{"id":164789,"date":"2026-02-09T08:56:30","date_gmt":"2026-02-09T00:56:30","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=164789"},"modified":"2026-02-09T08:56:30","modified_gmt":"2026-02-09T00:56:30","slug":"kapal-tak-beroperasi-kebutuhan-pokok-mulai-terdampak-di-mahulu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kapal-tak-beroperasi-kebutuhan-pokok-mulai-terdampak-di-mahulu\/","title":{"rendered":"Kapal Tak Beroperasi, Kebutuhan Pokok Mulai Terdampak di Mahulu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"235\" data-end=\"605\"><strong>MAHAKAM ULU<\/strong> \u2013 Terhentinya pelayaran angkutan sungai menuju Kutai Barat dan Mahakam Ulu (Mahulu) selama hampir dua pekan terakhir mulai berdampak pada distribusi barang kebutuhan pokok di wilayah hulu Sungai Mahakam. Di Ujoh Bilang, Mahulu, masyarakat mulai merasakan keterbatasan ketersediaan air mineral, meskipun harga sejumlah bahan pangan utama masih relatif stabil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"607\" data-end=\"922\">Seorang pedagang di Ujoh Bilang, Eka (nama samaran), mengatakan gangguan distribusi terjadi karena kapal angkutan orang dan barang tidak dapat beroperasi akibat kekosongan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan barang dari Samarinda menuju wilayah hulu Mahakam tersendat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"924\" data-end=\"1117\">\u201ckapal tidak beroperasi. Akibatnya, barang-barang yang biasanya rutin masuk sekarang terlambat, bahkan belum ada kepastian pengiriman,\u201d ujar Eka saat ditemui di Ujoh Bilang, Sabtu (07\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1119\" data-end=\"1358\">Eka mengungkapkan, hingga kini sebagian besar pemasok belum memberikan kepastian jadwal pengiriman. Informasi terakhir yang diterimanya menyebutkan salah satu kapal penumpang dan barang dijadwalkan kembali berlayar pada Selasa pekan depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1360\" data-end=\"1523\">\u201cKalau kapal sudah berangkat dari Samarinda, biasanya dua hari perjalanan baru sampai ke Ujoh Bilang. Tapi sampai sekarang kami masih menunggu kepastian,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1525\" data-end=\"1844\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-164921\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/photo_6068782574890323677_y.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"462\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/photo_6068782574890323677_y.jpg 1280w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/photo_6068782574890323677_y-300x198.jpg 300w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/photo_6068782574890323677_y-1024x676.jpg 1024w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/photo_6068782574890323677_y-768x507.jpg 768w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/photo_6068782574890323677_y-310x205.jpg 310w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/>Keterlambatan pengiriman tersebut berdampak langsung pada ketersediaan barang di tingkat pedagang eceran. Menurut Eka, komoditas yang paling terdampak adalah air mineral. Pasokan air mineral, baik kemasan besar maupun kecil, mulai menipis karena hanya sedikit barang yang sempat masuk sebelum kapal berhenti beroperasi. \u201cAir mineral yang datang hanya sedikit. Itu pun cepat habis. Biasanya mudah dicari, sekarang susah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1957\" data-end=\"2222\">Terbatasnya pasokan juga memicu kenaikan harga air mineral kemasan besar. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp90.000 per dus, kini harga berada di kisaran Rp100.000 per dus. \u201cKenaikan ini bukan untuk ambil untung besar, tapi karena memang stoknya terbatas,\u201d jelas Eka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2224\" data-end=\"2520\">Sementara itu, harga gula pasir di Ujoh Bilang masih relatif stabil meskipun pasokannya terbatas. Stok yang tersedia hanya beberapa karung dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. \u201cGula masih kami jual normal, sekitar Rp22.000 per kilogram. Kenaikannya tidak signifikan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2522\" data-end=\"2741\">Ia menilai kenaikan harga gula masih dalam batas wajar dan belum memberatkan warga. Untuk komoditas minyak goreng, ketersediaan masih tergolong aman karena stok berasal dari pengiriman sebelum kapal berhenti beroperasi.\u00a0 \u201cMinyak goreng masih ada, belum berdampak. Kami sempat belanja sebelum kapal berhenti,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2841\" data-end=\"3170\">Meski demikian, Eka mengingatkan bahwa apabila gangguan pelayaran berlangsung lebih lama, bukan tidak mungkin komoditas lain turut mengalami kelangkaan. Ia berharap operasional kapal angkutan sungai dapat segera kembali normal agar distribusi barang kebutuhan pokok ke Mahakam Ulu, khususnya Ujoh Bilang, tidak semakin terganggu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3172\" data-end=\"3298\">\u201cKalau kapal sudah jalan lagi, mudah-mudahan kondisi kembali normal. Sekarang kami bertahan dengan stok yang ada,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3172\" data-end=\"3298\">Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAHAKAM ULU \u2013 Terhentinya pelayaran angkutan sungai menuju Kutai Barat dan Mahakam Ulu (Mahulu) selama hampir dua pekan terakhir mulai berdampak pada distribusi barang kebutuhan pokok di wilayah hulu Sungai Mahakam. Di Ujoh Bilang, Mahulu, masyarakat mulai merasakan keterbatasan ketersediaan air mineral, meskipun harga sejumlah bahan pangan utama masih relatif stabil. Seorang pedagang di Ujoh &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":164793,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,1173],"tags":[6702,7468],"class_list":["post-164789","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-mahakam-ulu-kalimantan-timur","tag-mahulu","tag-sembako"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164789","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=164789"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164789\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":164922,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164789\/revisions\/164922"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/164793"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=164789"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=164789"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=164789"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}