{"id":162198,"date":"2026-01-26T09:29:33","date_gmt":"2026-01-26T01:29:33","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=162198"},"modified":"2026-01-26T09:29:33","modified_gmt":"2026-01-26T01:29:33","slug":"bapak-dan-anak-hilang-tertimbun-longsor-saat-bertani-di-pemalang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/bapak-dan-anak-hilang-tertimbun-longsor-saat-bertani-di-pemalang\/","title":{"rendered":"Bapak dan Anak Hilang Tertimbun Longsor Saat Bertani di Pemalang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"347\" data-end=\"620\"><strong>JAWA TENGAH<\/strong> &#8211; Peristiwa longsor kembali terjadi di wilayah selatan Kabupaten Pemalang. Dua orang petani yang merupakan bapak dan anak dilaporkan hilang setelah tertimbun tanah longsor saat menggarap lahan pertanian di kawasan hutan Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Jawa Tengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"622\" data-end=\"920\">Insiden tersebut pertama kali dilaporkan warga pada Minggu (25\/01\/2026) sekitar pukul 06.00 WIB, setelah terjadi pergerakan tanah di area perbukitan yang sedang digarap korban. Hingga Minggu sore, kedua korban belum berhasil ditemukan dan Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian intensif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"922\" data-end=\"1082\">Camat Watukumpul, Arif Rahman Hakim, mengatakan operasi pencarian melibatkan berbagai unsur lintas instansi meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem. \u201cLaporan longsor kami terima pagi hari. Sampai sore tadi sekitar pukul 15.15 WIB, korban belum ditemukan. Seluruh unsur terkait masih melakukan pencarian di lokasi,\u201d ujar Arif kepada wartawan, Senin (26\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1302\" data-end=\"1546\">Menurut Arif, tim gabungan terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, pemerintah desa dan kecamatan, tenaga kesehatan, serta warga setempat. Proses pencarian dilakukan secara manual dengan peralatan terbatas karena medan yang sulit dijangkau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1548\" data-end=\"1699\">Namun, cuaca menjadi kendala utama dalam operasi tersebut. Hujan lebat disertai kabut tebal membuat kondisi di lokasi rawan bagi keselamatan petugas. \u201cApabila kondisi cuaca semakin memburuk, pencarian terpaksa dihentikan sementara. Keselamatan personel menjadi pertimbangan utama,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1844\" data-end=\"2028\">Sementara itu, Handika, petugas Unit Siaga SAR Pemalang dari Basarnas Semarang, menjelaskan pihaknya menerima informasi kejadian pada Minggu pagi dan langsung bergerak ke lokasi. \u201cInformasi kami terima sekitar pukul 10.00 WIB. Lokasi berada di Dukuh Siranti, Desa Bongas. Korban berjumlah dua orang, diketahui bapak dan anak,\u201d jelas Handika.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2195\" data-end=\"2401\">Ia menyebutkan identitas korban masing-masing bernama Hamim dan Aksinudin. Menurutnya, kondisi medan yang curam, hujan terus-menerus, dan kabut tebal menjadi hambatan serius dalam proses evakuasi. \u201cCuaca ekstrem menjadi tantangan utama. Situasi ini cukup membahayakan bagi tim di lapangan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2510\" data-end=\"2661\">Hingga berita ini diturunkan, upaya pencarian masih akan dilanjutkan dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca dan kondisi keamanan di lokasi longsor. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2510\" data-end=\"2661\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAWA TENGAH &#8211; Peristiwa longsor kembali terjadi di wilayah selatan Kabupaten Pemalang. Dua orang petani yang merupakan bapak dan anak dilaporkan hilang setelah tertimbun tanah longsor saat menggarap lahan pertanian di kawasan hutan Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Jawa Tengah. Insiden tersebut pertama kali dilaporkan warga pada Minggu (25\/01\/2026) sekitar pukul 06.00 WIB, setelah terjadi pergerakan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":162199,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,9331,35],"tags":[],"class_list":["post-162198","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-jawa-tengah","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162198","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=162198"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162198\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":162200,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162198\/revisions\/162200"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/162199"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=162198"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=162198"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=162198"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}