{"id":164533,"date":"2026-02-06T19:25:04","date_gmt":"2026-02-06T11:25:04","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=164533"},"modified":"2026-02-06T19:25:04","modified_gmt":"2026-02-06T11:25:04","slug":"bupati-berau-dorong-pesisir-kreatif-pariwisata-dan-lingkungan-jadi-fokus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/bupati-berau-dorong-pesisir-kreatif-pariwisata-dan-lingkungan-jadi-fokus\/","title":{"rendered":"Bupati Berau Dorong Pesisir Kreatif, Pariwisata dan Lingkungan Jadi Fokus"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"400\" data-end=\"640\"><strong>BERAU<\/strong> \u2014 Di tengah keterbatasan anggaran, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan pembangunan tidak boleh kehilangan arah. Hal ini disampaikan saat Musrenbang Penyusunan RKPD Tahun 2027 di Kecamatan Biduk-Biduk, Kamis malam (05\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"642\" data-end=\"836\">\u201cKita memang menghadapi efisiensi fiskal, tapi justru ini mendorong kita berpikir lebih kreatif, mandiri, dan fokus pada kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah pesisir,\u201d ujar Sri Juniarsih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"838\" data-end=\"1178\">Bupati menekankan setiap program pemerintah harus memberi dampak nyata bagi masyarakat. Fokus pembangunan diarahkan pada pemanfaatan fasilitas yang ada, penguatan layanan dasar, serta pengembangan potensi lokal yang berkelanjutan. \u201cEfisiensi bukan berarti berhenti bekerja. Kita dituntut lebih cermat, cepat, dan tepat sasaran,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1180\" data-end=\"1419\">Sektor kesehatan menjadi sorotan utama. Sri Juniarsih meminta OPD terkait menargetkan optimalisasi Puskesmas pembantu, dengan pelayanan kesehatan, tenaga medis, dan fasilitas penunjang yang memadai untuk menjawab kebutuhan warga kampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1421\" data-end=\"1706\">Di bidang infrastruktur, Bupati menekankan keberanian bertindak cepat. Pemanfaatan dana tanggap darurat dinilai cukup untuk menyelesaikan pekerjaan mendesak. \u201cKerjakan dulu yang paling dibutuhkan. Estetika dan pengembangan lanjutan bisa menyusul sesuai kemampuan anggaran,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1708\" data-end=\"2019\">Selain itu, Sri Juniarsih menyoroti potensi ekonomi wilayah pesisir yang selama ini belum tergarap optimal. Kelapa disebut sebagai komoditas unggulan yang bisa dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, mulai dari olahan sederhana hingga produk berkelanjutan yang mampu meningkatkan pendapatan asli kampung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2021\" data-end=\"2246\">Persoalan lingkungan juga menjadi perhatian serius. Menurut Bupati, penanganan sampah membutuhkan sinergi lintas sektor. \u201cLingkungan bersih adalah pondasi kesehatan dan pariwisata. Ini tanggung jawab kita bersama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2248\" data-end=\"2567\">Bupati juga menekankan pentingnya standar pelayanan homestay dan penginapan di kampung-kampung pesisir, mulai dari kebersihan, kenyamanan, hingga akses internet. \u201cPeningkatan fasilitas, termasuk penyediaan jaringan internet mandiri, adalah investasi yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat Berau,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2248\" data-end=\"2567\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BERAU \u2014 Di tengah keterbatasan anggaran, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan pembangunan tidak boleh kehilangan arah. Hal ini disampaikan saat Musrenbang Penyusunan RKPD Tahun 2027 di Kecamatan Biduk-Biduk, Kamis malam (05\/02\/2026). \u201cKita memang menghadapi efisiensi fiskal, tapi justru ini mendorong kita berpikir lebih kreatif, mandiri, dan fokus pada kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah pesisir,\u201d &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":164534,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[478,26],"tags":[],"class_list":["post-164533","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-berau","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164533","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=164533"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164533\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":164535,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164533\/revisions\/164535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/164534"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=164533"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=164533"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=164533"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}