{"id":161977,"date":"2026-01-24T13:52:08","date_gmt":"2026-01-24T05:52:08","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=161977"},"modified":"2026-01-24T13:52:08","modified_gmt":"2026-01-24T05:52:08","slug":"buang-air-di-belakang-rumah-warga-bontang-disambar-buaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/buang-air-di-belakang-rumah-warga-bontang-disambar-buaya\/","title":{"rendered":"Buang Air di Belakang Rumah, Warga Bontang Disambar Buaya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BONTANG <\/strong>\u2013 Serangan satwa liar kembali terjadi di kawasan permukiman Kota Bontang. Seorang pemuda berinisial F (25), warga Kelurahan Loktuan, nyaris kehilangan nyawa setelah diserang seekor buaya di sekitar kawasan hutan bakau, Kamis 22 Januari 2026 malam. Peristiwa tersebut menjadi peringatan serius bagi warga yang bermukim di wilayah pesisir dan dekat habitat alami satwa liar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Insiden itu terjadi sekitar pukul 21.30 WITA di Jalan RE Martadinata, tepatnya di gang tembusan menuju kawasan PT Black Bear, tidak jauh dari Pelabuhan Loktuan. Saat kejadian, korban hendak buang air besar di area belakang rumahnya karena fasilitas toilet di dalam rumah sedang tidak dapat digunakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Korban menuturkan, lokasi yang dituju hanya berjarak beberapa meter dari rumah dan berbatasan langsung dengan area hutan mangrove. Namun, tanpa disadari, keberadaan buaya di sekitar kawasan tersebut sudah sangat dekat dengan permukiman. \u201cSaat saya berjalan ke arah bakau, tiba-tiba buaya itu meloncat dari bawah dan sempat menarik tubuh saya,\u201d ujar F saat dihubungi, Sabtu (24\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menjelaskan, dirinya berusaha sekuat tenaga untuk melawan demi menyelamatkan diri. \u201cSaya berusaha menendang dan memanjat ke atas. Ukurannya cukup besar, kira-kira panjangnya dua meter,\u201d katanya. Korban beruntung karena kondisi air laut saat itu sedang surut, sehingga ia dapat melepaskan diri dari terkaman reptil tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski berhasil selamat, F mengalami luka cukup serius pada bagian betis kaki kanan akibat gigitan buaya. Ia segera dilarikan ke RS PKT Bontang dan menjalani perawatan intensif. Tim medis melakukan tindakan penjahitan dengan jumlah lebih dari 30 jahitan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSyukur alhamdulillah kondisi saya sekarang sudah membaik. Dirawat selama dua hari dan kemungkinan hari ini sudah diperbolehkan pulang,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa ini kembali menyoroti potensi konflik antara manusia dan satwa liar di kawasan pesisir Bontang. Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas pada malam hari di sekitar area bakau dan perairan, serta segera melaporkan keberadaan buaya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani secara aman. []\n<p>Admin04<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONTANG \u2013 Serangan satwa liar kembali terjadi di kawasan permukiman Kota Bontang. Seorang pemuda berinisial F (25), warga Kelurahan Loktuan, nyaris kehilangan nyawa setelah diserang seekor buaya di sekitar kawasan hutan bakau, Kamis 22 Januari 2026 malam. Peristiwa tersebut menjadi peringatan serius bagi warga yang bermukim di wilayah pesisir dan dekat habitat alami satwa liar. &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":161982,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[475,19,26],"tags":[14398],"class_list":["post-161977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-bontang","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim","tag-teror-buaya"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=161977"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161977\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":161983,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161977\/revisions\/161983"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/161982"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=161977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=161977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=161977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}