{"id":162295,"date":"2026-01-26T16:12:58","date_gmt":"2026-01-26T08:12:58","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=162295"},"modified":"2026-01-26T16:12:58","modified_gmt":"2026-01-26T08:12:58","slug":"sendirian-di-kebun-sawit-bayi-orangutan-kutim-nyaris-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sendirian-di-kebun-sawit-bayi-orangutan-kutim-nyaris-mati\/","title":{"rendered":"Sendirian di Kebun Sawit, Bayi Orangutan Kutim Nyaris Mati"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"364\" data-end=\"685\"><strong>KUTAI TIMUR<\/strong> &#8211; Di tengah hamparan kebun kelapa sawit di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, harapan hidup seekor bayi orangutan nyaris padam. Bayi orangutan jantan yang kemudian diberi nama Jack itu ditemukan warga dalam kondisi mengenaskan di bawah pohon sawit, terpisah dari induknya, pada 30 November 2025.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"687\" data-end=\"1035\">Saat pertama kali ditemukan, Jack mengalami demam, tubuhnya sangat kurus, serta luka di telapak tangan dan kaki. Bayi orangutan yang diperkirakan belum genap berusia satu tahun itu sempat dirawat secara sederhana oleh sebuah keluarga warga selama tiga hari, sebelum akhirnya dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1037\" data-end=\"1218\">Founder sekaligus Direktur Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menyebut laporan warga menjadi titik balik penyelamatan Jack dari kondisi yang mengancam nyawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1220\" data-end=\"1428\">\u201cWarga menemukannya sendirian di area kebun sawit. Setelah dirawat seadanya, mereka menyadari kondisi Jack membutuhkan penanganan khusus dan segera melaporkannya ke BKSDA,\u201d tutur Paulinus, Minggu (25\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1430\" data-end=\"1628\">Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA Kalimantan Timur mengevakuasi Jack dan menyerahkannya ke CAN untuk menjalani perawatan medis serta rehabilitasi intensif di Pusat Penyelamatan Satwa Long Sam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1630\" data-end=\"1836\">Kondisi Jack saat pertama tiba di pusat perawatan jauh dari ideal. Selain demam dan stres berat, hasil pemeriksaan menunjukkan Body Condition Score (BCS) berada di angka 1, menandakan kekurangan gizi parah. \u201cTubuhnya sangat lemah, terlihat stres, suhu tubuh tinggi, dan ada luka akibat duri yang bahkan sudah bernanah,\u201d ungkap Paulinus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1969\" data-end=\"2189\">Pemeriksaan medis awal juga menemukan Jack mengalami dehidrasi ringan. Luka lecet di telapak tangan dan kaki diduga akibat duri tajam kelapa sawit, bahkan satu duri masih tertanam di telapak kaki kiri dan memicu infeksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2191\" data-end=\"2378\">Berdasarkan pengamatan pertumbuhan gigi, usia Jack diperkirakan belum mencapai satu tahun. Pada usia tersebut, orangutan seharusnya masih sepenuhnya bergantung pada induknya di alam liar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2380\" data-end=\"2562\">Setelah menjalani perawatan intensif oleh tim medis dan animal keeper CAN, kondisi Jack berangsur membaik. Demam mulai turun, nafsu makan meningkat, dan luka-luka perlahan mengering. \u201cSekarang respons tubuhnya jauh lebih baik. Luka yang sempat bernanah sudah mulai sembuh dan kondisinya stabil,\u201d jelas Paulinus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2694\" data-end=\"2944\">Hasil pemeriksaan lanjutan, termasuk tes darah dan feses, tidak menemukan gangguan kesehatan serius maupun infeksi parasit. Jack pun mulai diperkenalkan ke area bermain khusus rehabilitasi dan berinteraksi dengan dua orangutan lain, Hannes dan Lukas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2946\" data-end=\"3157\">Meski masih cenderung menyendiri, perilaku Jack dinilai wajar untuk fase adaptasi awal. \u201cIni justru sinyal positif. Dia mulai merasa aman dan tidak lagi menunjukkan ketakutan berlebih terhadap manusia,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3159\" data-end=\"3326\">Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, membenarkan bahwa Jack merupakan satwa dilindungi yang diamankan dari masyarakat untuk diselamatkan. \u201cBegitu kami menerima informasi adanya bayi orangutan di pinggir kebun warga, petugas langsung bergerak dan mengevakuasinya untuk direhabilitasi,\u201d kata Ari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3486\" data-end=\"3720\">Ia menegaskan, tujuan utama rehabilitasi adalah memulihkan kesehatan dan perilaku alami Jack agar kelak bisa kembali hidup liar. \u201cTarget akhirnya adalah pelepasliaran, tentu setelah seluruh tahapan dinyatakan aman dan layak,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3722\" data-end=\"3976\">Kasus temuan bayi orangutan di kawasan perkebunan kembali menyoroti persoalan serius menyusutnya habitat satwa liar akibat alih fungsi hutan. Anak orangutan yang terpisah dari induknya memiliki peluang hidup yang sangat kecil tanpa campur tangan manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3978\" data-end=\"4213\">Bagi Jack, penyelamatan ini menjadi awal perjalanan panjang menuju kebebasan. Bagi manusia, kisahnya menjadi pengingat bahwa ruang hidup satwa liar semakin sempit, dan keputusan manusia sering kali menentukan hidup atau matinya mereka. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3978\" data-end=\"4213\">Admin03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI TIMUR &#8211; Di tengah hamparan kebun kelapa sawit di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, harapan hidup seekor bayi orangutan nyaris padam. Bayi orangutan jantan yang kemudian diberi nama Jack itu ditemukan warga dalam kondisi mengenaskan di bawah pohon sawit, terpisah dari induknya, pada 30 November 2025. Saat pertama kali ditemukan, Jack &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":162296,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,26,480],"tags":[],"class_list":["post-162295","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-timur"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162295","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=162295"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162295\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":162297,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162295\/revisions\/162297"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/162296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=162295"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=162295"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=162295"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}