{"id":164077,"date":"2026-02-04T19:18:21","date_gmt":"2026-02-04T11:18:21","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=164077"},"modified":"2026-02-04T19:18:21","modified_gmt":"2026-02-04T11:18:21","slug":"orangutan-cari-makan-di-sampah-alarm-keras-untuk-kutim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/orangutan-cari-makan-di-sampah-alarm-keras-untuk-kutim\/","title":{"rendered":"Orangutan Cari Makan di Sampah, Alarm Keras untuk Kutim"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUTAI TIMUR<\/strong> \u2013 Potret memilukan seekor orangutan yang mengais sisa makanan di tumpukan sampah liar di tepi Jalan Poros Sangatta\u2013Bengalon membuka kembali luka lama soal menyempitnya ruang hidup satwa liar. Video yang viral di media sosial itu direkam di kawasan Bengalon, wilayah yang kini menjadi jalur lintasan orangutan setelah hutan alaminya terbelah oleh tambang batu bara dan perkebunan kelapa sawit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rekaman tersebut segera memicu respons cepat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitra konservasi. Tim gabungan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi satwa dan potensi ancaman di lokasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelusuran akhirnya membuahkan hasil. Seekor orangutan jantan dewasa berhasil dilacak dan diamankan tidak jauh dari titik sampah pada Rabu 27 Januari 2026. Identifikasi dilakukan melalui kombinasi pelacakan lapangan dan informasi warga sekitar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyebut keberadaan orangutan tersebut dipastikan masih berada di wilayah Kutai Timur dan beraktivitas di sekitar jalur poros yang ramai kendaraan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1482\" data-end=\"1677\">\u201cBegitu video itu beredar, kami langsung menurunkan tim penyelamatan satwa. Dari hasil pengecekan, individu tersebut memang berkeliaran di koridor Sangatta\u2013Bengalon,\u201d jelasnya, Selasa (03\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil pemeriksaan medis menunjukkan orangutan tersebut berusia sekitar 18 hingga 20 tahun. Kondisi kesehatannya dinyatakan baik dan naluri liarnya masih kuat, sehingga tidak diperlukan rehabilitasi jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1896\" data-end=\"2058\">\u201cSecara medis tidak ada masalah. Karena masih liar dan tidak tergantung manusia, kami memilih segera mengembalikannya ke kawasan hutan yang lebih aman,\u201d ujar Ari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Satwa itu kemudian dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, yang dinilai lebih layak sebagai habitat alami. Langkah cepat ini diambil mengingat risiko tinggi jika orangutan terus berada di sekitar jalan raya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2303\" data-end=\"2453\">\u201cArea tersebut sangat berbahaya. Lalu lintas padat, aktivitas manusia tinggi, dan tidak menyediakan ruang hidup yang memadai bagi orangutan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, Director CAN Borneo, Paulinus Kristanto, menyoroti fakta bahwa lokasi tempat orangutan mencari makan merupakan titik pembuangan sampah ilegal yang telah lama ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2635\" data-end=\"2782\">\u201cItu bukan tempat pembuangan resmi. Sampah rumah tangga dibuang begitu saja, sementara hutan di sekelilingnya sudah nyaris habis,\u201d ungkap Paulinus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menjelaskan, jarak antara lokasi sampah dan area tambang hanya puluhan meter. Kondisi ini membuat orangutan kehilangan sumber pakan alami dan terdorong mendekati aktivitas manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2971\" data-end=\"3110\">\u201cKetika hutan terfragmentasi, satwa akan mencari opsi paling mudah untuk bertahan hidup. Sampah manusia menjadi pilihan terakhir,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paulinus mengingatkan, kebiasaan membuang sisa makanan di pinggir jalan berpotensi mengubah perilaku satwa liar secara permanen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3244\" data-end=\"3426\">\u201cJika orangutan terbiasa dengan makanan manusia, risikonya besar. Mereka bisa masuk ke permukiman atau berkeliaran di jalan, dan itu berbahaya bagi satwa maupun manusia,\u201d pungkasnya. []\n<p data-start=\"3244\" data-end=\"3426\">Redaksi4<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI TIMUR \u2013 Potret memilukan seekor orangutan yang mengais sisa makanan di tumpukan sampah liar di tepi Jalan Poros Sangatta\u2013Bengalon membuka kembali luka lama soal menyempitnya ruang hidup satwa liar. Video yang viral di media sosial itu direkam di kawasan Bengalon, wilayah yang kini menjadi jalur lintasan orangutan setelah hutan alaminya terbelah oleh tambang batu &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":164079,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,480],"tags":[9558],"class_list":["post-164077","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-timur","tag-orangutan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=164077"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164077\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":164081,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164077\/revisions\/164081"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/164079"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=164077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=164077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=164077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}