motor yang dikendarai korban mengalami kerusakan dan terpaksa dibawa ke bengkel. Situasi itu kemudian dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan niat jahatnya. \u201cSaat motor mengalami mogok, pelaku memanfaatkan keadaan dengan membeli sebilah pisau cutter di sebuah warung,\u201d jelas Dhyno.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1475\" data-end=\"1629\">Setelah perjalanan dilanjutkan dan tiba di lokasi tujuan, pelaku tiba-tiba menyerang korban. Dengan menggunakan pisau cutter, pelaku melukai leher korban. \u201cSesampainya di tempat kejadian perkara, pelaku melukai bagian leher korban menggunakan pisau cutter,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1748\" data-end=\"1935\">Korban sempat berupaya melawan, namun pelaku berhasil melarikan diri dengan membawa sepeda motor milik korban. Polisi menyebut motif kejahatan tersebut murni untuk menguasai harta korban. \u201cPelaku melakukan tindakan tersebut dengan tujuan menguasai barang milik korban. Motor hasil kejahatan rencananya akan digunakan untuk membeli telepon genggam,\u201d kata Dhyno.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2113\" data-end=\"2290\">Pelaku berhasil diringkus aparat kepolisian dalam waktu singkat. Kurang dari 24 jam setelah kejadian, Nuryana ditangkap di tempat persembunyiannya di wilayah Kecamatan Cimanggu. \u201cPelaku diamankan tidak sampai 24 jam setelah peristiwa tersebut,\u201d ujar Kapolres.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2377\" data-end=\"2502\">Dalam pemeriksaan, pelaku mengakui membeli pisau cutter di warung dengan harga murah dan menggunakannya untuk melukai korban. \u201cSaya membeli pisau cutter seharga lima ribu rupiah,\u201d kata Nuryana singkat kepada penyidik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2599\" data-end=\"2764\">Kasus ini menjadi peringatan serius bagi aparat dan masyarakat terkait keamanan pekerja ojek pangkalan, khususnya saat beroperasi pada jam-jam rawan di wilayah sepi. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2599\" data-end=\"2764\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANTEN \u2013 Kejahatan jalanan kembali menimpa pekerja transportasi informal. Satuan Reserse Kriminal Polres Pandeglang menangkap seorang pria bernama Nuryana (21) yang diduga melakukan pembegalan terhadap seorang tukang ojek pangkalan. Aksi brutal itu dilakukan demi menguasai harta korban. Kapolres Pandeglang AKBP Dhyno Indra Setyadi menjelaskan, peristiwa terjadi pada Sabtu (27\/12\/2025) sekitar pukul 01.00 WIB di Desa &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":158132,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[7994,17,35],"tags":[],"class_list":["post-158128","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-banten","category-headlines","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158128","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158128"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158128\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":158133,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158128\/revisions\/158133"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/158132"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158128"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158128"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158128"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}