{"id":162266,"date":"2026-01-26T14:58:01","date_gmt":"2026-01-26T06:58:01","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=162266"},"modified":"2026-01-26T14:58:01","modified_gmt":"2026-01-26T06:58:01","slug":"belum-masuk-musim-kemarau-kabut-asap-sudah-terasa-di-sampit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/belum-masuk-musim-kemarau-kabut-asap-sudah-terasa-di-sampit\/","title":{"rendered":"Belum Masuk Musim Kemarau, Kabut Asap Sudah Terasa di Sampit"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"421\" data-end=\"797\"><strong>KOTAWARINGIN TIMUR<\/strong> &#8211; Kabut asap tipis kembali terpantau menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menandai munculnya kembali ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di awal 2026. Fenomena ini tidak hanya terlihat pada siang hari, tetapi mulai terasa semakin pekat pada malam hari dan memicu kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kesehatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"799\" data-end=\"1049\">Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotim Riskon Fabiansyah menilai kemunculan asap sejak Januari menjadi sinyal peringatan serius yang tidak boleh diabaikan. Ia menyebut kondisi tersebut mulai dirasakan warga pada jam-jam tertentu, terutama larut malam. \u201cDalam beberapa hari terakhir, asap mulai terasa pada malam hari, khususnya setelah pukul 22.00. Kondisi ini sudah cukup mengganggu pernapasan warga,\u201d ujar Riskon, Senin (26\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1245\" data-end=\"1539\">Menurutnya, kemunculan kabut asap di awal tahun ini harus menjadi alarm bersama, terutama di tengah tren curah hujan yang mulai berkurang dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Situasi tersebut dinilai meningkatkan risiko kebakaran lahan jika tidak diantisipasi sejak dini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1541\" data-end=\"1795\">Riskon mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang telah kembali mengaktifkan posko siaga karhutla sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan. Ia berharap keberadaan posko tersebut benar-benar dioptimalkan untuk merespons potensi kebakaran di lapangan. \u201cPosko siaga ini penting agar penanganan bisa cepat, terarah, dan tidak terlambat ketika api mulai muncul,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1921\" data-end=\"2120\">Ia juga mengingatkan bahwa Kotawaringin Timur sejatinya telah memiliki peraturan daerah tentang penanggulangan karhutla, yang mengatur pencegahan, penanganan, hingga pelibatan relawan peduli api. \u201cAturannya sudah ada. Di dalam perda jelas mengamanatkan keterlibatan relawan peduli api sebagai garda terdepan,\u201d ungkap Riskon.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2258\" data-end=\"2444\">Karena itu, ia mendorong adanya konsolidasi yang lebih intensif terhadap relawan, mulai dari tingkat desa dan kelurahan hingga kecamatan, agar kesiapsiagaan benar-benar berjalan efektif. \u201cRelawan ini ujung tombak. Kalau mereka aktif dan terkoordinasi dengan baik, potensi kebakaran bisa ditekan sebelum meluas,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2588\" data-end=\"2761\">Selain peran pemerintah dan relawan, Riskon menekankan pentingnya kesadaran masyarakat, terutama dalam aktivitas pembukaan lahan di tengah kondisi cuaca yang semakin kering. \u201cSaya mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Cara ini berisiko tinggi dan dampaknya langsung dirasakan warga sekitar,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2928\" data-end=\"3065\">Menurutnya, karhutla bukan hanya soal kerugian lahan, tetapi juga persoalan kesehatan publik dan kenyamanan hidup masyarakat secara luas. \u201cKalau terjadi kebakaran, yang terdampak bukan hanya pemilik lahan, tapi seluruh lingkungan di sekitarnya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3191\" data-end=\"3349\">Riskon berharap, melalui sinergi antara pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat, potensi karhutla di Kotim sepanjang 2026 dapat ditekan semaksimal mungkin. \u201cKuncinya ada pada kepedulian bersama. Kalau semua bergerak sejak awal, dampak buruk karhutla bisa kita cegah,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3353\" data-end=\"3480\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTAWARINGIN TIMUR &#8211; Kabut asap tipis kembali terpantau menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menandai munculnya kembali ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di awal 2026. Fenomena ini tidak hanya terlihat pada siang hari, tetapi mulai terasa semakin pekat pada malam hari dan memicu kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kesehatan. Wakil Ketua &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":162267,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2259,2266],"tags":[],"class_list":["post-162266","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=162266"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162266\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":162268,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162266\/revisions\/162268"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/162267"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=162266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=162266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=162266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}