{"id":159658,"date":"2026-01-09T15:54:18","date_gmt":"2026-01-09T07:54:18","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=159658"},"modified":"2026-01-09T15:54:18","modified_gmt":"2026-01-09T07:54:18","slug":"enam-jembatan-runtuh-dampak-banjir-bandang-sintang-kian-meluas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/enam-jembatan-runtuh-dampak-banjir-bandang-sintang-kian-meluas\/","title":{"rendered":"Enam Jembatan Runtuh, Dampak Banjir Bandang Sintang Kian Meluas"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"421\" data-end=\"691\"><strong>SINTANG<\/strong> \u2014 Banjir bandang yang menerjang Kecamatan Sepauk dan Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, meninggalkan dampak serius. Sedikitnya empat desa terdampak, sementara sejumlah infrastruktur vital dilaporkan rusak parah akibat derasnya arus air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"693\" data-end=\"1003\">Di Kecamatan Sepauk, banjir bandang menghantam Desa Bernayau dan Desa Nanga Pari. Sementara di Kecamatan Tempunak, bencana serupa melanda Desa Riam Batu dan Desa Benua Kencana. Selain merendam rumah warga, banjir juga merusak akses penghubung antardesa yang selama ini menjadi jalur utama aktivitas masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1005\" data-end=\"1155\">Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala mengungkapkan pihaknya telah menerima laporan kerusakan enam jembatan akibat banjir bandang tersebut. \u201cKami sudah berkomunikasi dengan beberapa perusahaan yang beroperasi di wilayah terdampak. Syukurnya, di sejumlah titik penanganan awal sudah dilakukan, meskipun belum seluruhnya bisa tertangani karena keterbatasan anggaran,\u201d ujar Bala, Jumat (09\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1419\" data-end=\"1620\">Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sintang terus mengoordinasikan penanganan banjir bandang dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar dampak yang dirasakan masyarakat tidak semakin meluas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1622\" data-end=\"1767\">Menurutnya, proses penanganan akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan dan kebutuhan paling mendesak di lapangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1769\" data-end=\"1883\">Terkait kemungkinan penetapan status tanggap darurat bencana, Bala menyebut hal tersebut masih dalam tahap kajian. \u201cUntuk menetapkan status tanggap darurat ada sejumlah syarat dan indikator yang harus dipenuhi. Saat ini masih kami evaluasi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2029\" data-end=\"2178\">Bala juga menyinggung kondisi jembatan di Kilometer 50 Sepauk yang sempat terputus. Ia memastikan akses sementara telah dibuka oleh pihak perusahaan. \u201cPerbaikan permanen memang belum selesai, tetapi jalur alternatif sudah dibuka agar mobilitas warga tetap bisa berjalan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2318\" data-end=\"2471\">Namun, ia mengakui pembangunan jembatan baru tidak bisa dilakukan secara cepat karena membutuhkan mobilisasi material dan perencanaan teknis yang matang. \u201cMembangun jembatan tidak bisa instan. Setidaknya saat ini perusahaan sudah mengambil langkah konkret dan bekerja sama dengan pemerintah daerah,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2475\" data-end=\"2636\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SINTANG \u2014 Banjir bandang yang menerjang Kecamatan Sepauk dan Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, meninggalkan dampak serius. Sedikitnya empat desa terdampak, sementara sejumlah infrastruktur vital dilaporkan rusak parah akibat derasnya arus air. Di Kecamatan Sepauk, banjir bandang menghantam Desa Bernayau dan Desa Nanga Pari. Sementara di Kecamatan Tempunak, bencana serupa melanda Desa Riam Batu &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":159659,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2273,40],"tags":[],"class_list":["post-159658","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kabupaten-sintang-provinsi-kalimantan-barat-kalbar"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159658","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=159658"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159658\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":159660,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159658\/revisions\/159660"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/159659"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=159658"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=159658"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=159658"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}