{"id":159698,"date":"2026-01-09T17:42:10","date_gmt":"2026-01-09T09:42:10","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=159698"},"modified":"2026-01-09T17:42:10","modified_gmt":"2026-01-09T09:42:10","slug":"sirkuit-permanen-dan-gedung-raksasa-jadi-andalan-baru-kotim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sirkuit-permanen-dan-gedung-raksasa-jadi-andalan-baru-kotim\/","title":{"rendered":"Sirkuit Permanen dan Gedung Raksasa Jadi Andalan Baru Kotim"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"300\" data-end=\"557\"><strong>KOTAWARINGIN TIMUR<\/strong> \u2014 Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memancang arah baru penataan kota pada 2026. Pembangunan gedung multiguna berkapasitas besar sekaligus sirkuit balap motor permanen resmi masuk dalam daftar program prioritas daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"559\" data-end=\"785\">Langkah ini tidak semata soal pembangunan fisik, tetapi disebut sebagai jawaban atas persoalan klasik keterbatasan fasilitas publik, khususnya untuk kegiatan berskala besar dan penyaluran minat olahraga otomotif generasi muda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"787\" data-end=\"989\">Bupati Kotim Halikinnor menilai selama ini aktivitas masyarakat, mulai dari upacara resmi hingga ajang balap motor, kerap \u201cbertabrakan\u201d dengan ruang publik karena belum tersedianya fasilitas khusus. \u201cIni bukan sekadar proyek bangunan, tapi solusi atas persoalan yang selama ini berulang. Kita ingin punya gedung multiguna sekaligus arena grasstrack yang layak dan aman untuk anak-anak muda,\u201d ujar Halikinnor, Jumat (09\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1226\" data-end=\"1529\">Ia menyoroti penggunaan taman kota sebagai lintasan balap motor yang dinilai tidak ideal. Selain berisiko, kondisi tersebut juga merusak fasilitas umum. Di sisi lain, kegiatan resmi pemerintah masih bergantung pada lapangan terbuka Stadion 29 November Sampit yang memerlukan biaya perawatan cukup besar. \u201cBalap motor sering memakai taman kota. Sementara upacara dan acara besar selalu di lapangan stadion. Biaya perawatan rumputnya tidak sedikit,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1693\" data-end=\"1986\">Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Kotim menyiapkan lahan sekitar empat hektare untuk kawasan terpadu tersebut. Di lokasi itu akan dibangun gedung dengan daya tampung 5.000 hingga 7.000 orang, lengkap dengan infrastruktur jalan yang dirancang khusus untuk menunjang mobilitas massa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1693\" data-end=\"1986\">\u201cTahun depan kita mulai dengan pemerataan lahan. Gedungnya mampu menampung ribuan orang, lokasinya dekat Bundaran Balanga, masuk sekitar 100 meter. Akses keluar-masuk juga kita siapkan dua jalur,\u201d jelas Halikinnor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2210\" data-end=\"2442\">Dengan hadirnya fasilitas baru ini, pemerintah daerah berharap berbagai kegiatan mulai dari upacara, pameran, hingga event olahraga dapat terpusat di satu kawasan tanpa mengganggu ruang publik dan aktivitas masyarakat di pusat kota. \u201cKe depan, apa pun kegiatannya bisa terpusat di sana. Tidak lagi mengganggu taman kota atau fasilitas umum lainnya,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2446\" data-end=\"2578\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTAWARINGIN TIMUR \u2014 Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memancang arah baru penataan kota pada 2026. Pembangunan gedung multiguna berkapasitas besar sekaligus sirkuit balap motor permanen resmi masuk dalam daftar program prioritas daerah. Langkah ini tidak semata soal pembangunan fisik, tetapi disebut sebagai jawaban atas persoalan klasik keterbatasan fasilitas publik, khususnya untuk kegiatan berskala besar &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":159699,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2259,9287],"tags":[],"class_list":["post-159698","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-tengah","category-pangkalan-bun"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159698","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=159698"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159698\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":159700,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159698\/revisions\/159700"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/159699"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=159698"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=159698"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=159698"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}