{"id":159540,"date":"2026-01-08T16:59:06","date_gmt":"2026-01-08T08:59:06","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=159540"},"modified":"2026-01-08T16:59:58","modified_gmt":"2026-01-08T08:59:58","slug":"dana-global-masuk-kapuas-revolusi-pengelolaan-sampah-dimulai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dana-global-masuk-kapuas-revolusi-pengelolaan-sampah-dimulai\/","title":{"rendered":"Dana Global Masuk Kapuas, Revolusi Pengelolaan Sampah Dimulai"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"634\" data-end=\"949\"><strong>KAPUAS<\/strong> \u2013 Kabupaten Kapuas mendapat suntikan pendanaan internasional dari Bank Dunia senilai sekitar Rp120 miliar untuk membenahi sistem pengelolaan sampah berbasis Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Terpadu. Program tersebut akan berjalan selama lima tahun melalui fasilitasi Kementerian Dalam Negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"951\" data-end=\"1134\">Masuknya Kapuas sebagai penerima program menandai meningkatnya kepercayaan pemerintah pusat dan lembaga global terhadap kesiapan daerah dalam menjalankan reformasi sektor persampahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1136\" data-end=\"1351\">Sekretaris Daerah Kabupaten Kapuas, Usis I Sangkai, menegaskan bahwa pengelolaan sampah kini tidak lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata, melainkan bagian penting dari transformasi pembangunan nasional. \u201cPengelolaan sampah sekarang menjadi salah satu game changer dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025\u20132045. Kapuas dipercaya untuk mengimplementasikan platform pengelolaan sampah nasional tersebut,\u201d ujarnya, Kamis (08\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1600\" data-end=\"1905\">Ia menjelaskan, pendekatan yang diterapkan mencakup pengelolaan dari hulu hingga hilir, mulai dari pengurangan sampah di sumber, pemilahan, hingga pengolahan akhir. Konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu pilar utama agar sampah memiliki nilai tambah dan tidak semata-mata menjadi beban lingkungan. \u201cKami mendorong agar sampah bisa memiliki nilai ekonomi, bukan hanya dibuang, tetapi diolah sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah,\u201d kata Usis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2074\" data-end=\"2258\">Dari sisi perencanaan, program ini disusun secara terintegrasi dengan prinsip full cost recovery (FCR) untuk menjamin keberlanjutan layanan pengelolaan sampah dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2260\" data-end=\"2399\">Selain itu, tata kelola juga diperkuat dengan pemisahan peran antara regulator dan operator agar sistem berjalan profesional dan akuntabel. \u201cDalam skema ini peran regulator dan operator dipisahkan dengan tegas, sehingga pengelolaan sampah bisa dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2574\" data-end=\"2907\">Program ini turut mendorong keterlibatan aktif masyarakat, peningkatan kapasitas pemerintah daerah, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah Kabupaten Kapuas berharap dukungan pendanaan dan pendampingan dari Bank Dunia mampu mempercepat pembenahan sistem persampahan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2574\" data-end=\"2907\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KAPUAS \u2013 Kabupaten Kapuas mendapat suntikan pendanaan internasional dari Bank Dunia senilai sekitar Rp120 miliar untuk membenahi sistem pengelolaan sampah berbasis Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Terpadu. Program tersebut akan berjalan selama lima tahun melalui fasilitasi Kementerian Dalam Negeri. Masuknya Kapuas sebagai penerima program menandai meningkatnya kepercayaan pemerintah pusat dan lembaga global terhadap kesiapan daerah dalam &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":159541,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2259,9195],"tags":[],"class_list":["post-159540","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-tengah","category-kapuas"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159540","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=159540"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159540\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":159542,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159540\/revisions\/159542"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/159541"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=159540"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=159540"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=159540"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}