{"id":165086,"date":"2026-02-09T20:03:01","date_gmt":"2026-02-09T12:03:01","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=165086"},"modified":"2026-02-09T20:03:01","modified_gmt":"2026-02-09T12:03:01","slug":"infrastruktur-sekolah-dan-jalan-jadi-sorotan-dprd-bontang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/infrastruktur-sekolah-dan-jalan-jadi-sorotan-dprd-bontang\/","title":{"rendered":"Infrastruktur Sekolah dan Jalan Jadi Sorotan DPRD Bontang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"367\" data-end=\"573\"><strong>BONTANG<\/strong> \u2013 Rencana pembangunan 15 lapangan mini soccer di setiap kelurahan di Kota Bontang menuai sorotan DPRD. Warga menilai proyek tersebut berpotensi boros di tengah keterbatasan anggaran APBD saat ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"575\" data-end=\"862\">Wakil Ketua Komisi C DPRD Bontang, M. Sahib, menyampaikan, pembangunan lapangan mini soccer merupakan janji politik Wali Kota Neni Moerniaeni dan Wakil Wali Kota Agus Haris saat kampanye. Namun, ia menekankan, kepala daerah harus bijak dalam menyesuaikan program dengan kondisi fiskal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"864\" data-end=\"1104\">\u201cAPBD kita mengalami penurunan signifikan. Jadi, pemerintah perlu memprioritaskan kebutuhan masyarakat yang paling mendesak. Meski janji politik tetap penting, saat ini ada persoalan lain yang lebih krusial,\u201d kata Sahib, Senin (09\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1106\" data-end=\"1419\">Menurutnya, jika pemerintah menilai lapangan mini soccer memang sangat dibutuhkan, pembangunan tetap bisa dilanjutkan. Namun, skala prioritas saat ini harus diberikan pada program yang berdampak luas bagi warga, seperti pembangunan infrastruktur sekolah, penanganan banjir, dan perbaikan jalan yang rusak parah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1421\" data-end=\"1679\">Salah satu contoh adalah kondisi jalan di RT 01, Kelurahan Kanaan, Bontang Barat, yang masih berupa tanah dan rawan becek saat hujan. Anggaran yang dialokasikan untuk lapangan mini soccer sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki akses jalan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1681\" data-end=\"1900\">\u201cBeberapa waktu lalu, Komisi C melakukan sidak. Kami melihat banyak jalan masih hancur dan belum beraspal. Lapangan mini soccer memang bagus, tapi tidak semua warga merasakan manfaatnya secara langsung,\u201d tambah Sahib.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1902\" data-end=\"2202\">Meski demikian, ia menegaskan bahwa kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bontang baru berjalan satu tahun, sehingga masih banyak waktu untuk menyeimbangkan pembangunan. Pemerintah diharapkan tetap bekerja maksimal agar seluruh program, termasuk janji politik, bisa terealisasi secara efektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2204\" data-end=\"2423\">\u201cMasih ada banyak persoalan yang bisa diselesaikan, termasuk banjir dan penguatan pendidikan. Stimulus dan anggaran yang ada harus tepat sasaran, agar masyarakat benar-benar merasakan hadirnya pemerintah,\u201d ujar Sahib. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2204\" data-end=\"2423\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BONTANG \u2013 Rencana pembangunan 15 lapangan mini soccer di setiap kelurahan di Kota Bontang menuai sorotan DPRD. Warga menilai proyek tersebut berpotensi boros di tengah keterbatasan anggaran APBD saat ini. Wakil Ketua Komisi C DPRD Bontang, M. Sahib, menyampaikan, pembangunan lapangan mini soccer merupakan janji politik Wali Kota Neni Moerniaeni dan Wakil Wali Kota Agus &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":165088,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[475,19,26],"tags":[],"class_list":["post-165086","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-bontang","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/165086","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=165086"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/165086\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":165091,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/165086\/revisions\/165091"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/165088"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=165086"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=165086"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=165086"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}