{"id":161167,"date":"2026-01-19T13:59:01","date_gmt":"2026-01-19T05:59:01","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=161167"},"modified":"2026-01-19T13:59:01","modified_gmt":"2026-01-19T05:59:01","slug":"gedung-walet-jadi-rumah-tikus-ekonomi-warga-ikut-ambruk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/gedung-walet-jadi-rumah-tikus-ekonomi-warga-ikut-ambruk\/","title":{"rendered":"Gedung Walet Jadi Rumah Tikus, Ekonomi Warga Ikut Ambruk"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"285\" data-end=\"615\"><strong>KOTAWARINGIN TIMUR<\/strong> &#8211; Suara pemikat burung walet yang dulu menjadi \u201cmusik pagi\u201d di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, kini tak lagi sepadan dengan hasil panen. Di balik deretan gedung walet yang menjamur di wilayah ini, tersimpan kenyataan pahit: bisnis sarang walet yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi warga kini meredup drastis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"617\" data-end=\"931\">Samuda dikenal sebagai salah satu sentra walet di Kabupaten Kotawaringin Timur sejak dua dekade terakhir. Namun, banyak bangunan yang dulunya produktif kini justru kosong dan tak terawat. Burung walet seolah menghilang, meninggalkan pengusaha kecil dengan biaya perawatan yang tak lagi sebanding dengan pendapatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"933\" data-end=\"1213\">Pelaku usaha walet setempat, Andika Aridani, menyebut geliat budidaya walet mulai tumbuh pesat sejak 2005, bertepatan dengan meredupnya industri kayu di wilayah Sampit dan sekitarnya. Warga pun beralih ke usaha sarang walet yang kala itu dianggap sebagai ladang emas baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1215\" data-end=\"1306\">Namun kejayaan itu tak bertahan lama. Pandemi menjadi titik balik yang memperparah kondisi. \u201cSekarang kondisinya turun jauh. Hampir 90 persen gedung walet tidak dikelola dengan baik dan akhirnya tidak menghasilkan,\u201d tutur Andika saat ditemui Senin (19\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1484\" data-end=\"1638\">Ia mengungkapkan, masa keemasan bisnis sarang walet terjadi pada rentang 2013 hingga 2017. Saat itu, harga sarang walet bisa menembus angka fantastis. \u201cDulu satu kilogram bisa dihargai sampai Rp25 juta. Kalau panennya bagus, empat kilogram itu bisa tembus Rp100 juta,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1772\" data-end=\"1925\">Bandingkan dengan kondisi saat ini. Harga sarang walet hanya berkisar Rp5\u20136 juta per kilogram, membuat banyak pelaku usaha tak lagi sanggup bertahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1979\" data-end=\"2161\">Menurut Andika, masalah utama bukan semata lingkungan, melainkan kesalahan pola budidaya. Banyak pengusaha baru tergiur keuntungan cepat tanpa memahami siklus hidup burung walet. \u201cBanyak yang tidak sabar. Baru sebulan sudah dipanen, padahal walet masih bertelur. Kalau telurnya diambil, regenerasinya putus,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2306\" data-end=\"2512\">Ia menerangkan, panen ideal dilakukan setiap tiga bulan, setelah burung walet bertelur, menetas, dan anakan mulai tumbuh. Dengan pola ini, populasi burung tetap berkelanjutan dan produksi sarang stabil. \u201cKalau siklusnya dijaga, burungnya terus ada dan sarangnya tidak putus. Ini yang sekarang banyak dilanggar,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2674\" data-end=\"2872\">Selain panen yang keliru, minimnya perawatan gedung juga menjadi penyebab walet enggan bersarang. Gedung yang lembap dan kotor mengundang tikus, burung hantu, hingga kelelawar musuh alami walet. \u201cKalau gedung tidak dibersihkan, hanya mengandalkan suara pemikat, walet tidak akan betah. Begitu ada predator, mereka langsung pindah,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3025\" data-end=\"3121\">Padahal, menurutnya, perawatan rutin dan pemberian pakan tambahan tidak membutuhkan biaya besar. \u201cBiaya pakan sebulan paling sekitar Rp1 juta. Faktor suara itu cuma 20 persen, sisanya lingkungan dan perawatan,\u201d paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3287\" data-end=\"3482\">Andika menilai, secara ekologis wilayah Mentaya Hilir Selatan masih sangat ideal untuk budidaya walet. Kepadatan penduduk yang belum tinggi dan minim kebisingan menjadi keunggulan tersendiri. \u201cWalet sangat sensitif terhadap getaran. Idealnya gedung berjarak 500 meter sampai satu kilometer dari sumber bising,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3617\" data-end=\"3762\">Ia pun berharap pemerintah daerah turun tangan melalui pelatihan dan pembinaan di tingkat desa, agar kesalahan budidaya tidak terus berulang. \u201cKalau dibina dengan benar, industri ini bisa bangkit lagi. Dampaknya besar, bukan hanya untuk pengusaha, tapi juga PAD daerah,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3766\" data-end=\"3906\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTAWARINGIN TIMUR &#8211; Suara pemikat burung walet yang dulu menjadi \u201cmusik pagi\u201d di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, kini tak lagi sepadan dengan hasil panen. Di balik deretan gedung walet yang menjamur di wilayah ini, tersimpan kenyataan pahit: bisnis sarang walet yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi warga kini meredup drastis. Samuda dikenal sebagai salah &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":161168,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2259,2266],"tags":[],"class_list":["post-161167","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161167","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=161167"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161167\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":161169,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161167\/revisions\/161169"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/161168"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=161167"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=161167"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=161167"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}