{"id":165989,"date":"2026-02-13T17:09:51","date_gmt":"2026-02-13T09:09:51","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=165989"},"modified":"2026-02-13T18:35:07","modified_gmt":"2026-02-13T10:35:07","slug":"kerupuk-ikan-gabus-monika-bertahan-sejak-2010-di-muara-muntai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kerupuk-ikan-gabus-monika-bertahan-sejak-2010-di-muara-muntai\/","title":{"rendered":"Kerupuk Ikan Gabus \u201cMonika\u201d, Bertahan Sejak 2010 di Muara Muntai"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\"><strong>KUTAI KARTANEGARA<\/strong> \u2013 Di tengah keterbatasan akses industri besar di wilayah pedesaan, usaha rumahan Kerupuk Ikan Gabus \u201cMonika\u201d milik Nilawati di Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus bertahan dan berkembang sejak dirintis pada 2010. Dengan mengandalkan bahan baku lokal yang diambil langsung dari sungai, usaha ini menjadi contoh ketahanan ekonomi berbasis sumber daya alam sekaligus kemandirian masyarakat desa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\nUsaha kerupuk ikan gabus ini telah berjalan lebih dari satu dekade dan hingga kini masih dikelola secara mandiri oleh Nilawati bersama keluarga. Tidak ada karyawan tetap yang direkrut dalam proses produksi. Seluruh tahapan, mulai dari pengolahan bahan baku, pencetakan adonan, pengeringan, hingga pengemasan, dilakukan sendiri dan dibantu oleh saudara terdekat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\nNilawati menjelaskan, ikan gabus yang menjadi bahan utama kerupuk diperoleh langsung dari sungai-sungai di sekitar Muara Muntai. Cara ini dipilih sejak awal untuk menjaga kualitas bahan baku tetap segar sekaligus menekan biaya produksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\n\u201cDari awal usaha ini memang kami jalankan secara mandiri. Bahan bakunya kami ambil sendiri dari sungai, jadi kualitas ikan tetap terjaga,\u201d ujar Nilawati saat diwawancarai di Muara Muntai Ilir, Kamis (12\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\nDalam proses produksi, peralatan yang digunakan masih bersifat manual dan tradisional. Mulai dari pengolahan ikan, pencampuran adonan, hingga pencetakan kerupuk dilakukan tanpa mesin modern. Pengeringan kerupuk pun masih mengandalkan sinar matahari sebagai metode utama. Faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga konsistensi produksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\n\u201cKalau cuaca bagus, sehari sudah kering. Tapi kalau mendung atau setengah cerah, bisa dua hari baru benar-benar kering,\u201d jelas Nilawati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">Kondisi tersebut kerap memengaruhi jadwal produksi, terutama saat musim hujan berkepanjangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\nSelain cuaca, kendala lain yang dihadapi adalah ketersediaan bahan baku ikan gabus. Pada musim tertentu, seperti saat banjir atau ketika debit air sungai tinggi, ikan gabus menjadi lebih sulit didapat. Hal ini berdampak langsung pada jumlah produksi harian. Meski demikian, Nilawati berupaya tetap menjaga kualitas produk dengan tidak mengganti bahan baku utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\nKerupuk Ikan Gabus \u201cMonika\u201d diproduksi dalam dua varian ukuran kemasan, yakni 250 gram dengan harga Rp25.000 dan 500 gram seharga Rp50.000. Dalam kondisi normal, produksi kerupuk dapat mencapai sekitar 30 kilogram per hari. Dengan distribusi yang stabil, usaha ini mampu menghasilkan keuntungan bersih hingga Rp25 juta per bulan, angka yang tergolong signifikan untuk usaha skala industri rumahan di pedesaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\nUntuk pemasaran, Nilawati mengandalkan sistem penjualan berdasarkan pesanan. Selain pemasaran konvensional, promosi produk juga dilakukan melalui media sosial, khususnya Facebook, guna menjangkau konsumen yang lebih luas. Strategi pemasaran digital ini dinilai cukup efektif dalam memperkenalkan produk ke luar daerah meskipun masih terbatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\nSaat ini, pemasaran Kerupuk Ikan Gabus \u201cMonika\u201d masih didominasi wilayah Kalimantan Timur, seperti Balikpapan, Melak, dan sekitarnya. Permintaan dari luar daerah, termasuk Pulau Jawa, mulai muncul meski belum bersifat rutin.\u201cKalau pesanan dari luar daerah seperti Jawa ada, tapi masih jarang,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"309\" data-end=\"780\">\nKeberadaan usaha Kerupuk Ikan Gabus \u201cMonika\u201d tidak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga berpotensi menjadi produk unggulan lokal Desa Muara Muntai Ilir. Dengan bahan baku alami, cita rasa khas, serta konsistensi produksi sejak 2010, usaha ini membuktikan bahwa industri rumahan berbasis potensi lokal mampu bertahan dan bersaing di tengah berbagai keterbatasan. Ke depan, Nilawati berharap usahanya dapat terus berkembang, menjangkau pasar yang lebih luas, dan menjadi inspirasi bagi pelaku usaha kecil lainnya di pedesaan Kutai Kartanegara. []\n<p style=\"text-align: justify\">Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA \u2013 Di tengah keterbatasan akses industri besar di wilayah pedesaan, usaha rumahan Kerupuk Ikan Gabus \u201cMonika\u201d milik Nilawati di Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus bertahan dan berkembang sejak dirintis pada 2010. Dengan mengandalkan bahan baku lokal yang diambil langsung dari sungai, usaha ini menjadi contoh ketahanan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":44,"featured_media":166029,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,33],"tags":[14645,7249],"class_list":["post-165989","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-kartanegara","tag-kerupuk-ikan-gabus-monika","tag-umkm-kukar"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/165989","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/44"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=165989"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/165989\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":166052,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/165989\/revisions\/166052"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/166029"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=165989"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=165989"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=165989"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}